Pages

BUAH CINTA MELAWAN CORONA



Akhir-akhir ini banyak orang disibukkan sebuah benda super kecil bernama Corona. Bukan helaan napas lega karena pertemuan yang tidak disangka, yang terjadi justru napas sesak siap menyeretnya ke ambang kematian. Sebuah virus baru, Covid-19 nama beken dari Corona ternyata sudah menjadi primadona berita dan dunia digoncang kehadirannya.

Seketika semua kegiatan terhenti, alasan karena hadirnya. Padahal banyak hal yang mestinya menjadi agenda yang tersusun rapi cepat dijalankan, ternyata harus menyerah menyambut datangnya. Corona telah mendunia, desa dan kota semua tak luput sangat mengenalnya. Eiit, jangan salah tafsir tentang Corona, dia bukan gadis cantik berambut pirang yang memberimu senyum dan membuat hatimu berdesir senang, sekali lagi jangan salah sangka. Ini virus yang siap membawa nyawa melayang. Lihat saja di jalanan tiba-tiba banyak mulut tertutup kain, alasan utama adalah Corona.

Yang paling memillukan adalah anak-anak, buah hati kita. Meskipun kita tidak ikut melahirkan, karena kita terlibat dalam pengasuhan pendidikannya, maka sangat berhak mereka juga kita sebut buah cinta kita. Sudah sekian lama mereka merengek merajuk ingin duduk lagi di bangku sekolah, memang tidak bisa dipungkiri senda gurau mereka selalu membuat kita kangen mereka.

Alhasil banyak metode guru yang dipakai demi ingi bertemu dengan Sang buah cinta ini. Berbagai layanan belajar daringpun bermunculan layaknya jamur di musim hujan. Bagi seorang guru mendidik tidak bisa terbatas tempat dan waktu, selalu ada sela untuk mencolek manja keberadaan mereka. Anak-anak tetap haris dilayani pendidikannya.

Sebuah fakta terpampang di mata. Kenyataannya anak-anak lebih kuat ketika mengahadapi virus ini, coba saja mana ada wajah ketakutan terbersit dari wajah mereka. Ketidaktahuan dan bisa saja ketidak fahaman mereka tentang virus ini, mungkin salah satu penyebab mereka begitu enjoy melakoni hidup tanpa terlalu terbebani dengan berbagai pemberitaan.

Kita orang tua yang memiliki tanggung jawab mengamankan anak-anak. Cobalah berpikir dari sisi lain, benar mereka tenang seperti itu karena ketidak tahuan mereka, tetapi yang perlu kita ambil pelajaran dari dunia anak ini adalah janganlah kita terlalu panik menghadapi suatu masalah. Hadapilah segala sesuatu sesuai dengan petunjuk dari para ahli. 

Mari kita rubah kepanikan ini dengan melakukan distancing yang tepat guna dan tepat sasaran. Kreatifitas seorang guru tidak terbelenggu oleh distancing keadaan.Semangatlah untuk guru Indonesia, semoga Corona segera enyah dari pandangan mata.(Viva)


Teleconference Ketua Pokjawas Kankemenag Kab. Banyuwangi Dalam Pemantauan WHF


Kegiatan pemantauan Pengawas Madrasah pada Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi  terhadap pelaksanaan Penilaian Tengah Ssemester BKS On Line untuk kelas VII dan VIII. dan  pelaksanaan UMBKS OnLine kelas IX di Madrasah tsnawiyah Negeri (MTsN) 4 Banyuwangi yang berlokasi di Desa Sumberberas Kecamatan Muncar dilaksanaan secara online melalui Teleconference..
H. Juhdi yang juga menjabat sebagai Ketua Pengawas pada Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi menyampaikan terima kasih atas dedikasi yang luar biasa bagi guru dan Kepala MTsN 4 Banyuwangi, serta Tenaga Kependidikan dalam situasi terjadinya wabah pandemi virus corona dimana juga  disibukkan dengan pencegahan Covid-19 tersebut, para guru masih tetap bersemangat melakukan kegiatan pembelajaran bagi peserta didiknya. “tingkatkan kemampuan di era teknologi komunikasi ini untuk anak-anak bangsa” Ungkapnya Pengawas Madrasah yang tahun kemarin menjadi petugas Tim Pembimbing Ibadah Haji Indonesia tesebut juga berpesan agar  anak-anak, selalu waspada dan tidak perlu panic dalam situasi pencegahan penyebaran Covid-19 ini.

Sementara itu Hadi Suwito,  Kepala MTsN 4 Banyuwangi  menyampaikan bahwa kegiatan UMBKS dan PTSBKS On Liine ini didukung oleh seluruh wali kelas yang bertanggung jawab memberdayakan peserta, bahkan bentuk tanggung jawabnya sampai menghubungi dan memantau peserta WA (WhatsApp) atau juga  telephon kepada peserta mau;pun melalui Wali Murid. “yang belum berhasil masuk Aplikasi E-Learning akan dipandu sampai  bisa mengerjakan soal yang di ujikan” ungkapnya.(Juhdy)

MIN 3 Banyuwangi Laksanakan Ujian Madrasah Daring


Sejumlah 52 siswa Madrasah Ibtidaiyah Negeri 3 Banyuwangi yang berlokasi di Kota Jajag Rabu (1/04) melaksanakan Ujian Madrasah yang berbedapelaksanaanya dibandinkan tahun sebelumnya, dimana pada tahun ini dilaksanakan di tengah mewabahnya Corona Virus Disease 19  atau COVID-19. Ujian yang yang sedianya akan dilaksanakan pada tanggal 13 April 2020 untuk mata pelajaran rumpun Agama dan 4 Mei 2020 untuk mata pelajaran umum dimajukan pelaksanaannya menjadi 1 April 2020 sampai dengan 7 April 2020.
Kepala MIN 3 Banyuwangi Mohammad Haris Jaamroni menyampaikan bahwa pelaksanaan Ujian Madrasah di MIN 3 Banyuwangi, dulu bernama MIN Jajag dilaksanakan di rumah masing-masing secara daring atau online dengan menggunakan perangkat android maupun laptop. “Dua mata pelajaran yang diberikan kepada peserta didik untuk dikerjakan pada hari pertama ini adalah mata pelajaran Al Qur’an Hadist dan Akidah Akhlak” Ungkapnya.

Menurut suami Indah Sri Lestari ini, Para peserta didik sangat antusias mengerjakan soal ujian, hal ini terlihat pada beberapa photo yang sengaja diambil oleh orang tua masing-masing yang kemudian dikirimkan kepada Pengawas ujian yang mengawasi pelaksanaan ujian juga dari rumah masing masing, dikarenakan seluruh ASN Kementerian Agama bekerja dari rumah atau (WFH)  Work From Home. “Ada yang mengerjakan soal ujian dilakukan sembari berjemur di halaman rumah”, kata Katsujati  guru yang diberi tugas untuk menjadi pengawas ujian tersebut.
Kepala MIN 3 Banyuwangi memantau pelaksanaan Ujian Madrasah juga mengginakan media online. “moda ujian pada tahun ini tidak jauh berbeda dengan tahun lalu yakni berbasis laptop dan android, hanya tempat pelaksanaannya saja yang berbeda, kalau dulu pelaksanaannya di Madrasah, tahun ini karena adanya pandemi Covid 19 dilaksanakan di rumah masing-masing peserta didik” ungkapnya. Lebih Lanjut Haris Jamroni menyampaikan bahwa sesuai juknis terbaru bahwa jadwal Ujian Madrasah pada jenjang MI, MTs, MA ditentukan oleh masing-masing satuan pendidikan dengan memperhatikan pada POS Ujian Madrasah.(Haris)

Merawat Jenazah Covid-19


Tangan serasa pucat gemetaran, ketika tangan lentik perawat perlahan memegangnya. Saya tak sanggung memandang wajahnya, meski senyum manis menghias bibirnya. Namun harus terpaksa diam diam saya terus menangkap senyum manis tersebut. Tangan lembutnya memegang benda bulat lancip yang takkan terlupakan bagaimana untuk perta kali merasakannya, getaran hati yang semakin kencang tak terpeduikan, hingga keluar darah dari jari. Bukan tusukannya yang membuat hati bergetar, namun menunggu kepastian hasil itulah yang membuat kita waswas.
Saya pernah mengalami dimana saya harus melakukan Tes diri terhadap penyakit menular berbahaya.saya pernah merasakan ketegangannya, dimana nomor antrian serasa lama untuk segara tahu hasilnya. Begitu juga ketika menjalani pemeriksaan dimana harus diambil darah dari jari kita. Mungkin perawat yang sedang mengambil darah tersebut memaklumi. Jika perasaan waswas dari yang sedang tes tersebut, karena penyakit menular berbahaya tersebut.
Saya pernah mengikuti workshop tentang bagaimana memandikan jenazah yang terjangkit penyakit HIV AIDS dimana virus ini dapat menular melalui cairan yang ada dalam tubuh manusia, sehingga jika memandikan jenazah yang terjangkit AIDS, maka yang memandikan tidak boleh ikut terkena air, karena rentan tertular virus yang sampai sekarang belum ada obatnya tersebut. Bisa dimaklumi jika perawatan jenazah tersebut dilakukan di Rumah Sakit dimana peralatannya memadai, dimana di Rumah Sakit sang pemandi Jenazah sudah disiapkan peralatannya, sehingga nyaris tak tersentuh air ketika memandikan jenazah.
Ketika ada Jenazah terjangkit penyakit menular berbahaya, seperti HIV-AIDS maupun Covid-10, kita harus memberikan edukasi kepada masyarakat tentang bagaimana cara memandikan jenazah tersebut yang berbeda dari biasanya. Meskipun kadangkala masyarakat ngeyel dan menganggap bahwa orang yang sudah meninggal tidak akan menularkan penyakit dan harus dirawat sesuai tuntunan sunnah seperti biasanya, namun kita mesti memberikan pengertian tersebut agar virus pada jenazah tidak menular pada yang masih hidup.
Pengalaman memandikan Jenazah terjangkit HIV-AIDS merupakan pengalaman sangat berharga, terlebih dengan peralatan seadanya dimana dengan peralatan tersebut (sepatu boat dan jas hujan) kita sudah dapat memandikan jenazah tanpa harus terkena air. Meski naas yang pernah saya alami dimana setelah memandikan jenazah tersebut saya terpeleset dan masuk ke kubangan pembuangan pemandian jenazah, yang membuat saya harus menjalani tes HIV-AIDS. Dan bersyukur dari kejadian tersebut saya tidak apa apa, tes menyebutkan bahwa saya negatif dari penyakit menular berbahaya tersebut.
Penyebaran Covid-19 (coronavirus disease that was discovered in 2019). Artinya, penyakit virus corona yang ditemukan pada 2019, sangat berbeda dengan HIV-AIDS, dimana penyebaran Covid-19 ini bukan hanya melalui cairan yang ada dalam tubuh penderita, namun juga dapat menempel pada benda yang pernah terpegang oleh penderita. Karenanya penanganan jenazah pada penderita Covid-19 jauh lebih ektra dibandingkan dengan jenazah terjangkit HIV-AIDS.
Majelis Ulama Indonesia sebagaimana Fatwa Nomor 14 Tahun 2020 menyatakan "Pengurusan jenazah (tajhiz al-jana'uz) yang terpapar covid-19, terutama dalam memandikan dan mengafani harus dilakukan sesuai protokol medis dan dilakukan oleh pihak yang berwenang, dengan tetap memperhatikan ketentuan syari'at. Sedangkan untuk menyalatkan dan menguburkannya dilakukan sebagaimana biasa dengan tetap menjaga agar tidak terpapar covid-19". Karenanya pemahaman kepada masyarakat tentang bagaimana memperlakukan jenazah terjangkit Covid-19, sehingga perlakuan konyol dalam penanganan jenazah terjangkt Covid-19 yang mengakibatkan tertularnya virus tersebut kebanyak orang dapat dihindari.
Kisah keluarga dan masyarakat yang memaksa melakukan ritual perawatan jenazah secara umum terhadap salah satu keluarganya yang meninggal akibat terkena corona, dimana jenazah ini sudah dimandikan sesuai dengan protap yang sudah ditetapkan dalam rangka pencegahan penyebaran virus covid-19. Namun karena kurangnya pemahaman keluarga terhadap dampak penyebaran covid-19, mereka memaksa membawa jenazah tersebut dan merawat sebagaimana jenazah biasa pada umumnya yang berakibat merebaknya virus tersebut terhadap semua yang terlibat terhadap perawatan jenazah tersebut.
          Edukasi kepada masyarakar terkait wabah Virus Covid-19 harus dilakukan secara berkesinambungan, terlebih pada masyarakat awam yang kurang memahami tentang penyebaran virus tersebut dan bahayanya bagi kehidupan, terlebih melalui jalur keagamaan. Hal ini perlu dilakukan dengan mengingat jalur keagamaan sangat penting karena jalur ini lebih udah diterima oleh masyarakat. Dan yang lebih penting adalah memberikan pemahaman terhadap tokoh aagam lokal yang setiap hari berinteraksi dan diikuti petuahnya oleh masyarakat setempat.
Pemahaman yang kurang komprehensif terhadap penyebaran terhadap virus berbahaya dan memperlakukan orang yang terjangkit terhadap virus tersebut sangat diperlukan, hal ini sangat diperlukan agar tidak salah dalam memperlakukan orang yang terjangkit virus berbahaya serta orang orang yang pekerjaannya berkaitan dengan pendampingan dan pengobatan terhadap orang yang terjangkit virus menular berbahaya tersebut.
Ibnu Sina yang juga dikenal dengan nama Avicenna, seorang dokter / ilmuwan kelahiran Persia (sekarang Iran) menyatakan bahwa kecemasan pada kematian merupakan inti dari semua penyakit mental seperti depresi,fobia kesedihan dan sebagainya,menurutnya dibutuhkan terapi religio–education untuk mengurangi kecemasan tersebut. Pemikiran Ibnu Sina ini sesuai dengan terori Kognitif Behavioristik yakni untuk mengatasi kecemasan dengan melakukan restrukturisasi pemahaman intelektual.

Kita memasuki era digital dimana informasi dengan mudah dapat secara cepat diakses oleh masyarakat, yang seringkali tanpa filter, sehingga semua informasi dapat diterima begitu saja.karenanya memberikan informasi yang akurat kepada masyarakat sangat diperlukan agar tidak terjadi lagi kesalahan dalam bersikap menghadapi mewabahnya Covid-19.tentang bagaimana menghadapi wabah tersebut agar tidak merebak ke masyarakat, serta bagaimana orang yang terkena virus tersebut segera sembuh serta bagaimana kita tidak saling menularkanvirus yang tak nampak tersebut*
Semoga wabah ini segera berakhir Amin.

Teleconfrence Simulasi UNBK Online MTsN 4 Banyuwangi


Teleconfrence Simulasi UNBK Online MTsN 4 Banyuwangi

Ditengah mewabahnya Virus Corona, MTsN 4 Banyuwangi yang berada di Desa Sumberberas Kecamatan Muncar  melaksanakan simulasi UMBK berbasis online senin (3/1). Kepala MTsN 5 Banyuwangi Hadi Suwito menyampaikan bahwaTercatat keberhasilan mencapai 95% dari 302 peserta , sehingga masih terdapat 15 peserta yang belum berhasil mengikuti simulasi. Pimpinan mengambil langkah dengan melaksanakan  video konferensi dalam upaya mencari solusi terbaik bagi peserta yang masih terkendala”ungkapnya.  Dalam Pelaksanaannya, Kepala MTsN 4 Banyuwangi menggunakan Teleconfrence untuk memantau kegiatan yang dilaksanakan oleh panitia.
Dari laporan wali kelas diperoleh data bahwa, 5 anak tidak memiliki HP,  4 anak tinggal di pesantren yang tidak boleh bawa HP, dan 6 anak tidak memiliki paket data. Para wali kelas melakukan penelusuran dengan berkoordinasi dengan wali murid, bahwa yang tidak memiliki HP mendapatkan pinjaman dari saudaranya sehingga pada saat pelaksanaan UMBN online dapat mengikuti pada sesi yang yang sudah dijadwalkan, semestara yang dipesantren akan diberikan pendekatan terhadap pengasuh agar diperkenankan membawa HP disaat UNBK dan orang tua akan mengirimkan HP dan di amankan lagi di luar waktu UMBK.

Lebih lanjut Hadi Suwito menyampaikan bahwa Beberapa Wali murid juga mengkhawatirkan penggunaan HP ini hingga tidak membelikan paket data pada anaknya, dengan pendekatan dan pemahaman dari panita maka wali murid akan memb bersedia membelikan paket data secukupnya
Mantan Kepala MTsN 5 Banyuwangi tersebut juga menyampaikan bahwa Simulasi kedua dilaksanakan hari selasa, (31/3) pukul 13.00 akan dilakukan simulasi ulang untuk mata pelajaran yang banyak menampilkan gambar, sebagai uji coba kemampuan signal HP peserta menerima paket soal, karena terindikasi masih ada kendala untuk soal yang banyak memuat gambar (Hadi s)









Corona, Lockdown dan E-Learning


            Upaya yang dilaksanakan dalam rangka pencegahan penyebaran wabah corona juga dilakukan dengan meliburkan kegiatan belajar mengajar pada sekolah.hal ini dilakukan sebagai salah satu pencegahan terhadap penyebaran virus yang tidak tampak tersebut. Diliburkannya sekolah dan minimalisir kegiatan yang melibatkan banyak orang bukanlah perwujudan dari rasa ketakutan terhadap takdir, namun sebagai salah satu upaya manusia dimana diberi pilihan untuk memilih mencari yang terbaik demi kemaslahatan bersama.
            Pencegahan tersebut bukan berarti kita menghentikan semua kegiatan dan aktifitas, terlebih bagi siswa yang masih dapat dilakukan kegiatan belajar mengajar meskipun tidak dilakukan dengan melakukan pertemuan dalam kelas.

Pada zaman dulu, Istilah belajar dirumah diharapkan siswa belajar sendiri dengan membaca buku dan (jika ada) dapat mengerjakan PR (Pekerjaan Rumah) yang diberikan oleh guru. Meskippun pada kenyataannya sangat jarang bagi siswa ketika diberikan kegiatan belajar dirumah, mereka membaca buku pelajaran.
Di Era digital saat ini, dimana pembelajaran dapat dilakukan secara langsung meskipun tidak ada pertemuan secara langsung dengan memanfaatkan jaringan internet. Teknologi memiliki efek yang sangat besar pada hampir semua segi kehidupan kita, salah satunya di bidang pendidikan Selama beberapa tahun terakhir, E-Learning telah berkembang dengan cepat berkat manfaatnya yang luar biasa bagi para siswa dan tenaga pendidik, terutama pada sekolah diperkotaan.
E-learning adalah sebuah proses pembelajaran yang berbasis elektronik. Salah satu media yang digunakan adalah jaringan komputer. Dengan dikembangkannya di jaringan komputer memungkinkan untuk dikembangkan dalam bentuk berbasis web, sehingga kemudian dikembangkan ke jaringan komputer yang lebih luas yaitu internet. Penyajian e-learning berbasis web ini bisa menjadi lebih interaktif. Sistem e-learning ini tidak memiliki batasan akses, inilah yang memungkinkan perkuliahan bisa dilakukan lebih banyak waktu (Nugroho, 2007).
Kondisi yang mengakibatkan siswa belajar dirumah seperti ketika dilakukan Lockdown dalam rangka pencegahan penularan virus seperti saat ini dapat dilakukan dengan afektif dengan memanfaatkan E-Learning, baik materi pembelajaran maupun pengerjaan Ulangan harian. Dimana guru dapat memberikan soal soal secara online kepada siswanya. Penerapan ini dapat dilakukan mulai tingkat dasar hingga tingkat lanjut.
Pembelajaran berbasis online tersebut pada jenjang tingkat dasar dapat dilakukan dengan memanfaatkan android milik orang tua, sehingga orang tua dapat mengontrol penggunaan android tersebut sesuai dengan kebutuhan pembelajaran. Karenanya memberikan pemahaman terhadap orang tua tentang penggunaan media internet secara positif dapat dilakukan untuk mengurangi dampak negatif yang ditimbulkan bagi anak anak dalam memanfaatkan media internet.
Banyak aplikasi yang dapat digunakan untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran dirumah dengan pemantauan guru, sehingga siswa yang sedang melaksanakan kegiatan belajar dirumah tersebut benar benar melaksanakan pembelajaran dirumah dan dipantau oleh guru dan orang tua. Baik melalui android maupun menggunakan laptop.
Pemantauan anak dalam pembelajaran sangat diperlukan bukan hanya agar anak anak tidak tertinggal dalam pembelajaran, namun juga sebagai salah satu kegiatan didalam rumah sehingga anak dapat melakukan kegiatan ketika lockdown dalam rangka pencegahan penyebaran corona, dengan mengingat bahwa tujuan pembelajaran dirumah tersebut agar anak anak dapat berkumul dengan keluarga dan tidak banyak melakukan kegiatan diluar rumah.
Persoalan yang muncul adalah belum semua sekolah sudah menerapkan e-learning, sehingga ketika secara tiba tiba dilaksanakan pembelajaran dirumah dengan menggunakan aplikasi ini sekolah belum siap untuk melaksanakannya. Hal ini disebabkan kurangnya sosialisasi terhadap penggunaan e-learning ini dikalangan sekolah, terutama ditingkat dasar. Bahkan ada beberapa sekolah yang mengganggap penggunakan pembelajaran secara online tersebut lebih banyak mudlorotnya dibandingkan dengan segi manfaatnya.
Saat ini disamping aplikasi yang dilakukan secara mandiri oleh lembaga pendidikan, ada beberapa aplikasi e-learning yang sudah disiapkan oleh kementerian yang membidangi pendidikan, begitu juga dengan aplikasi pihak ketiga yang dapat digunakan untuk media pembelajaran secara online, sehingga guru dapat memberikan pembelajaran dan memberikan ujian kepada para siswanya, terutama ketika terjadi kondisi dimana tidak ada pertemuan secara langsung antara siswa dan guru.

Kursus Mahir Dasar Pramuka



            Ketika ada permasalahan terkait dengan kegiatan Gerakan Pramuka, terlebih jika dalam kegitan tersebut terjadi adanya korban jiwa, selalu muncul desakan agar kegiatan ekstra wajib di sekolah tersebut dihentikan, terlebih bagi mereka yang (maaf) tidak memahami arti kegiatan gerakan pramuka tersebut bagi peserta didik. Beberapa diantaranya bahkan menganggap kegiatan tersebut hanya membuang waktu dan energy saja, karena dianggap hanya kegiatan main main yang tidak ada gunanya.
            Beberapa waktu yang lalu saya terlibat sebagai salah satu panitia Kursus Mahir dimana dalam kegiatan tersebut untuk mempersiapkan Pembina Pramuka yang handal dan mampu menjadi Pembina Pramuka yang baik sesuai dengan tujuan dari gerakan Pramuka itu sendiri, dimana dalam Kursus Mahir yang diawali dengan Kursus Mahir Dasar (KMD) para peserta yang terdiri dari Para Guru yang dipersiapkan sebagai Pembina Pramuka tersebut langsung praktek dalam kegiatan, sehingga faham betul dengan semua kegiatan yang juga akan diterapkan pada siswa sesuai dengan jenjangnya.
            Ketika mendengar berita negatif tentang Gerakan Pramuka, saya jadi berprasangka bahwa para Pembina yang melakukan tindakan yang diduga tidak lazim dalam kegiatan gerakan Pramuka tersebut belum lulus KMD. Karena sebagaimana yang saya ketahui dari yang saya ikuti bahwa untuk mempersiapkan seseorang menjadi Pembina Pramuka membutuhkan proses yang tidak instan,  kemampuannya harus benar benar teruji agar dapat membentuk kepribadian yang mandiri yang memegang teguh satya.
            Dalam Gerakan pramuka sebagai penyelenggara pendidikan kepanduan di Indonesia yang merupakan bagian pendidikan nasional, Pendidikan kepramukaan merupakan salah satu pendidikan nonformal yang menjadi wadah pengembangan potensi diri serta memiliki akhlak mulia, pengendalian diri, dan kecakapan hidup untuk melahirkan kader penerus perjuangan bangsa dan negara. Di samping itu, pendidikan kepramukaan yang diselenggarakan oleh organisasi gerakan pramuka merupakan wadah pemenuhan hak warga negara untuk berserikat dan mendapatkan pendidikan sebagaimana tercantum dalam Pasal 28, Pasal 28C, dan Pasal 31 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Gerakan Pramuka bertujuan untuk membina kaum muda dalam mencapai sepenuhnya potensi-potensi spiritual, sosial, intelektual dan fisiknya. Gerakan ini terwujud dalam: Membentuk Kepribadian dan akhlak mulia kaum muda, menanaman semangat kebangsaan, cinta tanah ait dan bela negara bagi kaum muda. Meningkatkan keterampilan kaum muda sehingga siap menjadi anggota masyarakat yang bermanfaat, patriot dan pejuang yang tangguh, serta menjadi calon pemimpin bangsa yang handal pada masa depan.
            Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2010 tentang Gerakan Pramuka disusun dengan maksud untuk menghidupkan dan menggerakkan kembali semangat perjuangan yang dijiwai nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan masyarakat yang beraneka ragam dan demokratis. Undang-undang ini menjadi dasar hukum bagi semua komponen bangsa dalam penyelenggaraan pendidikan kepramukaan yang bersifat mandiri, sukarela, dan nonpolitis dengan semangat Bhineka Tunggal Ika untuk mempertahankan kesatuan dan persatuan bangsa dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

            Beberapa Fakultas Pendidikan pada Perguruan tinggi mewajibkan bagi Mahasiswa untuk mengikuti Kursus Mahir Dasar (KMD) sebagai salah satu sarat pengambilan Ijazah. Meskipun Kepramukaan tidak termasuk dalam materi yang wajib dikuti dalam perkuliahan, namun dengan adanya persaratan mengikuti KMD tersebut sebagai salah satu upaya menyiapkan para calon pendidik memahami dasar dasar gerakan Pramuka, sehingga ketika calon pendidik tersebut nantinya menjadi Pembina Pramuka, akan menjadi Pembina Pramuka yang baik dan akan terhindar dari cara cara membina Pramuka yang tidak mendidik.
            Ada beberapa persaratan untuk dapatnya menjadi Pembina Pramuka, selain usia yang sudah dianggap dewasa, ada ikrar yang harus diucapkan oleh calon Pembina Pramuka melalui Kursus Mahir Dasar (KMD) maupun Kursus Mahir Lanjutan (KML) yang diselenggarakan oleh Pusat pendidikan dan Pengembangan Kwartir Cabang (Pusdiklatcab), Kwartir Daerah maupun Kwartir Pusat dengan mengucapkan Tri Satya dan menanda tangani Ikrar. Hal ini dimaksudkan karena Gerakan Pramuka menyangkut Karakter Generasi bangsa, sehingga diperlukan sarat sarat tertentu untuk menjadi Pembina Pramuka.

            Saya bukanlah seorang Guru di lembaga Pendidikan, meskipun beberapa saat yang lalu juga berkecimpung di dunia tenaga kependidikan. Saya menyadari bahwa belum semua Pembina Pramuka membunyai sertifikat sebagai Pembina Pramuka. Beberapa diantara sekolah juga memberdayakan Pramuka Penegak untuk membantu membina Pramuka ditingkat Siaga maupun Penggalang, yang semestinya juga didampingi oleh Pembina yang telah memenuhi kwalifikasi.

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger