Pages

MAN 2 Banyuwangi Masuk babak Final Teens Choir Competition 2019



Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Banyuwangi mengikuti Teens Choir Competition 2019 yg di adakan oleh Kapolres Banyuwangi. kegiatan ini di ikuti oleh 51 grup setingkat SMA,MA,SMK Sederajat. kegiatan ini dilaksanakan selama 2 hari untuk babak penyisihan.dan MAN 2 Banyuwangi yang berada di Kecamatan Genteng memberangkatkan 30 orang siswanya dan 2 orang pendamping.Jumat (18/10) kemarin perlombaan di mulai dengan nomor urut peserta 1-24 dan pada hari kedua Sabtu (19/10) dengan nomor urut 24-51. MAN 2 Banyuwangi mengangkat lagu yang berjudul luk luk lumbu dan yamko rambe yamko dan untuk persiapan lomba ini selama 1 bulan lebih.dan lomba ini mengangkat dari konflik yg terjadi di papua yang bertujuan untuk mewujudkan simpati dari semua kalangan pendidikan di tingkat SLTA. dalam lomba ini yang di lombakan yaitu mulai dari artikulasi,harmoni,koreo,busana dan kekompakan.dan tiap kategori memiliki nilai tersendiri.
Semoga wawasan para siswa siswi dapat lebih luas lagi dalam wawasan paduan suara.dan menambah pengalaman lagi dari segi kompetisi yg di ikuti.dan alhamdulilah para siswa siswi sudah dapat menampilkan penampilan yg sangat maksimal.semoga pengalaman ini dapat bermanfaat bagi semuanya.ujar diah paramita selaku guru pelatih
“Saya saat perjalan mengikuti lomba sangat gerogi dan sangat gugup.namun saya dan teman-teman sudah di motifasi oleh guru pelatih dan pendamping kalau kita harus menunjukan yg terbaik.karna kami sudah di yakini bisa oleh sebab itu kami yakin akan keberhasilan yg kami dapat” ujar nova duwi selaku peserta
Pada kesempatan tersebut MAN 2 Banyuwangi sebagai satu satunya MNadrasah aliyah yang berhasil masuk ke babak final bersama 10 terbaik lainnya. Kepala MAN 2 Banyuwangi Moh. Anwar berharap Tim dari MAN 2 Banyuwangi menjadi juara.(Difari)

Laayanan Cepat PTSP Kemenag Kab. Banyuwangi


“Waktu terbaik adalah sekarang, Teman terbaik yang bersama kita”.  Kata bijak tersebut sangat tepat ketika di Kantor kami telah tersedia PTSP, Pelayanan Terpadu Satu Pintu di Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi. Pemberkasan pencairan Tunjangan Profesi Guru sudah dapat dilakukan, dan pada awal September, pemberkasan dilakukan untuk dua bulan terhutang, yakni bulan Juli dan Bulan Agustus. Hal ini dilakukan dengan mengingat generate simpatika dilakukan mulai bulan Agustus, sehingga SKAKPT bulan Juli juga terbit pada awal September.
Ada 2.080 Guru yang berhak mendapatkan sertifikasi, baik PNS maupun non PNS, belum lagi yang belum PNS yang berhak mengajukan Insentif GBPNS, karenanya kami harus mencari cara bagaimana pemberkasan tersebut dapat dilakukan dengan cepat dengan kondisi team kerja kami di Seksi Pendidikan Madrasah hanyalah 4 orang. Sementara lembaga yang menjadi binaan ada 136 Raudlatul Athfal, 263 Madrasah Ibtidaiyah, 120 Madrasah Tsanawiyah serta 72 Madrasah Aliyah. Bisa dibayangkan ketika kami harus memproses pencairan BOP dan memverifikasi penggunaannya dari RA yang berhak mendapatkan BOP tersebut, juga pencairan dana BOS dari 455 Madrasah tersebut.

Focus group discussion (FGD) Bapenas di Kemenag Kab. Banyuwangi


Dalam rangka serap aspirasi menjelang pengesahan Rencana Pembangunan Jangka Menengah nasional (RPJMN) bidang Pendidikan dan Agama, Direktorat Direktorat Agama dan Pendidikan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS) mengadakan Diskusi Terpumpun (Focus group discussion /FGD, berkaitann dengann perkembangan Pendidikan, terutama Pendidikan Madrasah dan Pendidikan Agama dari semua Agama yang ada di Indonesia. FGD yang dipimpin Suprapto Budi Nugroho, Kasubdit Guru dan Tenaga Kependidikan Direktotrat Direktorat Agama dan Pendidikan tersebut berlangsung di aula atas Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi Hari kamis (17/10) dihadiri oleh para Kasi dilingkungan Kantor kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Penyelenggara Katholik serta Pengawas madrasag dan Pengawas Pendidikan Agama.
SDalam sambutannya Suciningsih, Kepala Sub bagian tata Usaha kantor kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi mewakili Kepala Kantor kementerian Agama yang sedang mendampingi Direktur Pendidikan dan Agama di MAN 1 Banyuwangi, menyambut baik kehadiran Bappenas di Kemenag Kabupaten Banyuwangi. Mantan Kepala MAN Srono ini berharap hasil Diskusi terpumpun yang diselenggaran diwilayah paling timur pulau jawa ini dapat memberikan kontribusi bagi perencanaan pembangunan di Indonesia, terutama bidang Pendidikan dan Agama.

Kasubdit GTK Direktorat Agama dan Pendididikan Bappensa, Suprapto Budi Nugrono menyampaikan paparan dari Direktur Agama dan Pendidikan bappenas Amrih Alhumami, Phd, dimana Direktorat Agama dan Pendidikan mempunyai tugas melaksanakan penyiapan perumusan kebijakan, koordinasi, sinkronisasi pelaksanaan penyusunan dan evaluasi perencanaan pembangunan nasional di bidang agama dan pendidikan, serta pemantauan dan penilaian atas pelaksanaannya. Dalam kesempatan tersebut Suprapto (panggiklan akrabnya) menyampaikan bahwa diskusi ini focus pada Peningkatan Kompetensi Guru, dan dana keagamaan, karenanya disamping diskusi tersebut diikuti para pengawas pendidikan dari semua agama, juga menghadirkan pengurus BAZNAS Kabupaten Banyuwangi. “Guru prosefional secara harfiah sudah jelas, yakni Pendidikan minilam D.IV/S.1, bersertifikat pendidik, namun yang lebih penting adalag guru tersebut benar benar mempunyai kompetensi dalam melaksanakan kinerja” ungkapnya.
Sementara itu Jaja Zarkasiy, dari Direktorat Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama menyambut baik perkambangan dan cara distribusi BAZNAS Kabupaten Banyuwangi yang juga dipergunakan untuk bea siswa bagi siswa berprestasi yang tidak mampu melanjutkan kuliah, Jaja Zakrasi yang didampingi Ihsan bayu Merdeka, Kepala Subbagian Perencanaan dan Anggaran Bagian Perencanaan Sekretariat Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama menyampaikan bahwa Kementerian Agama dengan semua perangkapnya akan ikut melaksanakan kegiatan dalam rangka peningkatan mutu pendidikan, baik formal, informal maupun informal. :ada Penyuluh Agama yang selalu memberikan penyuluhan pada kelompok pengajian dan majelis taklim” ungkapnya.

MAN 4 BANYUWANGI RAIH DOUBLE WINNER DENGAN JUARA 2 FAHMIL QUR’AN DI UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG DAN JUARA 1 OLIMPIADE SINAPS FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS JEMBER

MAN 4 BANYUWANGI RAIH DOUBLE WINNER DENGAN JUARA 2 FAHMIL QUR’AN DI UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG DAN JUARA 1 OLIMPIADE SINAPS FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS JEMBER

          MAN 4 Banyuwangi – Juara. Sepanjang tahun 2019 menjadi bukti bahwa MAN 4 Banyuwangi menjadi salah satu Ikatan ikon Madrasah berprestasi di Banyuwangi dengan diraihnya banyak prestasi dalam berbagai kompetisi baik akademik dan non akademik. Di bulan oktober ini dengan lolosnya tim Fahmil Qur’an pada babak penyisihan di ajang GBQ (Gebyar  Brawijaya Qur’ani) tingkat Nasianal yang diselenggarana oleh Universitas Brawijaya mampu membuktikan dan mengukir prestasi di tingkat Nasional.

          Anis Muyasyaroh, M.Pd pembimbing GBQ MAN 4 Banyuwangi yang juga pembimbing GBQ kabupaten mampu menghantarkan Dimas Zeyen Maulana (XI Agama 1), M. Royhan Hibatulloh (Kelas XI IPA 3),  M. Firdaus (Kelas XI IPA 5) menjadi juara di ajang bergensi Kompetisi GBQ tingkat Nasional kategori Fahmil Qur’antara mengungguli seluruh peserta Se Indonesia.
Dalam babak final yang diselenggaran Minggu 13 Oktober 2019, MAN 4 Banyuwangi harus puas di urutan ke 2 setelah kalah skor dengan MA Tebuireng Jombang dalam sesi cerdas cermat. Setelah mendominasi pada sesi babak penyisihan dan babak semi final. Dalam babak final ini kategori fahmil qur’an sebagai Juara 1 dari MA Tebuireng Jombang, Juara 2 dari MAN 4 Banyuwangi dan Juara 3 dari SMA Islam Sabilillah Malang.
          Bersamaan dengan di capain juara 2 pada MTQ kategori Fahmil Qur’an di Universitas Brawijaya Malang, Viana Wulandari (XII IPA 4) dan Amanda Risqiana P (XII IPA 4)  mampu membuktikan dengan mengungguli peserta lain di rayon Banyuwangi dengan menjadi juara 1 pada Olimpiade SINAPS pada hari  minggu 13 Oktober di SMAN 1 Genteng yang diselenggaran Fakultas Kedokteran Universitas Jember. Yang selanjutnya tanggal 26 Oktober 2019 melanjutkan perjuangannya di babak Final. Dengan dicapainya dua prestai ini menunjukkan madarasah termuda di banyuwangi ini mampu mencetak siswa-siswa yang sehat jasmani dan rohani.
          Drs. Mujikan, M.Pd.I selaku Kepala MAN 4 Banyuwangi menyampaikan ucapan terimakasih kepada bapak ibu guru dan siswa-siswa madrasah yang telah berjuang membawa dan mengibarkan nama madrasah di ajang nasional. Kepala ke 7 ini juga bertekat bersama seluruh stake holder membawa madrasah ini menjadi madrasah sejuta prestasi dalang rangka mewujudkan MAN 4 BAnyuwangi Menjadi Mercusuar dari selatan. Bravo MAN 4 Banyuwang. Makin jaya dan berprestasi. (Susanto)

Perkembangan Pesantren di era Modern


Beberapa waktu lalu saya mendampingi peneliti dari Litbang Kementerian Agama yang meneliti budaya literasi madrasah dilingkungan pondok pesantren, dimana penelitian ini dikhususkan bagi pondok pesantren yang mempunyai lembaga pendidikan formal tingkat atas. Beberapa tahun sebelumnya saya juga terlibat sebagai peneliti pembantu dari Litbang Kementerian Agama yang meneliti keberadaan dan keberlangsungan pondok pesantren yang ada di Indonesia, dimana hasil penelitian tersebut dipergunakan sebagai bahan pengambilan kebijakan pemerintah dan penyusunan rancangan Undang Undang pondok Pesantren.
Dari quisioner yang kami sampaikan di beberapa pesantren di Banyuwangi yang dipilih secara random didasarkan pada bentuk dan model pendidikan yang dilakukan pada pesantren tersebut, sebagian besar pesantren tradisional, (sebutan dari pesantren lama) yang masih bertahan dan berkembang adalah pondok pesantren yang juga mempunyai lembaga pendidikan formal. Beberapa pondok pesantren yang tidak menerapkan pendidikan formal didalamnya juga masih ada yang bertahan dan berkembang, namun ada juga yang dianggap mati suri karena pesantren yang pernah mengalami kejayaan dimasanya tersebut kini seakan hidup tanpa santri.

Dari perkembangannya pondok pesantren dibagi menjadi menjadi dua, yakni pondok pesantren salaf dan pondok pesantren modern, dimana pondok pesantren sebagai salah satu lembaga pendidikan tertua di Indonesia dalam perkembangan awalnya semuanya merupakan pondok pesantren salaf atau salafiyah, yakni pondok pesantren yang mengkaji “kitab kitab kuning”. Dengan perkembangan zaman pondok pesantren ini ada yang masih tetap bertahan dengan sistim pengajaran kitab kuning murni dengan sistem “bandongan”, yakni proses transver keilmuan yang dilakukan dengan cara seorang ustad membacakan kitab dan menterjemahkan sedemikian rupa sehingga para santri yang menyimak dengan kitabnya masing masing mudah mengetahui baik arti maupun fungsi kata dalam suatu rangkaian kalimat dalam kitab kuning yang diajarkan tersebut. Pada quisioner yang kami berikan, juga didata kitab kitab yang diajarkan pada pesantren tersebut, dimana kitab kitab tersebut mengajarkan mulai dari kitab dasar sampai dengan kitab yang bermuatan tinggi dimana pengkajiannya semakin detail.
Sebagian besar pondok pesantren ini dalam perkembangannya, juga membuka lembaga pendidikan formal, sehingga santri disamping belajar kitab di pesantren juga sekolah pada pendidikan formal. Dimana pendidikan formal yang dimiliki pondok pesantren ini bukan hanya menampung para santri yang ada di pesantren, namun juga menerima siswa dari luar pesantren dan tidak harus mondok atau belajar di pesantren. Sedangkan Pondok pesantren modern memadukan pendidikan ala pesantren dengan pendidikan formal, dimana dalam pondok pesantren modern ini semua santri belajar pada pendidikan formal yang ada di pesantren, dan harus menginap dan mengikuti semua kegiatan yang ada di pesantren, kalender pendidikan yang ada di pesantren mengikuti kalender pendidikan yang diterbitkan oleh pemerintah.
Ketika saya mendampingi penelitian Literasi pada Madrasah dilingkungan Pondok Pesantren, sesuai dengan perkembangan zaman di era digital, pemanfaatan tehnologi juga berlaku dipesantren, dimana di beberapa pesantren yang diteliti, meskipun semua pesantren melarang penggunaan Handphone kepada santrinya, namun pada saat tertentu mereka diperbolehkan menggunakan saluran internet untuk keperluan pendidikan dan pengembangan keilmuwan, dimana dalam pesantren ini disediakan ruang laboratorium khusus sehingga penggunaan komputer dapat terpantau.
Dulu sebelum marak menggunaan komputer dan era digital, di pesantren biasanya dipampang surat kabar pada media dinding, sehingga para santri dapat membacanya setiap hari. Hal ini dilakukan agar para santri tidak ketinggalan informasi. Dengan perkembangan tehnologi dimana kitab kitab sudah banyak yang diterbitkan secara digital, akan memudahkan dalam mempelajari kitab kitab tersebut secara terarah, karena tujuan dari pesantren adalah menyiapkan generasi unggul yang santun.
Pondok Pesantren adalah asrama pendidikan traddisional dimana pesantren pengertian dasarnya adalah tempat belajarnya para santri,dimana kata santri ini dari beberapa sumber dinyatakan berasal dari bahasa sangsekerta atau jawa kuno yakni Cantrik yang artinya orang yang selalu mengikuti gurunya, sedangkan Pondok berasal dari bahasa arab Funduq yang berarti asrama atau hotel. Istilah lain yang digunakan Untuk Pesantren adalah mahad, dimana saat ini beberapa perguruan tinggi terutama dibawah naungan atau binaan Kementerian Agama juga menyediakan fasilitas mahad ini untuk mahasiswanya, begitupun dengan beberapa Madrasah, sehingga jika sebelumnya ada Pondok Pesantren atau mahad yang mempunyai Madrasah atau Sekolah, saat ini ada Madrasah atau Sekolah yang mempunyai Pondok Pesantren atau mahad.
Adanya tren sekolah yang dilengkapi dengan Mahad atau pesantren ini sebagai salah satu bukti bahwa pendidikan sistim pesantren sebagai salah satu pilihan dalam sistim pendidikan di Indonesia yang mampu menciptakan pendidikan unggul dengan karakter khusus keagamaan yang kuat sebagaimana diamanahkan oleh undang undang. Beberapa perguruan tinggi terkemuka juga melirik lulusan pesantren dengan jalur khusus istimewa masuk perguruan tinggi tersebut. Saat ini lulusan pesantren bukan hanya meluluskan ahli agama, namun juga disiplin ilmu lainnya yang dikenal dengan istilah ilmu umum.

Ternyata Aku Bukan Santri

Ternyata aku bukanlah seorang santri sebagaimana pernah aku klaim sebelumnya, karena aku belum pernah benar benar mondok sebagaimana orang yang bertahun tahun hidup di pondok pesantren. Sekarang ketika ada yang bertanya “njenengan dulu mondok dimana?” aku tidak berani menjawabnya, karena menurutku jika kurang dali 5 tahun hidup di pesantren, tidak berani mengklaim pernah mondok, apalagi mondok hanya sekedar berpindah tidur, sekolahnya tidak di diniyah, menurutku itu artinya tinggal di pondok pesantren dan bukan mondok.
Dulu aku pernah mengaku sebagai seorang santri, karena saya juga ngaji di lingkungan pondok pesantren, saya juga pernah tidur beberapa tahun di pesantren tersebut, merasakan bagaimana harus “nggendok” bersama dengan cara urunan beras masing masing satu cinkir untuk dinikmati bersama menggunakan talam besar, dan para santri mengelilingi talam tersebut dengan lauk seadanya. Ketika aku bertemu dengan orang orang yang belasan tahun hidup di pesantren, aku tidak berani lagi mengaku sebagai seorang santri, meskipun ketika ngaji kita juga disebut sebagai seorang santri.
Para santri disamping belajar berbagai macam ilmu, terutama ilmu yang berkaitan dengan pengembangan Ilmu Agama, juga dilatih untuk hidup mandiri, terlebih di beberapa pesantrren yanhg  biasanya dipesantren kecil dimana ada santri diwaktu senggang juga membantu penduduk setempat bekerja dibidang pertanian atau bidang lainnya yang dapat dibantu dengan imbalan makan seadanya, sehingga santri tersebut secara tidak langsung juga belajar beradaptasi dengan lingkungan diluar pesantren, karenanya banyak lulusan pesantren yang langsung bisa mandiri selepas pendidikannya pada salah satu lembaga pendidikan tertua di Indonesia tersebut.
Perkembangan pesantren secara dinamis mengikuti perkembangan kemajuan zaman, bahkan pada sisi tertentu dijadikan rujukan dalam sistim pembelajaran, meskipun ada beberapa kondisi yang tidak ideal sebagai dampak dari keterbatasan infrastrukture yang dimiliki yang berakibat pada pada kondisi sosial yang menyimpang, namun kaum santri mempunyai andil besar dalam pendidikan dan kehidupan sosial bermasyarakat, meskipun pendidikan diniyah belum semuanya dapat disetarakan dengan penddidikan umum bercirikan khusus lainnya.
Satu hal yang menarik dari budaya santri adalah bagaimana kaum santri tersebut menghormati para kiai atau ustad yang mungkin menurut orang diluar pesantren dianggap berlebihan, bahkan memperlakukan kitab atau catatan pribadipun mereka sangat berhati hati dan menghormati, karena berkat para kiai dan ustad itulah mereka mendapatkan ilmu, berkat kitab dan dan buku catatan itulah mereka belajar, karenanya para santri tersebut akan membawa kitab atau buku catatannya di dekap di dada mereka,seperti seorang gadis mendapatkan bungan cinta dari pujaan hatinya, tidak seperti petugas upacara membawa map yang akan dibacakan didepan pemimpin upacara.
Satu disiplin ilmu yang dipelajari secara terus menerus membuat para santri tersebut benar benar menguasai disiplin ilmu yang digelutinya, terlebih dengan adanya forum diskusi santri dimana para santri tersebut dilatih untuk mempertahankan sebuah pendapat dengan dalil yang konprehenship. Karenanya seorang santri tulen akan berani membuat statemen jika santri tersebut benar benar didukung oleh dalil yang dianggap valid, baik argumen yang berasal dari doktrin kitab zaman pertengahan maupun logika berfikir dan berpendapat sesuai dengan kaidah baku yang dikuasainya.
Di Pesantren dimana aku beberapa saat “ngengsu kaweruh” juga ada apel pagi dan hormat bendera dengan begitu tertib. Para santri sangat tertib mengikutinya, entah karena kesadaran atau mungkin takdzim dengan para kiai dan ustad yang juga ikut dalam hormat bendera. Mereka menghormati bendera merah putih sebagai lambang negara dimana dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan itu, banyak pengorbanan kaum santri dan mampu mengorbarkan semangat perjuangan. Sebagaimana para santri menghormati para kiai dan ustad dengan caranya, begitupun mereka dengan santun menghormati lambang negara.
Aku kapok ngaku santri, karena Ilmu yang kuserap masih jauh dari para santri yang belasan bahkan puluhan tahun hidup dipesantren, dimana mereka sangat memahami disiplin ilmu yang mereka pelajari, tidak seperti yang aku lakukan dimana yang kulakukan sekolah dengan berbagai tingkatan namun selalu berbeda program dan jurusan, karenanya banyak yang dipelajari namun tidak ada yang benar benar menjadi satu keahlian, berbeda dengan yang hidup belasan tahun dimana mereka mempelajari satu disiplin ilmu yang mereka pelajari dari mulai tingkat dasar sampai jenjang paling tinggi.
Sebuah pengetahuan jauh dari sempurna jika diperoleh dengan “karbitan”, terlebih jika pengetahuan yang berkaitan dengan agama tersebuit diperoleh dari sumber yang belum teruji, karenanya meskipun seakan sangat pandai, namun sangat terlihat berbeda ketika membuat statement yang berkaitan dengan kaidah hukum dengan menggunakan kaidah pengambilan hukum yang berlaku dalam kaidah pengambilan hukum Islam, dimana ada beberapa sarat yang harus dipenuhi dimana hal tersebut sulit didapat dengan cara instan.bagaimanapun untuk mempelajari Ilmu agama, pesantren masih sangat eksis membidanginya

Hasil Perolehan Pilkades Serentak Kabupaten Banyuwangi

Hasil Sementara Quick Count PILKADES Kabupaten Banyuwangi (9/10/19) Masa jabatan 2019/2025.
Desa Yang belum Terdaftar Monggo ditambahi ..luur..

Nama Desa  dan Kades Terpilih :

KECAMATAN PESANGGARAN
1. Sarongan (GUNOTO)

KECAMATAN BANGOREJO
2. Temurejo (FUAD MUSYADAD, S.IP)
3. Bangurejo (SUYADI).
4. Kebondalem (IKSAN, SH).
5. Sambimulyo (ANDIK SANTOSO).
6. Ringintelu (Budi Santoso).

KECAMATAN PURWOHARJO
7. Grajagan (SUPRIYONO, SH.).
8. Sumberasri (MOHAMAD YASIN, S. Pd.I).
9. Glagahagung (Hj. MIMIN BUDIATI).
10. Sidorejo (WINARTI).
11. Bulurejo (WIDARTO).
12. Keradenan (SUPRIYONO).
13. Karetan (BONARI).

KECAMATAN TEGALDLIMO
14. Purwoasri (SUTRISNO).
15. Kendalrejo (JAINI MUSTOFA).
16. Kedungasri (SUNARYO).
17. Kedungwungu (SURONO).
18. Tegaldlimo (HARIANTO, SE).
19. Wringinpitu (WASITO).
20. Purwoagung (SENEN).
21. Kalipait (SUPRIYONO).

KECAMATAN MUNCAR
22. Kedungrejo (AHMAD ZAIHO).
23. Tembokrejo (ALFEN EFENDI).
24. Blambangan (AGUS STYOBOEDI).
25. Tapanrejo (Drs. SULAIMAN).
26. Wringinputih (MOHAMAD NURHADI, S.H.I).
27. Tambakrejo (NANANG WIDAYAT)
28. Kumendung (Drs. H. HUSAINI).

KECAMATAN CLURING
29. Plampangrejo (YUDI WIYONO)
30. Tampo (DR. HASIM ASHARI, S.S, M.Si).
31. Sembulung (SUPRAYITNO).
32. Cluring (SUNARTO EKA SISWOYO, S.Pd).
33. Benculuk (MUHAMMAD MUDHOFIR, M.PdI.).
34. Sraten (Drs. H. A. RAHMAN MULYADI).
35. Tamanagung (Hj. MARIATUL QIBTIYAH, M.Pd).

KECAMATAN GAMBIRAN
36. Purwodadi (Drs. SUYANTO).
37. Yosomulyo (Drs. JOKO UTOMO PURNIAWAN).
38. Wringinrejo (MUADIM, S.H.).
39. Wringinagung (KONDANG SURYANINGRAT, S.Hut).

KECAMATAN SRONO
40. Bagorejo (SUTARJI).
41. Wonosobo (IMAM MUSLIM).
42. Sukonatar (ALI MASRONI, S.Pd).
43. Kebaman (ALIF BURHANUDDIN, S.Pd).
44. Parijatah wetan (Hj.ISTIQOMAH).
45. Parijatah kulon (MISMAN).
46. Rejoagung (SHON HAJI).
47. Sukomaju (EDY SUYANTO, S.Pd).

KECAMATAN GENTENG
48. Kembiritan (SUKAMTO).
49. Genteng wetan (H. MOH. SYUKRI).
50. Setail (Drs. SAIFUDIN, M.Pd.I).
51. Kaligondo (NUR HADI, SE).

KECAMATAN GLENMORE
52. Karangharjo (MISKAWI).
53. Tulungrejo (M. IKSAN).

KECAMATAN KALIBARU
54. Kalibaru Manis (H. ANDRIAN BAYU DONATA, S.H.).
55. Kalibaru wetan (MOHAMAD TAUFIK, SH).
56. Kajarharjo (HJ. TINEKE EKA WAYAN).
57. Kebunrejo (DEDIE SUHARTO).

KECAMATAN SINGOJURUH
58. Gambor (AHMAD SYAIHUL).
59. Benelan kidul (HABIB ALI MUSTAFA).
60. Lemabang kulon (Drs. SUBANDIYO).
61. Sungojuruh (SUHARTO).
62. Gumirih (MURA'I AHMAD, S.E.,S.H).
63. Padang (MOH. IN'AM LATIF).
64. Singolatren (APANDI).
65. Kemiri (PANTI UTOMO).

KECAMATAN ROGOJAMPI
66. Mangir (SHOLEH).
67. Gladag (AHMAD CHAIDIR SIDQI, S.Sos).
67. Lemabang dewo (EDY SUNARKO).
69. Gitik (HAMZAH).
70. Karangbendo (BUDIHARTO).
71. Rogojampi (Hj. SITI JAMILAH).
72. Pengatigan (MULYADI, S.E).
73. Kedaleman (SHOFWAN,S.Ag).

KECAMATAN KABAT
74. Bareng (SA'RONI).
75. Gombolirang (H. MOH. RIDWAN).
76. Benelan Lor (KHOIRUL ANAM).
77. Labanasem (MAIMUN ALI NASIH).
78. Pakistaji (CHOTIBUL UMAM, S.IP).
79. Pondok nongko (HAMDAN RAMAHURMUZI, S.T).
80. Dadapan (JAJULI).
81. Kabat (MUHAMMAD MISLANI).
82. Macan putih (MOHAMAD FARID).
83. Tambong (AGUS HERMAWAN,S.sos).
84. Pendarungan (ADI PURWANTO,S.Pd).

KECAMATAN GLAGAH
85. Rejosari (ASIS).
86. Kemiren (MOHAMAD ARIFIN).
87. Glagah (SLAMET PRIYO WIDODO).
88. Paspan (RIZAL PAHLEVI. H).
89. Tamansuruh (TEGUH EKO RAHADI, S.AB).
90. Kenjo ( AHMAD SOFYAN).
91. Olesari ( JOKO MUKHLIS).

KECAMATAN GIRI
92. Grogol (SAMSUL ARIFIN).

KECAMATAN WONGSOREJO
93. Bengkak (MUSTAIN).
94. Alas buluh (ABU SOLEH SAID).
95. Wongsorejo (ABDUL BAKAR).
96. Sumber kencono (KUSNAN).
97. Sidodadi (SIDIK WIBISONO).
98. Watukebo/wongsorejo(MAIMUN HARIYONO).
99. Alasrejo (ATMAWI YANTO).
100. Sidowangi (MUANSIN, S.Pd.I).
101. Bimorejo (MAKSUM).

KECAMATAN SONGGON
102. Songgon (SUWARNO).
103. Balak (Kurnia Cahya Samanhudi).
104. Parangharjo (PANJI WIDODO, SP).
105. Bedewang (MOH . ASMAWI).
106. Sumberbulu (SARENGAT M. SH).
107. Bangunsari (LULUT BUDI KURNIAWAN).

KECAMATAN SEMPU
108. Jambewangi (MASKUR, S.Ag).
109. Karangsari (BUDIYONO).
110. Temuguruh (ASMUNI,SP).
111. Gendoh (DIDIK DARMADI).
112. Temuasri (SUNARTI).

KECAMATAN KALIPURO
113. Ketapang (Slamet Utomo).
114. Telemung (MISDI).
115. Bulusari (MUKHLISH,MPdI).

KECAMATAN SILIRAGUNG
116. Seneporejo (MARKUS ADIANTO, A.Md, HUT).
117. Barurejo (AHMAD ZAENURI).

KECAMATAN TEGALSARI
118. Karangdoro (SUNARYO, SP).
119. Tegalrejo (TUMARI).

KECAMATAN LICIN
120. Banjar (SUNANDI).
121. Pakel (MULYADI).
122. Kluncing (SUMAWI).
123. Tamansari (RIZAL SAHPUTRA, SP).

KECAMATAN BLIMBINGSARI
124. Kaotan (MOH. NUR HAIRI).
125. watukebo (Hj. SRI BUNIK).
126. Gintangan (HARDIYONO).
127. Bomo (Ir. SUTIKNO).
128. Patoman (Drs.SUWITO).
129. Karangrejo (SUBANDRIYO).
130. Badean (NURSAMSI).
 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger