Pages

Madrasah Ibtidaiyah Banyuwangi Sambut Era 4.0


Dunia kini memasuki era revolusi industri 4.0, yakni menekankan pada pola digital economyartificial intelligencebig datarobotic, dan lain sebagainya atau dikenal dengan fenomena disruptive innovation. Menghadapi tantangan tersebut, Madrasah dengan segala keterbatasannya mampu bersaing menghadapi tantangan tersebut, hal ini dibuktikan dengan penguasaan dan penggunaan piranti canggih dalam proses pembelajaran dan administrasi pendidikan. Analis data dan Informasi Pendidik dan Tenaga kependidikan Kemenag Kabupaten Banyuwangi Syafaat dalam Diseminasi Aplikasi Raport Digital (ARD) di aula bawah Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi Sabtu (21/9) mendamping Tim Narasumber menyampaikan bahwa Sepertinya maderasah lebuh siap menghadapi revolusi industry 4.0. “beberapa Madrasah Ibtidaiyah telah menggunakan Andoid dengan meminjam milik orang tuanya untuk mengerjakan pekerjaan rumah yang dikirim secara online oleh guru pembimbing” ungkapnya.
Diseminasi ARD pada hari kedua tersebut disampaikan Mohammad Akbar Hariyadi didampingi A. Latif dari MIS Bulusari, Bambang Harwono dari MIN 2 Banyuwangi, sementara untuk peserta yang lebih sedang sambil duduk duduk di pelkataran masjid Arroyan dipandu oleh Mohammad Saerofi dari Min 1 Banyuwangi. “ disini lebih enak untuk belajar bersama, suasananya nyaman” ungkap Uswatun Hasanah, operator dari Kecamatan Bangorejo.
“Perubahan dalam bidang sumber daya sangat penting, meliputi pengembangan kapasitas guru  dan tenaga kependidikanr dalam administrasi dan  pembelajaran daring. Jadi guru sekarang  ini perannya juga sebagai tutor. Kemudian pengembangan infrastruktur MOOC (Massive Open Online Course), teaching industry, dan e-libraryungkap Syafaat.

PIK-R, Genre dan Peningkatan Kwalitas Calon Ibu Rumah Tangga


Pagi itu saya dapat surat tugas menjadi narasumber sebuah Workshop dengan pokok bahasan yang berkaitan dengan Perkembangan Remaja, terutama perkembangan calon ibu yang sekarang masih menempuh pendidikan sebelum masuk perguruan tinggi.  Beberapa kali menangani kasus yang menimpa Remaja serta belasan tahun berinteraksi dengan calon manten sedikit membuat saya mempunyai gambaran tentang perilaku Remaja dan problemnya di era Millenial, hasl ini bukan hanya karena saya pernah mengalami masa remaja, namun lebih kepada hasil beberapa penelitian yang kami lakukan bersama Balitbang (Balai Penetilian dan Pengembangan) Kementerian Agama.
Diskusi yang kami lakukan disebuah Halroom Hotel berkenaaan dengan kenakalan Remaja yang terjadi pada masa sekolah dan beberapa data yang kami kumpulkan dari anak anak yang terpaksa menikah ketika masa sekolah didapatkan data bahwa sebagian besar anak anak yang (terpaksa) menikah (karena hamil duluan) tersebut orang tuanya tidak lengkap, baik satu maupun keduanya sebagian besar berada diluar negeri, karenanya pengawasan diluar sekolah kurang.
Sebagian besar kasus pernikahan dibawah umur (usia dibawah 16 tahun bagi perempuan dan kurang dari 19 tahun bagi laki-laki) terjadi karena keterpaksaan untuk segera menikah akibat pergaulan bebas, karenanya memberikan kesadaran tentang reproduksi dan penguatan keimanan serta pendidikan keagamaan sangat diperlukan untuk mengurangi pergaulan yang tak terkendali dari para remaja tersebut.
Pusat Informasi dan Konsultasi yang dibentuk di Sekolah maupun Madrasah dapat dijadikan sarana efektif bukan hanya masalah kesadaran pendidikan kependudukan dan generasi berencana, namun juga berbagai permasalahan yang dialami oleh para Remaja, terlebih yang berkaitan dengan perkembangan reproduksi dimana hal ini sangat penting (terutama perempuan) untuk mempersiapkanpkan diri sebagai Istri bagi suaminya dan sebagai Ibu dari anak anaknya. Dimana persiapan perempuan sebagai calon ibu sangat penting untuk menghasilkan generasi yang lebih unggul, sebagai bidadari dari rumah surge keluarganya.
Beberapa Remaja Putri memilih diet ketat yang kadangkala tidak sehat bagi perkembangan dirinya, terlebih dimasa sekolah dimana masih dibutuhkan banyak energi untuk menyerap ilmu disekolah. Dimana anak anak sering mengabaikan pola makan dan asupan gizi yang dibutuhkan. Hal ini akan berakibat pada perkembangan dirinya dimana mereka pada akhirnya juga kurang maksimal dalam menyerap pengetahuan disekolah.
Memberikan kesadaran pentingnya menjaga kesehatan, pencegahan anemia, serta segala hal yang berkaitan dengan reproduksi dan masalah remaja lainnya dapat dilakukan dengan mengaktifkan konsultan teman sebaya dalam wadah PIK-R dimana diantara Remaja tersebut dapat saling mengingatkan. Begitu juga dengan peran guru, terlebih Guru Pembimbing Akademik (PA)/Wali Kelas serta Guru Bimbingan dan Konseling (BK), dengan mengingat Guru merupakan pengganti orang tua selama berada dilingkungan sekolah.
Prevelensi kejadian anemia pada Remaja peremopuan di Indonesia masih tinggi yakni sebesar 22,7 % hal ini dalam jangka panjang akan sangat berdamoak bukan hanya pada remaja itu sendiri, namun remaja yang dalam masa tumbuh dan berkembang ini mrembutuhkan zat besi yang tinggi yang pada akhirnya akan menjadi ibu tersebut juga akan berdampak pada anak yang akan dikandungnaya. Dimana Ibu yang mengalami anemia akan lebih parah ketika dia mengandung.
Dibandingkan dengan laki-laki, pada usia yang sama kebutuhan berdasarkan Tabel Angka Kecukupan Gizi (AKG) bagi perempuan lebih tinggi dibandingkan dengan laki-laki, hal ini diakibatkan asupan zat besi bagi perempuan bukan hanya diperlukan untuk mendukung pertumbuhannya saja, namun juga untuk mengganti zat besinya yang hilang melalui darah mnestruasi setiap bulan.
Problem bulanan pada remaja putri tentang bagaimana membuang pembalut secara sehat juga belum sepenuhnya dimengerti oleh sebagian Remaja Putri, karenanya sering terjadi ditemukan pembalut bekas pakai tersebut dibuang ditempat sampah begitu saja tanpa terlebih dahulu dibersihkan darah kotor yang menempel. bagaimana hukum sholatnya ketika sedang haid diwaktu masuk waktu sholat sedangkan dia belum melaksanakan Sholat.
Peran seorang ibu sangat vital dalam membentuk rumah tangga dan pendidikan bagi anak anaknya, dengan mengingat seorang Ibu merupakan guru utama bagi anak anaknya, karenanya mempersiapkan remaja untuk benar benar siap menjadi istri dan menjadi ibu sangat diperlukan dalam peningkatan mutu keluarga. Seorang ibu merupakan soko guru pengembangan karakter bagi putra putrinya. Perkembanga seorang anak sangat dipengaruhi oleh kemampuan seorang ibu dalam mendidik putra putrinya, dimana cara mendidik putra dan putrinya ini bukan sekedar diperlukan pengetahuan yang luas, namun perhatian terhadap perkembangannya. Karenanya tidak jarang seorang ibu dengan pendidikan rendah dapat juga mengharkan kesuksesan bagi putra putrinya.
Islam Mewajibkan menuntut Ilmu bagi laki laki maupun perempuan, namun Islam tidak mewajibkan seorang perempuan untuk mencari nafkah, meskipun tidak ada larangan. Pendidikan yang cukup yang diperoleh bagi seorang perempuan sangat diperlukan agar nantinya dapat mendidik anak anaknya dengan kasih sayang dan pengetahuan yang diperolehnya.

Workshop ARD : Madrasah Memasuki Dunia 4.0


Pelaksanaan penggunaan Aplikasi Raport Digital telah memasuki tahun kedua, Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi mengadakan Workshop peningkatan kemampuan manajemen aplikasi ARD untuk operator Madrasah Ibtidaiyah se-Kabupaten Banyuwangi, Jumat (20/9). Kepala Seksi pendidikan Madrasah Zaenal Abidin mewakili Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi. Dalam sambutannya Zaenal (panggilan akrabnya) menyampaikan bahwa sudah saatnya kita menggunakan aplikasi untuk semua urusan yang bias dilakukan dengan aplikasi. Pada kesempatan tersebut Zaenal juga memberikan motivasi kepada para guru untuk melakukan kreasi melalui perkembangan tehnologi. “Kita tidak akan terlepas dari perkembangan tehnologi, gunakan tehnologi secara bijak” ungkap Zaenal.
Sementara itu dalam kegiatan Workshop ARD tersebut sebagai Nara Sumber Guru MIN 3 Banyuwangi Mohammad Akbar Hariyadi dengan dibantu oleh M. Latif dari MI Bulusan serta M Bambang dari MIN 2 Banyuwangi di Songgon. Para narasumber yang sebelumnya mengikuti kegiatan serupa ditingkat Provinsi, dengan sabar mengajari para operator MI se Kabupaten Banyuwangi tersebut. “pada dasarnya para operator tersebut sudah banyak yang bias, karena ARD ini bukan hal yang baru” ungkap Akbar (panggilan akrabnya). Lebih lanjut Akbar menyampaikan bahwa dengan adanya ARD ini pekerjaanmenjadi semakin mudah, karena ARD dikerjakan bersama sama oleh semua guru.

Fruit Day PMR MAN 2 Baanyuwangi

Palang Merah Remaja (PMR) wira Madrasah Alkliyah Negeri (MAN) 2 Banyuwangi yang terletak di Kecamatan Genteng mengadakan kegiatan Fruit day dihalaman utara depan Masjid kampus MAN 2 Banyuwangi Kamis (19/9). kegiatan ini bertujuan untuk memperingati hari jadi Palang Merah Indonesia (PMI) yang ke 74 oleh siswa MAN 2 Banyuwangi,  tujuan dari kegiatan ini juga sebagai sarana untuk mengajarkan agar siswa konsumtif terhadap buah buahan, terutama buah buahan lokal Banyuwangu, kegiatan yang dikuti peserta Extra kokulikuler PMR ini berjalan dengan seru dan  meriah, dimulai dengan apel oleh pembina Apel Syaifudin Zuhri yang juga menjabat Pembina PMR.
Selesai apel diadakan lomba membuat ice buah dimana buah di bawa dari rumah dimana buah yang digunakan merupakan buah lokal, artinya buah tersebut produksi petani Banyuwangi yang terkenal subur dimana hampir semua buah dapat tumbuh dan berbuah.  Dalam perlombaan tersebut terdapat game menarik yang membutuhkan ketangkasan dengan tujuan untuk menciptakan kekompakan antar individu dalam kelompok.

Dalam sambutannya Pembina PMR berharap PMR harus menjaga kekompakan, karenanya dalam kegiatan PMR akan membentuk pribadi yang unggul “Kekompakan sebiah team haruis tetap dijaga” ungkapnya. Sementara itu kegiatan Fuit Day diikuti antusias oleh semua peserta, baik siswa mauopun siswi, mereka kompak dalam semua kegiatan.”kegiatan ini sangat seru dan asik.saya berharap agar ada acara seperti ini lagi dalam bentuk yang berbeda.saya bisa buat ice dengan karya saya bersama teman-teman” ujar haris, salah satu peserta. (Difary)

Aku dan Anak Lelakiku

Kata orang Jawa, aku dan anak lelakiku dilahirkan dengan weton yang sama yakni Minggu Pahing,  aku sendiri tidak tahu darimana perhitungan neton berdasarkan hari pasaran ini dimana ada tujuh hari dan lima pasaran. Dimana weton Minggu adalah 5 sedangkan Pahing 9, jadi jika dijumlahkan ada 14. Aku tidak mengerti maksud hitungan tersebut, katanya semakin tinggi hitungan weton semakin baik, aku tidak mempercayai sepenuhnya dengan hitungan seperti ini, namun faktanya banyak orang yang mempercayainnya. Tidak salah jika beberapa orang dengan perkembangan tehnologi melakukan rekayasa agar dapat melahirkan anaknya pada hitungan hari yang menurutnya baik. Aku tidak tahu apakah melahirkan dengan rekayasa ini juga masih berpengaruh dengan hitungan weton dan hari baik tersebut.
Aku hanya menghamparkan doa agar anak pertamaku laki-laki, dan Alhamdulillah doaku dikabulkan ketika menjelang subuh anak lelakiku lahir, kulitnya putih, kata orang mirip denganku ketika waktu kecil. Lahirnyapun pada hari minggu dimana aku sedang libur sehingga aku dapat menungguinya detik detik dia untuk pertama kalinya menikmati udara dunia. Sudah saya siapkan nama untuknya sebelum dia dilahirkan, meskipun beberapa bulan sebelumnya pernah aku periksakan ketika masih dalam kandungan untuk mengetahui jebbis kelaminnya, namun aku masih mempersiapkan nama untuk laki laki dan perempuan untuk anak pertamaku. Karena aku tidak mau mendahului takdir. Aku tahu bahwa alat tehnologi sudah canggih, perkembangan pengetahuan terus berkembang. Kita dapat mengupayakan untuk mendapatkan anak laki laki maupun perempuan, dunia kedokteran bisa memprediksi anak dalam kandungan akan lahir laki laki ataukah perempuan. Namun aku harus mempersiapkan dan menerima segalanya, karenanya meskipun doa dan keinginanku adalah anak laki laki, hasil pemeriksaan juga laki laki, namun selain nama laki laki, aku juga mempersiapkan nama perempuan.
Aku menyadari bahwa karakter anakku tidak jauh berbeda denganku, karenanya aku memperlakukannya sebagaimana aku ingin diperlakukan. Ketika kecil seringkali ketika aku menanyakan sesuatu padanya, aku mmendapatkan jawaban yang tidak saya duga sebelumnya. Menurut bapakku, aku dulu juga seperti itu, ketika kecil pinter diplomasi ala jendral kancil. Aku tidak mau menjadikan dia sebagai edisi kedua dariku, aku membiarkan dia tumbuh dan berkembang sesuai dengan liminasinya, karena bagaimanapun miripnya aku dengannya, atau miripnya dia denganku, namun sidik jarinya tetaplah berbeda, dan Tuhan memang membuat sidik jari yang berbeda dari milyaran manusia yang hidup di Bumi.
Anakkku tidak menonjol saat sekolah, kecuali dia dianggap jajaran laki laki ganteng di sekolahnya, sama dengan bapaknya. Kemampuan akademik tidaklah menonjol meskipun tidak terlalu rendah. Ketika anakku duduk di bangku MTs, aku selalu duduk paling belakang ketika rapat wali murid untuk penerimaan raport. Dan memang biasanya aku dipanggil paling akhir atau mendekati akhir dalam penerimaan raport tersebut, karena penerimaan raport berdasarkan peringkat dalam kelas. Dan beberapa kali aku harus pulang paling akhir ketika penerimaan raport tersebut. Aku hanya tersenyum ketika wali kelas atau pembimbing akademik menitipkan salam agar aku menasehati anakku agar belajar lebih giat lagi. Biasanya aku hanya tersenyum tanpa berkomentar, karena menurutku sekolah bukan hanya untuk mendapatkan deretan nilai nilai bagus, namun sekolah untuk mengembangan diri. Aku tidak melarang anakku aktif di kegiatan Intra mauoun ekstra sekolah, karena hal tersebut meskipun mengakibatkan nilai akademiknya turun, namun ada pengalaman lain yang akan berpengaruh pada kehidupan selanjutnya.
Anakku remaja ketika aku sudah dewasa, dan ketika aku remaja, anakku belum ada. Karenanya kami adalah generasi yang berbeda, meskipun sama gantengnya, kalaupun anakku lebih ganteng dariku, juga harus disadari bahwa gizi anak sekarang lebih baik dari generasi sebelumnya dimana dulu sebuah telur dadar harus dibagi lima agar cukup untuk satu keluarga. Begitulah nasib kita dimana dulu kita tidak dapat makan enak karena kondisi orang tua yang masih kekurangan, dan ketika kita sudah berumah tangga, kita harus berhemat agar dapat memberikan gizi yang cukup untuk anak anak nan nantinya ketika anak anak kita sudah dapat hidup mandiri, ketika kita bisa membeli makanan enak, mungkin kesehatan kita yang menghalangi kita untuk makan enak.
Aku memberikan kebebasan anakku untuk memeilih tempat menuntuk ilmu selepas MTs, karena itulah janjiku dulu, memberikan kebebasan kepadanya untuk menentukan pilihaan SLTA maupun perguruan tinggi. Karenanya aku mengiyakan saja ketika anakku ingin ke SMAN tertua di Kabupaten Banyuwangi. Aku berharap mungkin dengan sekolah pada pilihannya sendiri, dia akan lebih giat belajar, namun begitulah yang terjadi, suatu hari anakku bercerita bahwa dia dan teamnya menang dalam pertandingan tingkat Kabupaten, aku tersenyum padanya, mungkin seumur hidup baru kali ini aku mendengar kabar bahagia tersebut, dalam hati aku bertanya pertandingan akademik apa yang dimenangkan anak lelakiku tersebut. Dan aku masih tetap bangga ketika anakku menyampaikan bahwa pertandingan yang diikutinya adalah pertandingan Game Online, atau mungkin yang sekarang disebut e-Spot.
Mengenai peringkat akademik, masih tetap seperti pada jenjang sebelumnya, mendekati peringkat akhir, syukur bukan peringkat terakhir seperti pada jenjang sebelumnya. Aku juga tidak marah, tidak juga menasehati anak lelakiku untuk meninggalkan kebiasaannya main game, aku hanya nerpesan padanya bagaimana caranya dia bisa diterima di PTN. Bagiku masa anak anak atau remaja adalah dunia permainan, karenanya jika kita menjauhkan anak anak dari permainan, mana kita menjauhkan dia dari dunianya.
Masih kuingat ketika dia minta izin untuk pindah dari Fakultas Syariah UIN malang dengan alasan dia tidak bisa membaca kitab kuning, aku mengizinkannya karena sekarang aku juga nggak bisa membaca kitab tanpa harokat tersebut. Dia masuk UIN Malang juga bukan sepenuhnya kehendaknya, ketika itu dia diterima di Fakultas Tahnik Sipil sebuah PTN dan juga diterima di UIN Malang, dan ketika anak lelakiku menyerahkan pilihannya padaku untuk memilihkannya, aku memilihnya untuk belajar di UIN Malang, meskipun aku tahu bahwa dia akan berat kuliah disana, maklumlah dia dari SMA. Aku tahu betapa sulitnya bagi lulusan SMA jurusan IPA untuk belajar Ilmu Tafsir, Ilmu Hadits maupun membaca kitab kuning. Saat itu aku tidak memberitahukannya bahwa di Fakultas Syariah nantinya seperti itu, karena aku yang mendaftarkannya di UIN, anakku baru aku beritahu sehari sebelum tes.

Aku menangis ketika bersimpuh Di Raudloh Masjid Nabawi, anakku Pantukir di IPDN, dia berangkat sehari setelah aku berangkat Tugas di Saudi Arabia memandu jamaah haji, aku hanya bersimbah doa untuk anak lelakiku yang berjuang meraih cita citanya, dia hanya ingin lebih baik dari ayahnya, meskipun terbukti dia lebih ganteng dari ayahnya. Aku tidak sanggup membayangkan jika dia harus gagal dari pantukir sedangkan ayahnya tidak berada dirumah, bagaimana kecewanya dia jika harus gagal, sementara dua PTN yang ditinggalkannya belum tentu mau menerimanya kembali. Aku sangat bahagia ketika berada di Kota makkah, aku melihat pengumuman bahwa anakku yang selama ini berada di peringkat di sekolahnya, dapat diterima sebagai praja IPDN.(Jumat, 20-09-2019)

Meninggalnya seorang Sahabat


Yeni Siswanti, Dia selalu tersenyum manis pada semua orang, wajahnya yang cantik menambah senyumnya semakin manis.Usianya sepuluh tahun lebih muda dariku. Meskipun hanya beberapa kali saya bertemu dengannya, namun seakan kami sahabat lama, terlebih ketika dia masih menjabat sebagai bendahara, beberapa kali dia konsultasi online. Dia kerja pantang menyerah. Pernah suatu malam saya  harus memverifikasi hasil pekerjaanya. Mungkin dia sekalian sholat malam ketika kirim data online tersebut. Seperti biasanya, aplikasi lebih mudah diakses pada malam hari, ketika banyak orang yang tidak menggunakan akses tersebut pada jam kerja. Beberapa guru yang biasa sholat malam, memanfaatkan moment malam hari untuk mengerjakan berbagai pekerjaan yang berkaitan dengan aplikasi.

Pagi ini Kamis, 19 September 2019 kabar duka ibu saya terima tepat ketika mata ini baru saja terbuka setelah terlelap menikmati malam, saya menerima  berita WA bahwa sahabat saya kelahiran 21 Pebruari 1983, meninggal dunia. Memang beberapa hari ini perempuan cantik yang baru mengkhitankan anaknya ini dirawat dirumah sakit. Siapapun yang mendengar bahwa dia beberapa kali perempuan dengan dua anak ini harus keluar masuk rumah sakit tidak akan percaya bahwa permpuan cantik ini menderita penyakit berat. Canda dan tawanya mampu menyembunyikan derita yang dialaminya. Dia selalu memberikan semangat kepada teman temannya.
Semangat kepemimpinan menurun dari darah Bapaknya yang seorang Kepala Desa, beberapa kegiatan diluar Madrasah diikuti tanpa harus meninggalkan tugas utama sebagai seorang Ibu Rumah Tangga, sebagai seorang pendidik yang mempunyai dedikasi tinggi. Kepergiannya meninggalkan duka bagi para sahabatnya. Baik di fatayat, maupun di PKK, apalagi sesame insan pendidik dan tenaga kependidikan serta peserta didiknya, terlebih kedua anaknya, Alya Tazkia Salsabila dan Ahmad Rafi Haidar.

Pertama kali saya bertemu dengan Bendahara MTs swasta dengan siswa terbanyak se Kabupaten Banyuwangi ini ketika monitoring penggunaan dana BOS, guru swasta ini pekerjaannya terlihat rapi, sesuai dengan orangnya yang menyenangkan ketika dipandang, tulisannya nyaris sempurna, sangat tidak mudah menemukan kesalahannya. Dia selalu memulai dengan senyum ketika menjelaskan apa yang kami Tanya. Padahal tidak mudah mengelola dan mempertanggung jawabkan dana yang begitu besar, namun perempuan tangguh ini mampu melaksanakannya.

Penyakit yang dideritanya mengakibatkan dia harus berhenti dari pengelola dana BOS, hal ini mengakibatkan kalang kabut sahabat sahabatnya, seorang teman setianya, Anis Setiyorini mengabarkan hal tersebut, dian menyesalkan mengapa dia tidak belajar mengelola dana keuangangan ketika B Yeni masih sehat, karena tidak menyangka semuanya bahwa peremouan energik tersebut akan mendapatkan penyakit yang mengakibatkan B Yeni tidak boleh berfikir yang menguras tenaga. begitulah ketentuannya, kita tidak akan tahu dengan pasti apa yang akan terjadi kemudian.

Beberapa bulan yang lalu saya masih bertemu dengannya ketika pelaksanaan Aksioma atau Porseni tingkat MTs Kabupaten Banyuwangi. Guru cantik ini memberikan semangat kepada peserta didiknya yang sedang bertanding menjadi yang terbaik dalam bidangnya. Suaranya yang renyah mudah dikenali dan memberikan inspirasi tersendiri. Tak terlihat bahwa dibalik keceriaannya tersebut dia menyembunyikan penyakit yang tidak mudah untuk mengobatinya. Keceriaanya mampu menebarkan aura positif kepada siapa saja yang bertatap muka dengannya, hubungannya dengan peserta didik nyaris tanpa batas, dia begitu dekat dengan para siswa ini, seperti seorang ibu dengan anak kandungnya.

Tidak sengaja saya bertemu dengan rombongan B Yeni beserta semua guru dan peserta didik seusai Porseni ketika saya menikmati panorama di Pantai BOOM, anak anak yang mengikuti Porseni diajak serta menikmati destinasi wisata wilayah Kecamatan Banyuwangi ini. Anak anak begitu menikmati pemandangan alam pantai dengan hamparan pasir yang dapat digunakan lapangan sepak bola tersebut, Jeprat jepret B Yeni dengan telaten mengabadikan tingkah jenaka anak didiknya. Para b guru juga nggak kalah bertarung selfie pada patung garuda yang terdapat ditepi pantai tersebut, terlebih Anis Setyorini, perempuan cantik semampai ini seperti bidadari terbang ketika berpose pada sayap garuda, gayanya benar benar seperti bidadari bersayap yang siap terbang kepelaminan.

Legenda Buyut Oceng dan Watu Dodol


Hari sudah menjelang malam, Kang Dede ( panggilan Dr. Dede Burhanudin, Peneliti Litbang) seperti nggak ada capeknya, kami terus menelusuri pantai selat Bali, Patung Gandrung berdiri kokoh diatas tumpukan batu hitam yang tersusun apik secara alami. Gundukan batu tersebut masih tetap seperti yang dulu dimana lebih dari 20 tahun cerita Indah sering saya pentaskan disitu. Baik cinta, kesetiaan maupun persahabatan. Bersama dengan teman teman Aliyah saya juga pernah menjadi saksi betapa kokohnya gundukan batu itu dimana ribuan tahun tetap pada dimensi yang sama.
Masih tersimpan foto dimana saat itu kami masih belasan tahun, bermandi air asin, bersenda bersama tanpa beban. Kami berjalan beberapa kilometer untuk sampai ketempat ini, menyusuri pantai sambil ngobrol bercerita tentang banyak hal. Masih kuingat ketika saya dan Witri memisahkan diri dari rombongan, sengaja kami berdua berjalan agak lambat sehingga agak jauh dengan rombongan. Kami duduk berdua memandang Pulau Bali, didepan kami ombak selat Bali beriak nyaris tak terdengar. Pulau Bali terlihat Jelas yang menandakan selat tersebut tidak terlalu lebar. Arus laut bergantian dari utara keselatan ataupun sebaliknya. Air tenang tersebut sebenarnya sangat membahayakan, karena pertemuan dua arus yang berbeda membuat arus berputar. Sudah beberapa orang yang menjadi korban keganasan arus yang terlihat tenang tersebut.
Saya masih bersama Witri, perempuan berambut Ikal yang terlihat lebih manis bila tersenyum ini lebih banyak bercerita. Kami duduk dibawah batu yang menjulang kurang lebih 8 Meter, orang orang menyebutnya dengan Nama Watu Dodol. Ada mata air yang keluar dari bawah batu yang juga sebagai pembatas antara jalan raya dengan pantai tersebut. Witri membasuh mukanya dengan air bening dari bawah batu tersebut. Pipinya terlihat lebih ranum, bibir mungilnya terlihat lebih mempesona, namun tetap saja saya tidak berani menyampaikan kata cinta.

Hari ini air dibawah watu dodol tersebut sudah tidak ada lagi, sudah tergerus dengan sejarah baru dimana tempat aku duduk berdua dengan Witri sudah menjadi Jalan Raya, Watu dodol tersebut bukan lagi sebagai pembatas antara jalan raya dengan bibir pantai, namun menjadi pembatas dua lajur jalan searah. Kang Dede duduk memandang batu tegar didepannya, bercengkerama dengan Juru Kunci Watu Dodol (Sayiat) yang sudah berdinas sejak Bupati Turiyono Purnomo Sidik. Usianya yang sudah sepuh tidak menyurutkan semangat juru kunci tersebut untuk membersihkan batu besar yang konon tidak dapat dipindahkan tersebut.
Konon Watu Dodol tersebut adalah peninggalan Buyut Oceng, dimana beliau adalah pedagang Dodol (Jenang) yang memperdagangkan dodolnya ke Pulau Bali, dimana saat itu dagangannya dipikul dengan pikulan bambu yang menurut istilah jawa lebih  popoler dengan istilah engkek. Jalanan masih berbatu, karenanya Buyut Oceng yang mempunyai Ilmu linuwih tersebut harus menyusuti jalanan sulit tersebut, dan ketika sampai di daerah dipinggir pantai, pikulan atau ongkek Buyut Oceng Patah, maka jatuhlah dodol yang dibawanya, dan dengan rasa kecewa Buyut Oceng mengatakan “dadio watu baen wes dodol iki” dan terjadilan doa dari Buyut oceng tersebut dimana dodol yang satu Pikul menjadi Batu yang menjulang, dan satu pikulan yang lain dimakan sebagian sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan ke Pulau Bali.
Juru Kunci yang masih terlihat tegar seperti tegarnya Watu Dodol tersebut masih bercerita bahwa ketika berada di Pulau Bali tepatnya di Singaraja, dodol ki Buyut Oceng masih tersisa, dan ki Buyut Oceng juga meninggalkan dodol tersebut di sana, dan nasib dodol tersebut juga sama, yakni menjadi batu, namun batu yang di singaraja lebih kecil dibandingkan dengan yang di Watu dodol, maklumlah sebagian sudah menjadi bekal perjalanan ki BuyutOceng.  Kang Dede mengamati Watu dodol, tubuhnya yang kecil nyaris tak terlihat ketika melongok kebawah dimana watu dodol tersebut sepertinya tidak tertanam dalam tanah, sepertinya hanya berdidi diatas batu dibawahnya. Sementara Erlan, rekan Kang Dede sibuk mengambil beberapa foto dari kameranya. Dia menjepretkan kamera menunggu ada mobil melintas agar lampun sorot mobil tersebut membanntu penyinaran obyek.
Konon Watu Dodol tersebut pada zaman Belanda pernah ditarik dengan Kapal laut untuk diceburkan ke laut, atau setidak tidaknya dapat digeser agar tidak menghalangi proyek jalan Anyer Panarukan sampai Banyuwangi. Menurut sang juru kunci dimana dia dapat cerita dari leluhurnya, bahwa Watu dodol tersebut pada Jam Lima sore berhasil ditarik dengan Kapal dan Watu Dodol tersebut rubuh, namun keesoka harinya sekitar jam lima pagi ketika para pekerja ingin meneruskan pekerjaannya, watu dodol tersebut terlihat berdiri lagi dengan kokok ditempatnya. Begitu juga pada zaman Jepang dimana pemerintah Jepang pada waktu itu juga ingin memindahkan watu dodol tersebut dengan cara yang sama pada zaman Belanda, yakni ditarik dengan Kapal, namun juga tidak berhasil, Batu tersebut tetap kokoh tidak bergeser, rantai yang digunakan untuk menarik batu tersebut putus yang mengakibatkan kapal penarik tenggelam. Watu Dodol memiliki bentuk yang unik, bagian atasnya lebih besar daripada dasarnya, namun kokoh berdiri selama ratusan tahun. Dulu daya tarik Watu Dodol karena keangkerannya, namun seiring dengan perkembangan zaman, Watu Dodol kini menjadi asri dan tidak terlihat angker lagi, termasuk dibagunnya patung selamat datang berbentuk patung Gandrung diatas batu yang kokok yang tak lekang diterjang ombak. Menurut Juru Kunci , jika membicarakan tentang keangkeran dan tempat paling angker di Watu Dodol, kalau mau angker harus naik ke bukit, di sisi Barat  dan disana terdapat makam tua Syekh Maulana Ishak dan Putri Sekardadu dari Kerajaan Blambangan dulu yang dikeramatkan, sehingga sering digunakan tempat bertapa.


Juru kunci watu dodol terus bercerita tentang perkembangan watu dodol, dimana dulu dibawah watu dodol tersebut ada mata air, disebelahnya ada Pura dan tempat Ibadah kecil, banyak orang orang dari berbagai agama yang dating ke watu dodol, melakukan ritual menurut keyakinannya.
 
 
 
 
 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger