Pages

Halal Bihalal PD IGRA Kab. Banyuwangi


Bertempat di Griya Ekologi Kelir kecamatan Kalipuro, Guru Raudlotul Athfah se Kabupaten Banyuwangi mengadakan halal bihalal Sabtu (13/7). Ditempat yang asri tersebut Ketua Pengurus Daerah Ikatan Guru Raudlotul Atfhal (IGRA) Kabupaten Banyuwangi mengajak seluruh Guru RA yang hadir untuk menjadikan RA sebagai lembaga pendidikan prasekolah menjadi tempat pendidikan untuk mempersiapkan peserta didik menjadi lebih baik.

Dalam kesempatan tersebut juga diisi mauidloh hasanah oleh Ustad Abd. Muqsith Husaini. Dimana Ustad muda ini juga mengajak para guru untuk lebih telaten dalam membekali anak anak dengan pendidikan agama yang cukup, karena masa anak anak inilah yang akan menentukan bagi masa depannya.
Sementara itu Syafaat, Analis Data dan Informasi Pendidik dan Tenaga Kependidikan, mewakili Kasi Pendidikan madrasah lebih banyak menyampaikan berbagai informasi yang berkaitan dengan kedinasan. Menyinggung masalah halal bihalakl Syafaat menyampaikan bahwa Kementerian Agama salut dengan semangat juang guru guru RA dalam membekali anak anak dengan pendidikan Agama. “Halal bihalal ini disamping ajang silaturakhmi juga peningkatan pengetahuan, karena dengan berkumpulnya para guru tersebut juga diberikan berbagai informasi masalah Pendidikan” ungkapnya.
Dalam acara yang juga dihadiri Abdul Hamid, Pengawas Pendidikan madrasah tersebut juga diisi dengan berbagai pertunjukan dari anak anak RA. “anak anak tersebut merupakan penerus kita” ungkap Abdul Hamid. IGRA memilih Griya Ekologi Kelir sebagai tempat Silaturakhmi dan halal Bihalal juga bertujuan agar para guru terinspirasi membawa anak anak kealam terbuka. Hal ini dimaksudkan dengan mengingat perkembangan zaman dimana tehnologi semakin membuncah, mengakibatkan penggunaan tehnologi tersebut kadang tidak terkendali. “Permainan anak anak yang paling sehat adalah bermain bersama alam” ungkap Syafaatr ketika memberikan sambutan.
Banyak yang terkesan dengan Griya Ekologi Kelir yang dijadikan tempat halal bihall, sebagaimana disampaikan salah satu Guru RA Lilik Purwati dari RA Tarbiyatut Tholabah Sukomukti “Inilah sebuah lokasi baru yang ditata dengan apik yang dapat dijadikan study Lapangan bagi anak anak” ungkapnya.




Kemah Santri TPQ se-Kecamatan Bangorejo




Sejumlah 97 Lembaga Taman pendidikan Al Qur’an (TPQ) se-Kecamatan Bangorejo mengadakan kemah santri di Lapangan Desa Bangorejo Jumat (5/7) sampai dengan Minggu (7/7). Dengan berbagai macam kegiatan yang harus diikutin oleh para santri tersebut diantaranyaPildacil, Tahfidzul Qur’an, Tartil, Binaus Sholah, Al Banjari, MTQ dan Lomba Adzan.
Kegiatan yang diikuti lebih dari 450 santri tersebut juga melaksanakan lomba senam I love Banyuwangi, sehingga kegiatan akan semakin beragam. Hal ini disampaikan Drs. H. Saeroji, M.Pd.I, Ketua majlis Silaturakhim TPQ se-kecamatan Bangorejo. Saeroji yang juga Kepala MAN 1 Banyuwangi menyampaikan bahwa dengan adanya Kemah santri ini akan mempererat silaturakhim antar TPQ yang ada di Kecamatan bangorejo. “ santri juga dilatih kemandirian serta melatih keberanian untuk tampil didepan public” ungkapnya.
Setiap Lembaga TPQ yang mengikuti kegiatan ini juga didampingi para Ustadz dan Ustadzah masing masing. Dengan kegiatan semacam ini diharapkan muncul bibit bibit unggul calon pemimpin bangsa yang berakhlakul karimah, karena dengan kemah santri yang dilaksanakan dengan berbagai lomba tersebut secara tidak langsung melatih santri untuk menjadi seorang pemimpin, ungkap saeraoji.
Seperti yang disampaikan Pimpinan TPQ Nurul Jadid Selorejo Siti Farokhah, S.Pd. I, bahwa pihaknya mengikuti kegiatan yang sangat bermanfaat ini bukan semata mata ingin meraih juara dalam kegiatan yang diadakan, tetapi melatih santri untuk hidup bermasyarakat. Kepala TPQ yang juga Kepala MI Al Falah ini juiga menyampaikan bahwa saat ini pendidikan agama yang dilaksanakan di TPQ harus lebih ditingkatkan dengan mengingat pendidikan Agama pada sekolah formal hanya beberapa jam saja.”anak yang mengaji di TPQ dalam penerapan keagamaan dan sikap dimasyarakat cebnderung lebih berbudi pekerti dan menjaga adab sopan santun”ungkapnya.


Diseminasi Peran Guru BK pada Madrasah di Kabupaten Banyuwangi


Tahapan dalam  Bimbingan dan konseling perlu dipahami para konselor, dalam hal ini adalah Guru Bimbingan dan konseling pada Madrasah. Hal ini disampaikan Evi Winingsih,S,Pd.M.Pd saat menyampaikan Materi dalam Pelatihan bagi Guru BK pada MTs dan MA dibawah binaan Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi. Dosen Cantik berkacamana ini dengan telaten manyampaikan materi yang berkaitan dengan 5tahapan Bimbingan konseling. Sementara itu Wiryo Nurwono, Eko Darminto dan Hadi Warsito banyak mengupas masalah Komiten untuk Guru BK.
Dalam Kegiatan Diseminasi Workshop Pengembangan Guru BK yang dimulai Kamis (4/7) dengan diawali dari beberapa narasumber dari universitas Negeri Surabaya (UNESA), pada Hari Kedua Jumat (5/7) peserta lebih banyak diskusi dan menganalisa problem solvinbg yang sering terjadi pada siswa di Madrasah. Wiryo Nurwono, Dosen Unesa sebagai salah satu Narasumber dari Unesa menyampaikan bahwa Materi yang disampaikan singkat dan padat, sedangkan pendalaman materi dilaksanakan pada tugas tugas dan diskusi. “Kita yakin bahwa Guru BK pada Madrasah mempunyai kapasitas yang mumpuni sebagai konselor” ungkap Dosen kelahiran Banyuwangi ini.
Sementara itu Analis data dan Informasi pendidik dan Tenaga kependidikan pada Kementerian  Agama Kabupaten Banyuwangi H. Syafa’at., SH. MHI menyampaikan bahwa setiap pelatihan dan sejenisnya yang diikuti oleh Guru yang ditunjuk ditingkat propinsi, wajib mendiseminasikan hasil pelatihannya tersebut pada guru dengan rumpun senejis yang ada ditingkat Kabupaten. Begitupun dengan Workshop yang diadakan ditingkat kabupaten dimana tidak dapat diikuti seluruh guru BK yang ada di Kabupaten Banyuwangi,. Maka peserta yang mengikuti kegiatan ditingkat Kabupaten juga berkewajiban mensosialisasikan hasil workshop di Kabupaten kepada guru dilingkungannya.”ada lebih dari enam puluh lembaga MA dan lebih dari seratus lembaga MTs yang ada di kabupaten Banyuwangi, karenanya pelatihan yang ada ditingkat Kabupaten belum dapat diikuti oleh seluruh guru” ungkap Syafaat.
Kegiatan yang dilaksanakan atas kerjasama universitas negeri Surabaya dengan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi tersebut dilaksanakan untuk peningkatan mutu dan kwalitas guru BK yang ada di madrasah. Dr. Muh. Nursalim, Msi selaku Dekan Fakultas Kependidikan berharap kerjasama yang baik tersebut dapat ditingkatkan pada program lainnya guna peningkatan mutu pendidikan yang ada di Indlonesia.
Kegiatan yang dilaksanakan di aula bawah Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi tersebut ditutup oleh Kasi Pendidikan madrasah Zaenal Abidin. Mantas Kasubag Tata Usaha dan Kasi PD Pontren tersebut berharap para guru BK yang mengikuti Workshop dapat benar benar menerarapkan apa yang didapat dari kegiatan ini dengan harapan mutu Pendidikan pada Madrasah yang semakin hari semakin diminati masyarakat semakin meningkat. Zaenal (panggilan akerabnya)m menyampaikan bahwa saat ini pendidikan berbasis nilai nilai agama semakin diminati oleh Masyarakat. Beberapa madrasah swasta yang ada di Banyuwangi sudah tidak dapat menampung siswa yang mendaftar di madrasahnya dan terpaksa membatasi Peserta didik baru.
Guru terutama Guru bimbingan dan Konseling sangat diperlukan ada di Madrasah, peningkatan kemampuan dan pemahaman dibidang konseling sangat penting dikuasai oleh guru BK dan  juga guru lainnya, karena guru disamping sebagai tenaga pendidik, juga sebagai pengganti orang tua selama di sekolah, karenanya tugas guru sebagai tenaga pembimbing Akademik juga melekat didalamnya tugas tugas Bimbingan konseling.
 Seperti yang disampaikan syafaat, bahwa saat ini beberapa madrasah telah melakukan terobosan dibidang pembinaan peserta didiknya yang salah satunya dengan melakukan pengembangan peran wali kelas dengan peran Guru pembimbing Akademik dimana Pembimbing Akademik ini terus mengikuti siswa hingga lulus, sehingga Guru pembimbing Akademik benar benar memahami potensi dan pribadi siswa. (syafaat)

Unesa Melaksanakan Pelatihan Kompetensi Guru BK pada Madrasah Kab. Banyuwangi


Fakultas Kependidikan Universitas Negeri Surabaya (UNESA) melaksanakan kegiatan pengabdian Kepada masyarakat di Kabupaten Banyuwangi Kamais (4/7). Kegiatan yang dilaksanakan ini dalam bentuk Pelatihan Peningkatan Bimbingan Konseling bagi Guru BK dibawah binaan kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi.

Dalam kegiatan yang diikuti Guru BK pada Madrasah Aliyah dan Tsanawiyah Negeri maupun swasta yang ada di Kabupaten Banyuwangi ini, dibuka oleh Kepala Seksi Pendidikan Madrasah H. Zaenal Abidin,S.Ag, M.Ag  mewakili Kepala kemenag Kab. Banyuwangi. Pada kesempatan tersebut Zaenal (panggilan akrabnya) menyampaikan banyak terima kasik Kepada Dekan Fakultas Kependidikan dan jajarannya yang bersedia memberikan pelatihan pada Guru BK pada Madrasah di Kabupaten Banyuwangi. Zaenal berharap para guru BK dapat menyerap semua materi yang dilaksanakan hingga Jumat (5/7).
Pada Kesempatan tersebut Zaenal menyampaikan bahwa Guru BK sangat berperan penting dalam proses pendidikan. Menyinggung masalah Madrasah, Zaenal berpesan agar Guru tidak lupa untuk mendoakan peserta didik dibawah binaannya. “Jika sudah mentok segara cara dilakukan untuk mendidik anak anak, maka masih ada cara yang dapat dilakukan guru yakni mendoakannya” ungkapnya. Zaenal juga menyampaikan tentang arti keampuhan doa sebagaimana kisah Askhabul kahfi yang terjebak dalam sebuah goa, dimana mereka dapat keluar setelah masing masing memanjatkan doa hingga terbukanya pintu goa. “Biarkan anak anak menjalani kodrat untuk mencari jatidirinya” ungkapnya lagi.
Sementara itu Dekan Fakultas Kependidikan Unesa Dr. Muh. Nursalim, Msi dalam sambutannya menyampaikan bahwa sudah menjadi agenda rutin bagi Unesa melaksanakan Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat, dan seperti saat ini Unesa melaksanakann kegiatan di Kabupaten Banyuwangi dengan julukan The Sunrise Of Java. Muh. Nursalim sangat terkesan dengan perkembangan pembangunan di Kabupaten Banyuwangi yang berkembang dengan pesat, begitu juga dengan semangat para guru untuk men gikuti kegiatan ini. “meskipun hari ini merupakan hari libur, tetapi para guru antusias untuk mengikuti pelatihan’ ungkapnya.
Kegiatan pelatihan diisi oleh para dosen senior dari Universitas Negeri Surabaya yang dipimpin Ketua Jurusan Bimbingan dan konseling Dr. Retno Tri Hari Astuti, M.Pd. dalam kesempatan tersebut peserta bukan hanya diberikan materi pelatihan peningkatan Bimbingan Konseling, namun juga dalam bentuk tugas sehingga materi pelatihan semakin mengena.(Syafaat)

Focus Group Discussion Bahaya NAPZA di Banyuwangi



Penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif lainnya. (NAPZA) marak dilakukan hampir seluruh Wilayah Indonesia, hal ini membuat miris bagi yang peduli dengan nasib anak bangsa. Diskusi Group dalam rangka Penelitian Keberhasilan Pelayanan Rehabilitasi Sosial Bagi Korban Penyalahgunaan NAPZA yang dilaksanakan Selasa (02/07) Dinas Sosial Kabupaten Banyuwangi bertempat di aula PMI Banyuwangi
Diskusi yang dipimpin Tatik Tina Melati, Kepala Bidang Daya Resos tersebut menghadirkan Narasumber Tri Gutarno dari Litbang Kemensos. Dengan dihadiri oleh beberapa komponen yang berkaitan dengan Rehabilitasi Penyalahgunaan PAPZA yang ada di Kabupaten Banyuwangi. Seperti yang disampaikan Ikhsan dari Lembaga Rehabilitasi Pencegahan Penyalahgunaan Narkotika Bnhayangkara Indonesia (LRPPNBI) menyampaikan bahwa pihaknhya merupakan salah satu lembaga yang menangani rehabilitasi penyalahgunaan NAPZA yang rata rata tiap bulan menangani 4 sampai 7 orang dimana cara penanganannya dengan cara Religi, Psikoterapi, Herbal, Aptercare, Community dan Medis.
Sementara itu Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi yang diwakili Analis PTK Syafaat menyampaikan bahwa Kementerian Agama mempunyai tenaga penyuluh Agama pada setiap Kecamatan yang salah satu tugasnya adalah melakukan penyuluhan dibidang penyalahgunaan NAPZA “para penyuluh tersebut secara rutin memberikan penyuluhan di Majlis Taklim sesuai dengan tugasnya” ungkap Syafaat, disamping beberapa Pondok pesantren yang secara khusus memberikan pengobatan kepada korban penyalahgunaan narkoba, ungkapnya lagi.
Tatik Tina Melati menyampaikan bahwa peran social masyarakat dan keluarga sangat dibutuhkan dalam rehabilitasi sosial  penyalah gunaan NAPZA, hal ini sangat penting dengan mengingat pelaku penyalahgunaan NAPZA butuh perhatian khusus. Berkaitan dengan penanggulangan dan rehabilitasi penyalahgunaan NAPZA, Tina (panggilan akrabnya) menyamopaikan bahwa di Banyuwangi semua stakeholder Dan pihak pihak terkait telah melaksanakan kegiatan berkaitan dengan Rehabilitasi penyalahgunaan NAPZA ini, seperti Kepolisian yang siap membantu 24 jam melalui Bhabinkamtimmas, Dinas Pendidikan melalui pendidikan Luar Sekolah, Lembaga lembaga Rehabilitasi Penyalahgunaan NAPZA, Pondok Pesantren serta Kementerian Agama dimana ada penyuluh Agama yang khusus menanganani penyalahgunaan NAPZA. Hanya saja semua seperti berjalan sendiri sendiri.
Hasil Diskusi berharap agar kedepan penanggulangan dan Rehabilitasi penyalahgunaan NAPZA dilaksanakan dengan koordinasi yang lebih baik lagi, sehingga korban penyalahgunaan NAPZA dapat dikurangi secara signifikan.

MENGENAL LEBIH DEKAT PAROKI MARIA RATU PARA RASUL BANYUWANGI


Curahjati merupakan dusun kecil di desa Grajagan yang terletak di ujung tenggara Pulau Jawa, dan masuk wilayah Kabupaten Banyuwangi.Berdasarkan SK Keuskupan, Paroki Curahjati resmi sebagai paroki sejak 01 Agustus 1956. Namun memang jauh sebelumnya, Paroki ini telah melalui sejarah yang panjang.Pada tahun 1924, para misionaris pertama dalam diri Romo Linus Henkens dan Romo Gias Wouters, merasa perlu untuk mendirikan Gereja Kecil di Pojok Timur dari Pulau Jawa sebagai tempat persemaian Kabar Gembira.Mereka merasa bahwa tempat tersebut adalah tempat yang dipilih Tuhan, dimana dari tempat tersebut nantinya akan menghasilkan buah-buah keselamatan. Dan dalam kenyataannya memang demikian adanya.Dari tempat ini telah menghasilkan tunas-tunas Gereja yang menyebar ke seluruh Nusantara sampai ke Ujung Timur.Karena semangat kerja kerasnya, mereka benar-benar telah mengalami hidup sejahtera disana.Mereka sukses menjadi petani-petani yang kaya dan maju.
Pada tanggal 06 Mei 1933, berdirilah Gereja di daerah Glagah Agung,Dusun Karetan. Selama berada di Glagah Agung, wilayah ini masih menjadi stasi dari Paroki Santo Yusuf Jember.Selama berada di wilayah tersebut, pernah dibuka Sekolah Rakyat Katolik (SRK) yang konon hancur pada masa pendudukan Jepang.
Namun ternyata Tuhan memiliki rencana lain. Karena adanya perubahan perencanaan yang dilaksanakan oleh Dinas Perhutani, maka terpaksa Gereja di Galagah Agung ini dipindahkan ke Desa Curahjati pada tahun 1945, seperti yang kita kenal saat ini. Penduduk serta segala yang ada disana juga harus pindah.Umat stasi Glagah Agung awalnya berasal dari orang-orang Jawa pindahan dari daerah Sukoreno, salah satu stasi Jember.Konon mereka adalah pendatang dari Kulon Progo, Kalibawang, Boro, Sendangsono – Jawa Tengah.Inilah sebabnya umat awal dari Gereja Curahjati terdiri dari berbagai macam suku.Sebagian dari tanah yang dulunya digunakan sebagai berdirinya Gereja di Glagah Agung sekarang menjadi SMPK Santo Agustinus, Glagah Agung, yang dikelolah oleh Yayasan Sang Timur. Sebagian lagi dijadikan hutan kembali setelah ditukar dengan tanah yang sekarang digunakan sebagai Susteran Sang Timur, TK dan SDK Sang Timur, serta pastoran Paroki Curahjati saat ini.
Dengan diresmikannya menjadi paroki Curahjati menjadi “induk” Gereja di wilayah antara Jember dan Banyuwangi yang meliputi Paroki Jajag, Paroki Genteng, stasi Kalibaru, Stasi Glenmore, dan lain-lain. Dapat dikatakan Curahjati merupakan cikal bakal Gereja di wilayah ini, karena Curahjatilah Gereja menyebar dan mengakar dan pada tahun 1970 berhasil meningkatkan wilayah Genteng dan sekitarnya menjadi paroki tersendiri.
Sejak ditetapkan sebagai paroki tersendiri, Paroki Curahjati memiliki wilayah yang cukup luas, yaitu meliputi seluruh wilayah Banyuwangi Selatan. Batas wilayah Paroki Curahjati untuk sebelahUtara berbatasan dengan Kecamatan Rogojampi, untuk bagian Selatan berbatasan dengan Laut Selatan (Pantai Grajagan), sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Siliragung, sedangkan untuk bagian Timur berbatasan dengan Taman Nasional Alas Purwo.
Kini dalam perjalanannya yang panjang, Gereja Katolik Maria Ratu Para Rasul Curahjati telah menampakkan kedewasaannya dan dapat mensejajarkan diri dengan Gereja Paroki yang sudah lama berdiri.Hal ini terjadi karena sikap dan semangat dari umat yang selalu ingin maju untuk dapat membaharui diri.Semangat gotong royong, setia pada tradisi, tanggap, kreatif, dan memiliki orang-orang yang tangguh dalam menghadapi setiap situasi menjadi kekuatan tersendiri dalam diri Gereja Katolik Maria Ratu Para Rasul Curahjati.Semangat gotong royong ini nampak saat perayaan HUT Paroki atau perayaan hari besar keagamaan. Mereka berupaya memberikan persembahan yang terbaik dari apa yang mereka miliki dalam bentuk persembahan hasil panen, karena mata pencaharian sebagian umat dari Paroki ini adalah seorang Petani. Apabila saat mengadakan pesta, Paroki tidak perlu banyak mengeluarkan biaya lagi.Panggung disiapkan dengan aneka atraksi kesenian yang diusung dari stasi dan lingkungan atau anak-anak sekolah.Hal ini dapat dilihat pada saat Perayaan Panca Windu Paroki pada tahun 1996.Perayaan ini dihadiri kurang lebih 1000 umat, tanpa anggaran konsumsi.Kok bisa? Makanan disiapkan dan dibawa oleh masing-masing lingkungan dan stasi, lalu makan  bersama di tempat pesta. Makanan berlimpah sehingga tamu merasa puas dengan sajian yang telah dihidangkan.Suasana hangat dan kekeluargaan menjadi perhatian utama bagi umat Paroki Curahjati.
Perkembangan Gereja Katolik Maria Ratu Para Rasul Curahjati tidak luput juga karena peranan dari para gembala yang senantiasa berusaha untuk dapat memotivasi dan membangkitkan inovasi umat agar mampu berkembang kearah yang lebih baik. Para gembala yang telah bertugas di Paroki Curahjati berupaya untuk memupuk kesadaran iman akan pengharapan dan kasih Yesus. Keberhasilan para gembala ini dapat dilihat dari munculnya biarawan-biarawati (putera-puteri) Paroki Curahjati yang kini telah mengabdikan dirinya dalam hal pelayanan Gereja.
Paroki Curahjati memiliki tradisi yang masih dilestarikan sampai saat ini yakni Safari Patung Bunda Maria.Tradisi ini bermula sejak tahun 2006, untuk memperingati HUT Paroki yang ke 50 tahun.Safari patung Bunda Maria ini dianggap memiliki nilai positif yang dapat dipetik terutama berkaitan dengan keguyuban umat. Setiap tahunnya, safari patung Bunda Maria ini akan dilaksanakan setiap tanggal 31 Mei, dimulai setelah Misa penutupan bulan Maria yang diadakan di Gua Maria Jatiningrum. Patung Bunda Maria ini akan diarak keliling 7 stasi dan pusat paroki, sampai nantinya akan berakhir menjelang GUT Paroki di awal bulan Agustus. Umat dari masing-masing stasi akan melakukan devosi setiap malamnya pada saat patung Bunda Maria ditempatkan pada stasi mereka.
Patung Bunda Maria ini merupakan patung pertama yang diletakkan di Gua Maria Jatiningrum dan memiliki sejarah berdirinya Paroki Curahjati. Romo Borggreve, O.Carm sebagai Pastor pertama di Paroki Curahjati yang mendatangkan Patung BUnda Maria ini secara langsung dari Yogyakarta. Hingga saat ini, patung tersebut masih terawat dengan baik di ruang semedi Gua Maria Jatiningrum. Saat melihat patung tersebut pastinya umat akan teringat tentang sejarah perjuangan paroki Curahjati terutama sejarah pembangunan Gua Maria Jatiningrum, dimana mereka dulunya harus mengumpulkan batu-batu yang ada didekat sungai untuk dibentuk menjadi Gua Maria.
Saat prosesi safari Patung Bunda Maria ini, biasanya bukan hanya mobil pengantar yang dihias seperti kendaraan saat karnaval, akan tetapi biasanya umat dari masing-masing stasi yang melakukan prosesi perarakan patung akan berpakaian unik juga. Tergantung dari kreatifitas dari masing-masing stasi. Inilah yang menjadi tradisi tersendiri bagi umat parok Curahjati dalam melakukan ujud syukur mereka dalam menyongsong HUT Paroki sekaligus upaya untuk tetap menjaga kekompakan antar umat Paroki Curahjati.
Memasuki usia yang ke-63 Tahun, Gereja Katolik Maria Ratu Para Rasul Curahjati berupaya untuk dapat melestarikan budaya setempat. Semangat inkulturasi gereja katolik sesudah Konsili Vatikan II betul-betul membumi di Paroki Curahjati.Secara sosiokultural, sebagian besar umat Curahjati masih sangat taat dan ngugemi budaya nenek moyang leluhurnya.Budaya jawa telah melekat pada diri kebanyakan umat katolik Curahjati.Kenyataan seperti ini merupakan sarana baik bagi pewartaan.Budaya Jawa memiliki nilai-nilai luhur yang dapat memperkokoh iman umat.Nilai-nilai yang mengandung unsur Kejawen sangat melekat kuat pada diri mereka, kendati mereka juga mengaku sebagai orang Katolik yang ajarannya sangat universal.
Ajaran Sosial Gereja yang bertentangan dengan nilai-nilai budayasetempat memang tidak direaksi tetapi juga tidak dijalankan.Maka dibutuhkan suatu metode pendekatan yang lebih berorientasi pada budaya untuk mewartakan ajaran kebenaran.Pada kurun waktu 1996-2000, Rm. Hugo Susdianto, O.Carm, dengan peralatan yang sederhana berupaya  mengumpulkan dan mengorganisir beberapa umat yang cinta dnegan kesenian jedor, lalu memasukkan grup jedor Katolik “Slaka Cupu Rohani” ke dalam misa. Dan ternyata hal ini dapat diterima oleh umat.Mereka menikmati percampuran antara nilai kebudayaan dengan tata liturgi gereja. Pada tahun 1999, Gereja Paroki pernah menyelenggarakan festival jedor dengan kelompok jedor “Kuntulan” dari umat Islam di Kecamatan Purwoharjo.
Rm. Yustinus Slamet Riyadi, O.Carm yang sudah sejak awal dikenal sebagai seorang dalang yang rohaniawan, pada tahun 2001-2006 sering menggelar peristiwa budaya, utamanya Pagelaran Wayang Kulit dan Karawitan di Lingkungan Gereja Katolik. Umat yang selama itu tidak pernah melibatkan diri dalam kehidupan menggereja, mulai sering datang ke pastoran untuk latihan Karawitan di Sanggar Seni Bodronoyo.Semakin hari semakin meningkat ketertarikan umat dalam kesenian di gereja dan tanpa mereka sadari mereka mulai aktif dalam kegiatan menggereja.Mereka mengajak teman-temannya yang non Katolik untuk berlatih bersama, berinteraksi, dan akhirnya membentuk paguyuban di bawah naungan Gereja Katolik.Disitulah karya pewartaan mulai bisa disentuh sedikit demi sedikit.
Wayang Kulit, Wayang Wahyu, gamelan, alat music campursari sudah tersedia dan terawatt dengan baik, akan tetapi tidak akan lengkap bila hanya digunakan sebagai sarana hiburan. Lagi-lagi Rm. Yus menggelar peristiwa Ruwatan secara Katolik, meski sangat kontroversional, menggabungkannya dengan dunia pewayangan.
Dari tahun ke tahun, permintaan ruwatan, baik dari kalangan umat atau non umat, dalam paroki maupun luar paroki Curahjati makin meningkat.Wayang dengan dalang dan penabuh gamelan lokal juga terlibat dalam ruwatan.Sehingga dalam setiap peristiwa Ruwatan dan pagelaran Wayang, Romo memasukkan nilai-nilai Katolisitas.
Bagaimanapun, bisa dilihat bahwa orang mulai mencintai Gereja, dalam hal ini ajaran Yesus sendiri melalui pintu budaya.Pedekatan melalui Budaya wayang dirasa lebih manjur untuk memobilisasi maupun meningkatkan minat dan kepedulian terhadap gereja.Budaya adalah universal.Maka melalui budaya yang sudah mengakar dalam masyarakat, Yesus diwartakan kepada semua orang.
Gereja Katolik memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi umat untuk mengembangkan budaya-budaya yang ada di lingkungan atau wilayah Paroki Curahjati.Semua ini dipakai sebagai sarana inkulturasi (memasukan unsur-unsur budaya setempat kedalam tata liturgi). Tidak hanya terpaku dengan kebudayaan jawa saja, namun Paroki Curahjati berupaya untuk dapat melihat nilai-nilai budaya lain yang kiranya masih dapat disatukan dengan tata liturgi gereja. Salah satunya adalah Seni Janger.Karena letak Kabupaten Banyuwangi berdekatan dengan Bali, budayanya pun tidaklah jauh berbeda.Demikian juga dengan kesenian yang dimiliki.
Kesenian Janger yang pada dasarnya merupakan salah satu kesenian dari Pulau Dewata mulai, mulai diperkenalkan di Paroki Curahjati.Kesenian ini mulai dikenalkan sebagai bagian dalam tata liturgy Gereja sejak tahun 2002.Salah seorang umat Paroki Curahjati menanggapi hal ini dengan positif.Beliau adalah Bapak Sarkam, yang mendukung masuknya budaya ini dengan alat musik Janger yang dimilikinya.Karena dianggap dengan masuknya seni janger (dalam segi musiknya) ini dapat memperkaya warna musik liturgi, maka mereka mulai mengembangkan dan dimanfaatkan pula sebagai musik pengiring liturgi Gereja.Musik Janger ini pada umumnya menggunakan lagu-lagu dari buku “Madah bakti” atau juga “Kidung Adi” yang berselaras pelog sehingga tidak sulit untuk disesuaikan dengan iringan Janger ini.Pemusik seni Janger ini sebagian besar juga merupakan pemusik seni Jedor.Seperti halnya para pemusik Jedor, para pemusik Janger ini pun melibatkan mereka yang non Katolik seperti Islam dan Hindu.Hal ini merupakan hal positif yang patut dibanggakan.
Dengan mengembangkan seni ini dalam liturgi Gereja, kita bukan saja mengembangkan seninya melainkan juga mengembangkan relasi harmonis dan persaudaraan yang menyatukan dengan umat beragama non Katolik.Umat Katolik Paroki Curahjati hidup di tengah mayoritas Islam dan juga Hindu.Keadaan seperti ini menjadi tantangan sekaligus peluang.Tantanganya adalah bagaimana umat paroki dapat menyesuaikan diri dalam hal mengembangkan kerukunan anatar umat beragama dan dapat menjalin relasi yang baik dengan orang sekitar. Dan peluang yang dapat diambil adalah dengan adanya perbedaan tersebut menjadikan umat paroki mau untuk belajar akan nilai-nilai dan kebuadayaan yang ada disekitarnya. Pewartaan iman tumbuh berkembang secara tidak langsung. Inilah gambaran Gereja ramah lingkungan melalui dialog budaya.


Sumber:
Buku 50 Tahun Paroki Curahjati “Kesaksian Gereja Pendoa Yang Ramah Lingkungan” Gereja Maria Ratu Para Rasul Curahjati, 2006

Pembinaan lembaga Baru dibawah Binaan Kemenag Kab. Banyuwangi



  Bidang Pendidikan Madrasah pada Kantor Wilayah Kementerian Agama Propinsi Jawa Timur melakukan pembinaan lembaga baru yang ada di Kabupaten Banyuwangi, sabtu (29/06). Pembinaan yang dilaksanakan tersebut dilakukan pada masing masing pengelola lembaga yang diwakili oleh Ketua yayasan yang membawahi Lembaga tersebut, Kepala RA/Madrasah serta wakil Kepala madrasah.
Tim yang dipimpin Kepala Seksi kelembagaan Bidang Pendma Kemenag Jatim Triyanto berharap dengan adanya pembinaan tersebut Lembaga baru yang ada di Kabupaten Banyuwangi dari mulai RA, MI, MTs serta MA yang seluruhnya berjumlah 21 lembaga tersebut dapat berjalan dengan maksimal dalam melaksanakan fungsinya sebagai lembaga pendidikan yang bercirikan keagamaan.
Kepala Seksi Pendidikan Madrasah pada Kemenag Kab. Banyuwangi Zaenal Abidin yang mendampingi Tim Kanwil menyampaikan : “Tahun ini ada beberapa lembaga Baru dibawah naungan kemenag Kabupaten Banyuwangi, yakni 7 RA, 2 Madrasah Ibtidaiyah, 6 Madrasah Tsanawiyah serta 6 Madrasah Aliyah” ungkapnya.
Adapun lembaga baru tersebut antara lain.:
1.      RA Al Barokah Sempu
2.      RA Quran Tunas Ceria Banyuwangi
3.      RA Al Fayyat Gumirih
4.      RA Darul Hidayah Tambong
5.      RA Islamiyah Kabat
6.      RA Tarbiyatut Tholabah Srono
7.      RA Ar Roudloh Blimbingsari
8.      MI Sabilul Hidayah Wringinputih
9.      MI Plus Tahfidzul Qur’an Wringinputih
10.   MTs Al Islamiyah Wongsorejo
11.   MTs Al Furqon Siliragung
12.   MTs Afifuddin Muhajir Kemiren
13.   MTs Al Muttaqin Bangorejo Srono
14.   MTs Model Darul Qur’an Srono
15.   MTs Unggulan Al Muayyad Gumirih
16.   MA Mutiara Imam Asy Syafii Genteng
17.   MA Syahadat Nabatussalam Siliragung
18.   MA Minhajut Thullab Sumberberas Muncar
19.   MA Alqur’an nahdlatuh Thullab Srono
20.   MA Darul Amien Jajag Gambiran
21.   MA Raudhatut Tholabah Genteng
 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger