Pages

Dialog lintas perfilman Kab, Banyuwangi


             Film bukan hanya dijadikan tontonan dan hiburan, tetapi juga harus mengedapankan sisi pendidikan, dan nilai nilai Agama. Itulah yang disampaikan Syafaat, analis data dan informasi pendidik dan Tenaga Kependidikan Kemenag Kabupaten Banyuwangi ketikaq diberi kesempatan untuk menyampaikan masukan dan  pertanyaan dalam kegiatan Dialog lintas Perfilman yang digagal Lembaga Sensor Film di Hall hotel Illira Sukowidi Banyuwangi, Rabu (26/06)
            Dalam diskusi dengan tema Meningkatkan Peran Massyarakat Dalam Budaya Sensor mandiri dengan Nara Sumber Dua orang anggota LSF, Wahyu Tri Hartati dan Dyah Citra menggagas perlunya Sensor Mandiri oleh Masyarakat dalam menikmati film yang ditayangkan, terutama di media Televisi. Menanggapi pertanyaan dari anggota PARFI Kabupaten Banyuwangi mengenai banyaknya Film Mistis yang dianggap hanya mengejar rating, Mbak Citra menyampaikan bahwa LSI sebagai lembaga sensor yang ada di Indonesia sebenarnya sudah berupaya semaksimal mungkin agar Film yang ada diproduksi bukan hanya sebagai tontonan dan hiburan, tetapi juga wahana pendidikan bagi masyarakat.
            Sementara itu Kholiqul Riho, Sekretaris Dinas Kebudayaan dan pariwisata Kabupaten Banyuwangi sebagai narasumber lokal menyampaikan bahwa Banyuwangi dengan |julukan The Sunrise Of Java menyambut baik kehadiran para produser film yang akan melaksanakan shoting dan mengambil Folklor atau cerita Rakyat yang ada di Kabupaten Banyuwangi, Riho juga menyampaikan bahwa dengan adanya “kulonuwun” tersebut film yang akan diproduksi akan terarah dan tidak akan merugikan kedua belah pihak. “Kita merasa kecolongan dengan salah satu film dengan Judul Perempuan Dari Tanah Jahanan, karena jika film tersebut mengambil alur cerita dari bumi Blambangan, maka akan merugikan Kabupaten Banyuwangi, dimana dalam film tersebut menggambarkan dari wilayah dengan budaya teluh dan santet” ungkapnya.
            Lebih lanjut Ridho menyampaikan bahwa tidak masalah jika produser film mengambil tempat syuting di Banyuwangi, namun jika mengkaitkan cerita film dengan wilayah Banyuwangi, maka hal ini dapat merugikan Banyuwangi. “orang akan takut ke Banyuwangi jika mendengar Banyuwangi sebagai Kota Santet”. Ungkapnya. “Padahal saat ini Santet nyaris tidak ditemukan di Kabupaten Banyuwangi” ungkapnya lagi.
            Sementara itu Wahyu dari LSF menyampaikan bahwa dengan perkembangan media sosial, beberapa produser film sengaja menyebarkan cuplikan film ke media sosial agar masyarakat menjadi penasaran dan ada keinginan kuat untuk menontonnya, padahal Film tersebut belum lolos sensor, dan belum tentu cuplikat film yang sudah beredar tersebut lolos sensor. Lebih lanjut Guru bahasa Indonesia ini menyampaikan bahwa kepentingan produser adalah bagaimana filmnya laku yang kadangkala mengabaikan norma yang berlaku.

            Berkaitan dengan unsur agama yang berada dalam film sebagaimana disampaikan Syafaat, Wahyu menjawab bahwa dalam LSI sudah ada perwakilan dari kementerian Agama, dan masalah ini yang sering disorot paling keras oleh anggota LSI dari kementerian Agama tersebut. “ anggotaq LSI ada perwakilan dari kementerian Agama, namanya Pak Nasrullah, beliau paling keras dalam masalah ini” ungkapnya.

Perwakilan Jumbara MAN 2 Banyuwangi

madrsah Aliyah negeri (MAN) 2 Banyuwangi berkesempatan menjadi salah satu sekolah yang terpilih menjadi perwakilan jumbara rovinsi.kali ini MAN 2 Banyuwangi mengirimkan 2 orang perwakilan yang ikut yaitu atas namaNafis Kumala dan Aldi Hermansyah.dan ke2 teman kita ini menjadi perwakilan di materi Kepemimpinan dan Sanitasi Kesehatan. perwakilan ini mendapat dampingan selama 4 kali Training Center(TC).dan TC terakhir pada hari rabu-jumat kemarin, TC ini bertujuan untuk mengasahlagimateri dan skill yang di miliki oleh para perwakilan jumbara provinsi.dan mereka juga slalu melakukan tes – tes yang di selai dengan humor oleh para fasilitator sehingga mereka tak merasa jenuh dan bosan untuk melakukan  TC.
Saya sangat senang dan bahagia saat saya terpilih menjadi salah satu perwakilan dari MAN 2 Banyuwangi dan PMI Kab.Banyuwangi di Jumbara Provinsi di tahun ini. saya berharap kepada sahabat wira untuk semangat lagi dalam belajar dan jangan pantang menyerah karna jumbara dan perlombaan di PMR itu sangat banyak jadi asahlah kemampuan kalian di berbagai lomba yang di adakan oleh berbagai intansi.ujarnafis
Kami sangat bangga atas prestasi yang di miliki oleh anak anak dan semoga mereka dapat membawa nama baik MAN 2 Banyuwangi ketingkat yang lebih tinggi lagi. dan saya berpesan agar nafis dan al dijaga kesehatan agar dapat mengikuti kegiatan dengan maksimal dan semoga bisa menjadi juara. jika dapat juara itu adalah hadiah untuk kalian jadi jangan pernah mengeluh dan tetap semangat

untuk kalian semua.ujarTashil

KUNJUNGAN PUSLITBANG KEMENTERIAN AGAMA DI PAROKI MARIA RATU DAMAI BANYUWANGI


KUNJUNGAN PUSLITBANG KEMENTERIAN AGAMA
DI PAROKI MARIA RATU DAMAI BANYUWANGI



Bertempat  di Pastoran Paroki Maria Ratu Damai Banyuwangi, tim Puslitbang Lektur Keagamaan Kamis (20/6) melakukan kunjungan berkaitan dengan penelitian Khazanah Kebudayaan yang dilaksanakan dari tanggal 17 hingga 23 Juni 2019. Pada kesempatan kali ini, Tim Puslitbang yang dipimpin Dr. Deden Burhanudin didampingi oleh Analis Data dan Informasi Pendidik dan Tenaga Kependidikan Kemenag Kab. Banyuwangi, Syafaat, dan Staf Penyelenggara Katolik, Maghdalena Intan ReVanda. disambut oleh Ketua Dewan Paroki Maria Ratu Damai Banyuwangi,  Arnoldus Yansen, beserta dengan salah seorang pengurus dewan Paroki, Yoseph Sumiyatna.
Dr.Dede Burhanudin atau yang akrab dipanggil Kang Dede menyampaikan bahwa maksud dan tujuan kedatangannya kepada pihak Gereja. “Kami melakukan penelitian tentang inventarisasi folklor (cerita) yang berkembang di agama-agama tentang kesalehan dan kebaikan dalam agama tersebut. Hal ini dilakukan agar memudahkan dalam melakukan pemetaan seluruh Indonesia yang berkaitan dengan khazanah kebudayaan dan agama” ungkapnya.
Mendengar penjelasan tersebut, pihak dari Paroki Maria Ratu Damai menanggapi hal tersebut dengan positif. Mereka berupaya untuk menjelaskan sejarah perkembangan dari Gereja Paroki Maria Ratu Damai sampai saat ini. “Semoga hal yang kami sampaikan dapat membantu dalam melengkapi penelitian dan juga akan bermanfaat dikemudian hari” ungkap Arnoldus Yansen.
Dengan adanya penelitian ini akan membantu untuk lebih mengenalkan mengenai sejarah dan nilai-nilai kebudayaan yang beragam yang ada di Indonesia, yang mungkin masih belum diketahui oleh kita semua. Besar harapan agar hasil penelitian ini dapat dijadikan sebuah buku yang dapat dinikmati oleh para pembacanya, sehingga dapat menambah wawasan mengenai Khazanah kebudayaan yang ada di Indonesia.
Setelah diterima di Pastoran, Tim Litbang melanjutkan penelitian di Gereja Maria Ratu Damai. Kang Dede sempat terkesima dengan Remaja Gereja yang sedang memainkan beberapa alat music gereja dimana mereka juga memainkan musik keroncong. “saat ini banyak anak muda yang “alergi” dengan keroncong, namun di Banyuwangi keroncong masih diminati remaja” ungkapnya.

Makam Den Daris Yang Melegenda

Sore Itu Tim Peneliti Khazanah Keagamaan dari Litbang Kementerian Agama yang dipimpin Dr. Dede Burhanuddin bersilaturakhmi ke lingkungan Makam Den Daris, bersama dua rekannya Kang Dede Ngobrol dengan Ketua Takmir Masjid selepas Sholat Ashar Berjamaah. Tema diskusi tanpa rokok dan kopi seputar legenda den Daris yang makamnya tepat disebelah barat Masjid, ada beberapa jenazah yang disemayamkan disana, namun makam tersebut bukanlah makam umum.
  Masyarakat sekitar mengenal dengan nama Den Daris, seorang kyai kampong yang tidak mempunyai pesantren, namun anehnya ketika beliau wafat, banyak santri dari Pondok pesantren lain yang melayat hingga jenazah dri rumah peristirahatan terahir sampai makam yang jaraknya beberapa ratus meter penuh dengan peziarah. Keranda jenazah seakan berjalan sendiri daiatas tangan tangan para santri tersebut.
Kyai Raden Darus Salam atau K.R. Dares Salam atau Kyai R. Daris Salam bukanlah ulama besar pada zamannya, menurut warga sekitar yang terletak di Dusun Kedungdandang Desa Tapanrejo Kecamatan Muncar Kabupaten Banyuwangi, beliau adalah kyai asal Magelang yang datang Ke Banyuwangi dan menikah dapat orang Banyuwangii. Bertempat tinggal di dusun kecil yang belum banyak penduduknya dengan membangun gubung kecil disamping sebuah Masjid, bahkan suatu kecika gukuk kecil tersebut tersapu banjir yang mengakibatkan beliau harus pindah ketempat lain dan membangun musholla kecil dipekarangan penduduk yang kemudian diambil menantu oleh pemilik lahan tersebut.
Menurut Mulyorejo Musriatmojo, tokok setempat menyampaikan bahwa Den Daris mempunyai karimah atau linuwih, suatu ketika beliatu silaturakhmi ke Pesantren yang ada di Blogagung tepatnya di kediamana KH Mukhtar Syafaat Abdul Ghofur dan menginap disana. Ketika adzan subuh beliau dibangunkan untuk diajak Jamaah, namun beliau menolak tanpa alas an yang jelas. Ketika KH Mukhtas Syafaat selesai Sholat Subuh, beliau mendapati Den Daris barusaja Sholat dan dzikjir diatas pelepah pisang. Karenanya Kh Mukhtar Syafaat Takdzim kepada Den Daris. Entah cerita ini ada kaitannya dengan Nama pondok Pesantren Darus Salam yang menjadi Pondok Pesantre terbesar di Kabupaten Banyuwangi atau tidak, namun cerita ini melegenda dikalangan masyarakat sekitar makam den Daris.
Banyak kisah yang patut diteladani dari den Daris yang dianggap mempunyai Ilmu linuwih tersebut yang salah satunya adalah beliau selalu memberikan uang yang didapatkannya kepada mertuanya disamping sebagian untuk kebutuhan istrinya,  beliau tidak mengambil sisa uang yang didapatkannya untuk keperluan pribadinya. Hidup yang sederhana dan selalu menolong sesame ini yang mungkin mendatangkan karomah bagi beliau. Ketika penduduk sekitar sakit, maka beliau menjenguk dan menolong dengan memberikan pengobatan meski tanpa permintaan dan pemberitahuan adanya tetanggga yang sakit tersebut. Mata batinnya seakan tahu jika ada tetangganya yang sedang sakit.
Mbah Mul (Panggilan akrak Mulyorejo) menyampaikan bahwa Den Daris yang makamnya satu lokasi dengan Mi Darus SHolah tersebut pernah pulang ke Magelang dengan berjalan kaki, kebetulan mertua Mbah Mul yang menemani. Perjalanan pulang tersebut dilakukan dengan sangat cepat dan tidak wajar, karena kecepatan berjalan seakan terbang diatas pepohonan dimana kecepatannya nyaris seperti kereta. Mertua mbah Mul yang saat itu digendong seperti masuk angin. Bahkan ketika pulang kembali ke Kedungdandang nyaris nggak disapa oleh isterinya karena ada keanehan dari wajah mertua Mbah Mul tersebut.
Mbah Mul juga bercerita bahwa menjelang wafatya beliau yang didahului dengan sakitnya beliau di tahun 1977, Mbah Mul yang mengabarkan wafatnya Den Daris kepada Keluarega blohagung yang jaraknya puluhan kilometer dari kediaman Den Daris di Desa Tapanrejo. Keluarga Blokagung seperti nggak percaya dengan wafatnya Den Daris tersebut, karena Mbah Mul yang menyampaikan bahwa Den Daris sudah 40 hari berbaring karena sakit tersebut dan tidak dapat kemana mana, namun keluarga Blokagung merasa bahwa beberapa hari Den Daris berkunjung dan menginap di Blokagung.

Halal Bihalal MAN 2 Banyuwangi


(14/06 ) Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Banyuwangi mengadakan acara halal bihalal yang di ikuti oleh seluruh siswa siswi MAN 2 Banyuwangi dan staf dewan guru.Halal bihalal ini merupakan acara saling bermaaf-maafan yang dilakukan pada Bulan Syawal.  acara yang di laksanakan pada pagi hari ini di mulai setelah mengajisampai selesai, sebelumacaradimulaisiswasiswiMAN 2 Banyuwangi dikumpulkandilapanganmujikanagaracaradapatterlaksanadenganlancar. Kegiatan ini bertujuan untuk untuk menjalin tali silaturahim dan mempererat tali persaudaraan, kegiatan ini di sambut oleh kepala sekolah sendiri ini kemudian di akhiri dengan bersalaman kepada guru guru dan karyawan MAN 2 Banyuwangi, kegiatan ini berjalan lancar walaupun hujan sempat mengguyur siswa siswi yang berbaris di lapangan majikan.

Saya sangat bersyukur atas terlaksananya acara halal bi halal ini.karna saya waktu idul fitri belum memiliki kesempatan untuk berkunjung dan meminta maaf pada dewan guru satu persatu.ujar arifkatul

Semoga di hari yang masih terasa idul fitri saya dan dewan guru mengucapkan minal aidzin wal faizin mohon maaf lahir dan batin.baik kesalahan yang di sengaja maupun yang tidak sengaja.semoga acara ini dapat mensucikan diri kita semua dari semua kesalahan dan kekhilafan yang telah terjadi selama setahun ini.ujar anwar

Apel diganti Sholat Dhuha


               Pagi itu saya tanpa harus absensi dikantor, saya segera menjemput Kang Dede, panggilan akrab Dede Burhanudin, peneliti dari Litbang Kementerian Agama. Saya bersama Tim peneliti Folklor Khazanah Keagamaan ingin bertemu dengan Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Banyuwangi dimana saya telah berkomunikasi sehari sebelumnya. Rencananya tepat Jam 07:00 saya sudah berada di Palinggihan (nama lain dari Pendopo) tersebut, namun karena bebera kendala yang diinginkan, kami datang beberapa menit lewat dari jam 07.
              
Saya mengenal Mohammad Yanuar Bramudya, Kepala Dinas Pariwisata ini sudah sejak lama. Lulusan Institut Pendidikan Dalam negeri (IPDN) ini meskipun tegas dalam memimpin, namun terlihat sangat santun dan akrap, tidak pernah terlihat membedakan orang lain yang tidak mempunyai  kedudukan dan jabatan seperti saya, mungkin karena kami seumuran sehingga mudah akrab, terlebih beliau sangat mudah diajak komunikasi tanpa harus menggunakan birokrasi yang ribet, apalagi dengan bahasa yang njlimet. Ketika saya menyampaikan maksud melalui WA mengenai maksud saya bersama Tim peneliti ingin bertemu berkaitsan dengan penelitian Folklor, beliau langsung welcome meskipun saya tidak menunjukkan surat tugas meskipun ada. Atau mungkin Mas Bram (begitu saya biasa memanggilnya) sangat yakin bahwa saya juga orang jujur seperti beliaunya.
               Saya sedikit terperanjat ketika mobil kami memasuki halaman Dinas Partiwisata saat itu, bukan karena wingit akibat aura beberapa benda benda kuno yang berada di Musium Blambangan yang berada disisi depan Kantor Dinas Tersebut, atau beberapa staf yang  terlihat lebih cantik dan elegan yang menyambut kami dengan senyum ramah dan memperkenalkan diri bernama Rista dan mempersilahkan kami menunggu diruangan asri dimana kami bertiga dipersilahkan membuat kopi sendiri, namun suasana Palinggihan yang penuh dengan suasana Religi.
               Pintu masuk Palinggihan yang dulunya Pendopo Kawedanan tersebut tertulis Suci, sepatu sandal harap dicopot. Nampak Manekin berbusana ksatria berada disisi kanan dan kiri pintu masuk tersebut, pakaian begitu seksi dan anggun, begitu juga dengan manekin ksatria yang begitu gagah menyapa. saya memperhatikan beberapa orang yang nampaknya staf pada dinas tersebut berbaris dengan pakaian rapi menutupi seluruh auratnya, para lelsaki semua tanpa memandang jabatan berada di barisan paling depan, dan disusul barisan kaum emak emak yang berada beberapa jengkal dibarisan belakang. Tyidak ada komando sebagaimana apel pagi yang dilaksanakan lazimnya pada sebuah Instansi yang dilaksanakan setiap pagi.
               Para pejabat dan staf Dinas Pariwisata tersebut memang tidak sedang melaksanakan apel pagi sebagaimana lazimnya dilakukan setiap Instansi Pemerintahan, namun di Instansi tersebut kegiatan apel pagi diganti dengan Sholat Dhuha bagi yang beragama Islam dan tidak sedang berhalangan. Sebuah inovasi yang sangat ruar biasa dilakukan pada sebuah instansi. “Apel itu laporan terhadap pimpinan, dan pimpinan memberikan arahan kepada bawahan, namun sholat merupakan laporan kita kepada Tuhan sang maha pencipta, dan Tuhan yang akan memberikan arahan kepada Kita” ungkap Abdullah Fauzi, salah seorang staf pada dinas tersebut.
               Sambil menikmati kopi lanang yang kami buat sendiri, kami disambut dengan baik oleh Mas Bram dan beberapa stafnya yang nampaknya mereka eselon tiga dan dua. Dengan pakaian serta hitam nan elegan, beberapa diantaranya mencopot songkok dan menggantikannya dengan udeng khas Banyuwangi, kami berbincang akrab mengenai perkembangan seni budaya dan Folklor yang ada di Kabupaten Banyuwangi. Saya tidak menyinggung kegiatan Sholat Dhuha yang dilaksanakan oleh para staf Dinas tersebut. Saya juga tidak membandingkan dengan Sholat Dhuha yang dilaksanakan di Kantor kami yang dilaksanakan sendiri senndiri dan tidak semua melaksanakannya. Saya jadi malu dengan tulisan yang ada didepan Masjid dilingkungan Kantor kami yang tertuliskan Sholat Jamaah awal waktu, dimana beberapa kali saya sering telat ikut berjamaah.
               Kami masih menikmati kopi lanang yang khas tersebut. Kebetulan kopi yang oleh entah siapa diberi nama kopi lanang yang buahnya wungkul, tidak seperti kopi biasanya yang bijinya pecah jadi dua, dan kebetulan kopi tersebut kami seduh sendiri yang juga kebetulan rombongan kami seluruhnya lanang, karenanya pas jika kami menikmati kopi lanang yang konon juga dapat menambah vitalitas kaum lanang. Keakraban kami membiicarakan Floktor yang berkaitan antara kebudayaan dan keyakinan sebuah agama semakin gayeng hingga tak terasa saya mengjabislan beberapa pisang goring yang disiuguhkan.  Dan bagi saya menjadi tidak penting cerita verita folklore yang seharusnya memang menjadi tugas dan tujuan kami datang ke dinas pariwisata tersebut dibandungkan dengan yang kami saksikan bahwa Apel pagi digantikan dengan Sholat Dhuda bersama, yang mungkin pada suatu saat nanti mernjadi folklore bagi anak cucu kita.

Perkenalkan Tokok Budaya Lokal Pada Anak Madrasah



Diskusi menarik yang dilaksanakan Tim Peneliti Litbang Kementerian Agama yang dipimpin Dr. Dede Buehanudin di Madrasah Tsanawiyah Al Islam Desa Tembokrejo Kecaamatan Muncar Selasa (18/6)/2019 bersama perwakilan Guru dan masyarakat setempat sangat menarik, terlebih sebagaimana yang disampaikan Kang Dede (peneliti dari Litbang) bahwa seharusnya anak didik kita lebih mengenal Pahlawan Imajiner dari lokal daripada Superman maupun Spiderman, anak anak semestinya juga mengenal cerita rakyat (Folklor) meskipun juga perlu mengenal dongeng import.
Penelitian Folklor Religi Nusantara yang dilaksanakan di Kabupaten Banyuwangi pada hari kedua tersebut dilaksanakan diwilayah Kecamatan Muncar, dimana didaerah ini Banyak Folklor yang berkembang, terlebih daerah ini pernah menjadi Ibukota Kerajaan Blambangan yang pernah Berjaya dizamannya, konon di teluk Pampang yang berada diperairan Muncar ini pula Bayi Sunan Giri yang juga ada garis keturunan dari Kerajaan Blambangan dari garis Ibu, dilarung ditengah laut agar nantinya dapat terselamatkan. Konon cerita ini ada kaitannya dengan upacara adat petik laut yang dilaksanakan masyarakat sekitar teluk pampang tersebut setiap tanggal 15 Muharam atau 15 Suro.
Dengan dipandu Peneliti Lokal dari Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi Syafaat, Peneliti dari Litbang juga mengunjungi beberapa Situs Sejarah yang ada diwilayah Tersebut. Hal yang menarik adalah ketika Tim mengunjungi Situs Ompak Songo yang berada beberapa tidak lebih 300 meter dari Kampus MTs Al Islah, dimana dekat Situs peninggalan Kerajaan Hindu tersebut dibangun Musholla, karena situs tersebut berada dipermukiman penduduk yang mayoritas beragama Islam, dimana Madsyarakat sekitar merawat dengan baik situs bersejarah yang kono ompak songo tersebut sebagaimana disampaikan Jurukunci, merupakan Balairung atau Induk Istana dimana dalam sejarah kerajaan Balairung dipergunakan sebagai tempat musyawarah dewan menteri bersama raja. Para peziarah situs beragama Hindu sering melakukan ritual didalam cagar budaya tersebut, dan meskipun sangat dekat dengan Musholla, namun mereka saling menghormati.
“Sejarah dan Folklor merupakan khazanah  Budaya bangsa yang harus kita lestarikan” Ungkap Mohammad Rofiuddin, Kepala MTs Al Islah, Rofik (Panggilan akrabnya) tertarik dengsa yang disampaikan Tim Peneliti dari Litbang tersebut, terlebih disekitar MTs Al Islah banyak situs bersejarah dan Folklor atau cerita rakyat yang berkembang, karenanya sangat aneh jika masyarakat sektar tidak mengenal situs sejarah yang ada diwilayahnya. Kepala Madrasah penuh ide tersebut juga berharap pemerintah lebih memperhatikan perawatan beberapa situs sejarah yang ada diwilayah Kecamatan Muncar.
Sementara itu Analis Data dan Informasi Pendidik dan Tenaga Kependidikan Kemenag Kab Banyuwang Syafaat yang juga Peneliti lokal menyampaikan bahwa Folklor yang berkembang pada Masyarakat mengenai Tokoh Lokal Raja Blambangan yang terkenal Yakni Minak Jinggo, berbeda versi. Syafaat menyampaikan bahwa Folklor Minak Jinggo merupakan Raja yang sangat bijaksana dalam memimpin Kerajaan dan dikenal sangat sakti dengan senjata Gada kuningnya. Ketika berada di Situs Sitihinggil atau lebih dikenal dengan nama setinggil yang berada di pantai Muncar, Syafaat menyampaikan bahwa Folklor yang berkembang mengenai situs Siti Hinggil tersebut konon dulu dijadikan tempat istirahat Minak Jinggo sambil memandang laut yang sangat jelas terlihat dari Siti Hinggil yang memang berada ditempat ketinggian tersebut. Sebagaimana disampaikan Juru Kunci Setinggil Asmaul Khusnah, para perang antara Majapahit dengan Blambangan, dari Sstinggil ini pula Minak jingo dapat mengeluarkan kesaktiannya, dan Panglima Tentara Majapahit yang menyerang Blambangan dengan Kendaraan Keretanya dikutuk menjadi Batu, dimana saat ini Kereta Panglima Majapahit ini oleh masyarakat setempat dikenal dengan nama “Watu Kreto” yang letaknya beberapa ratus meter ditengah laut, hal ini menurut masyarakat setempat dikarenakan abrasi sehingga Kereta Panglima Majapahit yang dulunya berada didaratan tersebut sekarang berada di laut,
Cerita cerita Rakyat atau dikenal dengan istilah Folklor tersebut belum dibukukan, karenanya sangat memungkinlan cerita rahyat tersebut dapat Musnah dan tergantikan dengan cerita imajiner modern dari dunia barat, dan hal inilkah yang sangat disayangkan oleh pemerintah dan akan terus digali, oleh Litbang Kementerian Agama terutama yang berkaitan dengan Religi. (syafaat)

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger