Pages

Bukan Tentang Wulandari

 *Bukan Tentang Wulandari*

oleh : Syafaat

Tentang puisi-puisi Romansa

Tentang Wulandari yang selalu ada di setiap puisi

Tentang cerita lelaki dewasa

Yang mati di usung puisinya sendiri


Ini kisah Lentera Sastra

Tak ada lagi lalu lalang puisi

Semua terhenti

Tergeletak dibawah pohon bambu di pemakaman rindu

Di pojok belakang rumah masa depan yang kutinggalkan

Kata dan kalimat tak dapat lagi

Menyembunyikan cinta yang berhamburan


Lelaki dewasa itu tersenyum sendiri

Menuliskan nada religi dalam sajak bisu

Dia selalu menulis puisi, dan membiarkan mencari takdirnya sendiri

Bidadari pujaannya selalu menghardik puisi puisi itu agar lekas pergi

Lelaki dewasa yang menulis puisi itu diam dan terus membuncahkan libido puisi

Hasratnya tak lagi menggebu

Dia tertidur dalam bayangannya sendiri

Menunggu puisinya kembali

Mantra Romanza

 *Mantra Romanza*

oleh : Syafaat

Diam diam kubaca mantra

Dari kitab Romanza

Kuhayati seakan mengerti makna

Untuk Wulandari dengan segenap cinta


Aku tak ingin tertukar nama

Satu persatu kalimat kueja

Sambil kutabur kembang tujuh rupa

Berderai air mata, kupuja nama


Bidadariku berselendang sutra

Rindu dendam tersirat dibalik senyumnya

Telah kuikat dengan perjanjian jiwa


Cintaku telah terjepit rongga asmara

Membelai angan yang selalu menggoda

Wulandari tersenyum menyuguhkan luka

Menghantarkan angan surga


Belati cinta menghujam lara

Puisi tak mampu lagi membalut duka

Ketika puncak kerinduan menghimpit Sukma

Aku pasrah pada takdir yang kuasa

Kamis, 25022021 (Tujuh hari meninggalnya Romanza)

Sepasang Kamboja

 “Sepasang Kamboja”

oleh : Dardiri

Kamu ingin menulis lagi, 

Pada selembar daun bambu yang jatuh karena cumbuan angin di teras rumahmu,


Kamu ingin bercerita lagi,

Pada sepasang kamboja yang belum sempat berbunga dan lalu ditancapkan begitu saja di pelataran rumahmu,


Kamu ingin berkisah lagi,

Pada jalan setapak yang sempit terhimpit bangunan sejenis pasak tidak begitu panjang di kiri dan kananmu,


Kamu ingin melukis lagi,

Pada batang-batang rumput yang dengan sekejap menjamur di sana usai hujan berdatangan dan bertamu padamu malam itu,


Kamu ingin berbicara lagi,

Pada sekuntum sepi yang dulu sering kau tangkup dalam cakrawala igauan dan lalu kau tuangkan ke sebuah nampan besar berisi sajak-sajak biru,


Kamu ingin mengajakku bercakap-cakap lagi,

Tentang pagi yang bergerigi, senja yang tiba-tiba menyala, malam yang dengan rakusnya menjadi geram, fajar yang senantiasa menebar pijar menjalar,

Tentang belati yang tajam melindap dendam, 

Tentang gerimis yang berganti-ganti wajah menjadi rinai dan rintik juga gerimpis,

Tentang melati yang menjadi belukar tanpa duri di belantara mimpi,

Tentang rindu yang menyelinap perlahan lalu menjadi semacam perahu keemasan di lautan ingatan,

Tentang segala yang nampak dan tak kasat mata,

Tentang kita,


Aku tahu itu,

Tetapi ada yang lebih tahu dariku,

Ada yang lebih mengerti dari sekedar pengertianku,

Ada yang jauh lebih berkehendak dari setumpuk harapanku,


Dia,

Yang menitipkan ruh dalam kata-kata dan menghidupkannya dalam percakapan kita,

Telah memanggilmu,

Sebelum sempat kau tuntaskan kata-kata terakhir bersamaku, 

Dan kamu tak mungkin untuk mangkir dari panggilan itu,


Kamu pergi jauh mengikuti kehendak  Seniman Agung pemegang ruh dan Pelukis Abadi kendali kodrati,

Dan kutahu,

Kau tak mungkin kembali,


Selamat jalan saudaraku,

Berbaringlah di atas dipan pemberian Tuhan,

Di rumah sederhana berdinding tanah beratap sepasang kamboja dan daun bambu yang sesekali berguguran di atasnya,

Di kala haru biru rindu itu datang dari dunia yang tak kuketahui asalnya,

Izinkan ia menjadi doa yang diam-diam bertamu padamu,


Dan,

Kelak,

Sewaktu-waktu kubacakan romansa terakhirmu di sana,-


(Tulisan ini didedikasikan untuk mengenang sekaligus doa tepat 7 hari wafatnya Yth. Alm. Bpk. Achlis Yusrianto Allahu Yarham)


(K G P H : 25 Februari 2021)

Guru Harus Bersikap SEWOT

 Guru Harus Bersikap SEWOT

Achmad Nadzir, S.Pd*


Standar kompetensi minimal guru belum terpenuhi, meski program sertifikasi guru telah digulirkan sejak tahun 2006. Padahal guru menjadi kunci dalam meningkatkan kualitas Pendidikan. Fakta di tahun 2016, kualitas pendidikan di Indonesia berada diperingkat ke-62 dari 69 negara (Syarifudin Yunus, DetikNews). Hal tersebut menjadi cermin konkret kualitas guru di Indonesia. Di tahun 2017 masih kita ingat bagaimana penerapan sekolah lima hari menimbulkan polemik, bahkan penerapan kurikulum 2013 yang “terpaksa” diterapkan dan gagal akibat guru belum kompeten dan siap, sehingga pembelajaran tidak berjalan optimal.

Membahas kompetensi profesional guru, perlu membuat pemetaan atas faktor-faktor penyebabnya. Ketidaksesuaian antara pelajaran yang diampu dengan latar belakang akademik, sehingga timbul permasalahan terutama dalam aspek pedagogik. Sikap acuh dan tidak mau mengembangkan diri, membuat guru malas untuk menambah pengetahuan dan kompetensinya. Melihat keadaan di lapangan, bagaimana guru banyak yang tidak mau menulis, tidak melakukan perbaikan dan inovasi dalam pembelajaran, menjadi indikator bagaimana profesionalisme guru di Indonesia. Kompetensi profesional guru antara harapan dan kenyataan, begitu jelas kesenjangannya.

    Ditegaskan dalam pasal 10 ayat 1 Undang-undang nomor 14 tahun 2005, bahwa guru harus memiliki empat kompetensi. Satu dari empat kompetensi tersebut adalah kompentensi kepribadian yang sangat penting untuk dipenuhi. Kompetensi kepribadian guru masih semu karena masih banyak permasalahan yang terjadi di sekolah timbul karena permasalahan pribadi guru. Hal tersebut bisa dikomparasikan antara kenyataan dilapangan dengan Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan  dan Permendiknas nomor 16 tahun 2007 tentang Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru.

Acuh, sikap guru yang membunuh. Ungkapan tersebut begitu cocok bagi guru yang merasa dirinya sudah baik dan tidak peduli dengan lingkungan sekitar, baik ketika di sekolah maupun di rumah. Keengganan untuk berempati dan simpati dengan lingkungan sekitar, menjadi jurang pemisah antara orang yang selayaknya digugu dan ditiru oleh siswa dan masyarakat.

Pola pikir pada seorang guru, juga  menjadi indikator bagaimana dia patut untuk diteladani atau tidak. Mindset guru yang beku, menjadi penghalang lahirnya perubahan dan inovasi. Bisa kita saksikan bersama, bagaimana penerapan kurikulum 2013 tidak maksimal dan sesuai harapan bahkan bisa dikatakan gagal. Hal itu dikarenakan gagalnya pola pikir guru dalam memahami proses dan penilaian pembelajaran yang seharusnya diterapkan.

Standar kompetensi minimal guru menjadi hal urgen yang perlu diperhatikan bersama. Sebagaimana pasal 10 ayat 1 Undang-undang nomor 14 tahun 2005, bahwa guru Seorang guru harus memiliki empat kompetensi minimal yang dipersayaratkan. Menurut pasal 10 ayat 1 Undang-undang nomor 14 tahun 2005 empat kompetensi guru tersebut adalah kompetensi profesional, pedagogik, sosial, dan kepribadian. Keempat kompetensi tersebut saling terkait, sehingga perlu dipenuhi oleh seseorang yang ingin berprofesi sebagai guru.

Kompetensi pertama yang harus dipenuhi dan kuasai oleh seorang guru adalah kompetensi profesional. Kompetensi prosefional adalah kemampuan seorang guru dalam mengelola proses pembelajaran. Guru harus mampu mengelola pembelajaran, kelas, menguasai materi yang akan diajarkan, strategi mengajar dan penggunaan media pembelajaran. 

Kepribadian, setali tiga uang dengan kompetensi lain yang wajib dipenuhi oleh seorang guru. Dalam menjalankan tugas dan fungsinya, sikap dan kepribadian yang baik menjadi keniscayaan bagi seorang guru. Digugu dan ditiru merupakan hal yang perlu disadari dan menunjukkan bagaimana seorang guru harus mempunyai kemampuan dalam menjadi pribadi yang baik. Menjadi pribadi yang diteladi oleh siswa dan masyarakat sekitarnya, atas ilmu dan sikap serta kepribadiannya.

Pengejawantahan atas empat kompetensi minimal bagi guru khususnya kompetensi sosial, maka seorang guru tidak boleh acuh. Seorang guru harus mampu berkomunikasi dan berinteraksi baik dengan warga sekolah (siswa, guru, orang tua) maupun warga sekitar di mana dia berada. Bagaimana guru tidak acuh terhadap kehidupan sekitarnya, dapat dilihat dalam pergaulan dengan siswa, guru lain sebagai rekan kerja, orang tua siswa, dan masyarakat lainnya. 

Hal mendasar yang patut menjadi perhatian agar keempat kompetensi minimal bagi seorang guru terpenuhi adalah adanya perubahan pola pikir. Metamorfosis mindset guru perlu dibenahi agar kualitas dan kuantitas pendidikan di Indonesia menjadi lebih baik. Sikap apa yang perlu ditanamkan pada diri seorang guru agar pola pikirnya berubah? Sikap SEWOT menjadi hal penting agar terjadi perubahan pola pikir pada diri guru.

Seorang guru harus bisa Synergy agar bisa mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan dan harapkan. Guru perlu melakukan sikap sinergi dengan stakeholder yang ada, baik di sekolah maupun di luar sekolah. Sebagaimana pendapat Indah Kusuma Dewi dalam bukunya Nilai-nilai Profetik dalam Kepemimpinan, melalui sikap sinergi, guru bisa melakukan sharing pendapat dan pengalaman tentang bagaimana mengajar yang efektif dan menyelesaikan beragam persoalan dan hambatan yang dihadapi.

Empower merupakan sikap yang perlu ada pada diri seorang guru. Dalam proses pembelajaran, guru bukan hanya sekadar memberi perintah kepada anak didik, tetapi lebih dari itu adalah memberdayakan mereka. Guru harus terus berusaha melakukan penyesuaian antara program pembelajaran dengan berbagai dinamika perkembangan zaman yang terus dinamis (Frans Mardi Hartanto: 533). Proses pembelajaran yang dilakukan atau laksanakan harus selalu aktual.

Weaknesess merupakan sikap yang sangat perlu dilakukan oleh seorang guru. Proses muhasabah (intropeksi diri) atas kelemahan dan kekurang diri akan meningkatkan kesadaran untuk senantiasa meningkatkan pengembangan dirinya. Kesadaran akan kedisiplinan, pemenuhan media yang digunakan, meningkatkan semangat kerja, melaksanakan tugas dengan baik, dedikasi yang tinggi, perlunya menguasai teori-teori belajar dan mengajar, menjadi hal yang niscaya tumbuh dan dimiliki oleh seorang guru

Oppurtunity menjadi sebuah sikap yang patut dimliki oleh seorang guru. Dia harus mampu melihat kesempatan atau peluang yang ada bagi peserta didik guna mengenal dan mempelajari hal-hal baru. Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi informasi dan transportasi harus disikapi arif dan bijaksana, agar peserta didik dapat mengikuti perkembangan yang terjadi. Guru perlu melakukan peningkatan kemampuan dirinya secara berkesimbanguan. Mengikuti diklat, workshop, seminar, dan Penilaian Kinerja Guru secara kontinyu agar kemampuan dan keterampilannya meningkat. Selain itu, guru juga harus mampu berkolaborasi dengan stakeholder agar dukungan terus mengalir guna mendayagunakan sarana dan prasarana yang ada dalam rangka memberikan pelayanan pendidikan yang bermutu.

Guru juga harus bersikap selalu Threats (waspada) terhadap setiap ancaman. Perilaku dan budaya yang semakin terbuka dan bebas, menjadi tantangan tersendiri bagi dunia pendidikan. Bagaimana guru membekali dan membentengi peserta didik dari perilaku-perilaku negatif yang dapat merusak tatanan nilai, etika, dan budaya generasi bangsa ini agar tetap berperilaku yang berkearifan lokal. Oleh karenanya, konten pembelajaran harus tetap dibingkai oleh tatanan agama, etika, moral, dan nilai-nilai yang baik melalui keteladanan yang dicontohkan oleh guru.





Profil Penulis:


Achmad Nadzir, S.Pd. 

Guru kelas pada MIN 1 Banyuwangi. 

HP: 087876990725

Email: achmadnadzir15@yahoo.com

LANTUNKANLAH

 LANTUNKANLAH

oleh : Faiz Abadi

Lantunkanlah

Di segenap penjuru ruang dan waktu

Sholallahu ala muhammad

Sholallahu alaihi wassalam

Nafas terbatas

Dalam segenap penjuru angin tanpa jejak berbekas

Terus gemakan

Kemudian apa yang kau ragukan

Derukan dalam setiap pengakuan

La ilaaha illallah muhammadarasulullah

La ilaaha illallah muhammadarasulullah

La ilaaha illallah muhammadarasulullah

Semuanya ada karena kehendaknya

Semua tercipta karena iradatNya

Bumi dan langit terus berputar

Karena kehendakNya

Terus lantunkan

Sholallahu ala muhammad 

Sholallahu alaihi wassalam

Katakan tiada tuhan selain Dia

La ilaaha illallah

Telah terpayungi segenap kasih cinta untuk alam semesta

Muhammadarasulullah

Segala perkataanNya

Segala ucapanNya

Cukup kata kata " Jadi"

Maka semua jadilah

Terus lantunkan 

Terus lanjutkan

Jangan sampai engkau tinggalkan

La ilaaha illallah

Muhammadarasulullah

Semuanya kepastian

Mulailah dari segenap kesucian

Kemudian segenap pujian

Pastilah menuju pengakuan 

Tertunduk menuju kebesaran

Subhanallah

Wallhamdulillah

Wala ilaaha illallah

Wallahu akbar

Lenyaplah segenap keakuan

Apapun jua tiada lagi pula pengakuan

Mengalirlah semua kelakuan menuju keluguan

Semua awalnya ketiadaan

Lahir lenyap lahir kembali lenyap kembali lahir kembali

Karena keadaan AdaNya

Niscaya

 “Niscaya”

oleh : Handaru

Masih,

Tentu tidak serta-merta menghilang begitu saja,

Pernah,

Suatu ketika,

Kamu mengajariku tentang angka-angka,

Aku memberimu kata-kata,

Kamu menuliskan abjad di belakang angka yang kubuat,

Aku memberimu kata sesudahnya dengan rahasia,


Kita tidak pernah berjanji,

Tetapi kita saling mengerti,

Kita tidak pernah mengumbar keniscayaan,

Tetapi kita saling memamahamkan kepercayaan,

Karena janji berawal dari kepercayaan,

Dan,

Saling mengerti adalah keniscayaan,


Tak ada yang tahu,

Bahwa sebenarnyalah angka dan abjad yang tersemat tak lebih seperti sungai berbatu yang kita lewati begitu saja atau kita seberangi dalam waktu yang tidak begitu lama,

Karena layar memang tak dibutuhkan untuk menyeberangi sungai berbatu yang didiami riak dan jeram berkejaran,

Selalu,

Ketika kukatakan lelah,

Kamu bilang bukan,

Ketika kutawarkan berhenti,

Kamu bilang tidak,

Ketika kuberikan peristirahatan sejenak,

Kamu bilang jangan,


Sungai berbatu yang mengalir dari negeri cahaya dan didiami riak serta jeram itu tetap mengalir,

Sesekali menerjang patahan ranting dan kayu juga rimbun bambu,

Melewati ngarai, lembah, dan menghardik jurang-jurang gelap,

Dan terus bersenyawa dalam butiran napas,

Mencari muara ketika senja mungkin tengah menyingsingkan pergelangan malam,


Kita tak butuh layar,

Kita tak perlu sampan,

Karena kita menyisipkan pendar ingatan dalam buluh darah yang tak selamanya merah,


Dan

Ketika kukatakan masih,

Kau tak mengatakan apa-apa lagi,-


(Tulisan ini didedikasikan untuk mengenang sekaligus doa tepat 3 hari wafatnya Yth. Alm. Bpk. Achlis Yusrianto Allahu Yarham)


(K G P H : 21 Februari 2021)

JANGAN LAGI KAU RENGGUT PAKSA

 JANGAN LAGI KAU RENGGUT PAKSA

Oleh : Sulistyowati

Telah kau renggut paksa saudaraku

Telah kau renggut paksa sahabatku

Jangan main paksa ambil yang bukan kau punya 

Biarkan yang maha empunya yang akan mengambilnya

Apakah kau sudah mati rasa

Tak kau lihat air mata jutaan keluarga

Menangis,  meratapi atas kehilangan orang terkasihnya

Cukup cukuplah sudah

Jangan kau tebar derita lara

Tuhan jika ini adalah perpanjangan tanganMu

Jika ini semua atas titahMu

Hamba akan belajar mengihklaskannya

Walau sebenarnya tak rela

Hamba akan belajar memaknai setiap kalam 

Walau sebenarnya aku belum paham...

Alfatekha....

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger