Pages

SAMBUTAN NENTERI AGAMA AMAL BAKTI (HAB) KE-75 KEMENTERIAN AGAMA

 SAMBUTAN MENTERI AGAMA RI

PADA UPACARA HARI AMAL BAKTI (HAB) KE-75
KEMENTERIAN AGAMA
TAHUN 2021


Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Selamat pagi,

Salam sejahtera bagi kita semua,

Syalom, Oom Swastiastu, Namo Buddhaya,

Wei Tek Tung Tien, Salam Kebajikan


Para Pegawai Kementerian Agama;

Seluruh peserta upacara yang saya hormati,


Syukur alhamdulillah, teriring rasa syukur atas limpahan karunia Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, pagi ini kita dapat melaksanakan Upacara Peringatan Hari Amal Bakti (HAB) ke-75 Kementerian Agama Republik Indonesia.


Kementerian Agama secara resmi berdiri pada tanggal 3 Januari 1946. Sejak dibentuk melalui usulan sejumlah tokoh ulama dalam sidang Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP), Kementerian Agama yang pertama kali dipimpin oleh Menteri Agama Haji Mohammad Rasjidi telah melintasi sejarahnya yang panjang.


Selayaknya kita berterima kasih dan mendoakan semoga amal bakti para perintis, pendiri dan pembangun Kementerian Agama mendapat ridla dari Tuhan Yang Maha Kuasa, dan kita semua diberi kekuatan dalam melanjutkan cita-cita mereka untuk kepentingan bangsa, negara dan agama.


Di usia 75 tahun Kementerian Agama, mari kita memaknai segala prestasi yang telah dicapai dan menempatkannya sebagai momentum untuk menebalkan niat dan motivasi dalam mencapai yang lebih baik lagi di masa mendatang. Kementerian Agama memberikan anugerah penghargaan dan apresiasi kepada seluruh elemen umat beragama tanpa membedakan satu sama lain, atas dukungan, sinergi dan kebersamaannya mengawal tugas-tugas Kementerian Agama.


Saudara-saudara yang berbahagia,


Peringatan Hari Amal Bakti tahun ini mengusung tema "Indonesia Rukun". Tema ini sejalan dengan semangat nasional yang menempatkan kerukunan umat beragama sebagai salah satu modal bangsa ini untuk maju. Tanpa kerukunan, akan sukar menggapai cita-cita besar bangsa agar sejajar dengan bangsa lain di dunia. 


Pengembangan toleransi dan kerukunan antarumat beragama merupakan karya bersama para Tokoh Agama, para Menteri Agama dan aparatur Kementerian Agama dari masa ke masa. Tanpa toleransi, tidak ada kerukunan. Toleransi dan kerukunan antarumat beragama dilakukan dengan tanpa mengusik akidah dan keimanan masing-masing pemeluk agama. Pengalaman membuktikan toleransi dan kerukunan tidak tercipta hanya dari satu pihak, sedangkan pihak yang lain berpegang pada hakhaknya sendiri. Dewasa ini, kita mengembangkan moderasi beragama, agar toleransi dan kerukunan yang sudah ada lebih mengakar di dalam kehidupan sehari-hari bangsa kita.


Di negara yang berdasarkan Pancasila ini, tidak ada diktator mayoritas atau tirani minoritas. Dalam kaitan itu, semua umat beragama dituntut untuk saling menghormati hak dan kewajiban masing-masing, di mana hak seseorang dibatasi oleh hak-hak orang lain.


Pancasila adalah ideologi pemersatu yang merangkum nilai-nilai keindonesiaan sebagai bangsa yang beragama. Sila pertama dan utama Pancasila, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa, meneguhkan identitas nasional sebagai bangsa yang beragama dan bermoral. Komitmen religius dan moralitas menjadi barometer apakah suatu bangsa dapat menjadi bangsa yang besar atau tidak. Sejalan dengan itu, tugas dan tanggungjawab sejarah bagi seluruh bangsa Indonesia adalah mengisi negara yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa ini sejalan dengan asas demokrasi dan kedaulatan rakyat. Bangsa Indonesia, dari generasi ke generasi harus bisa menjaga komitmen nasional tentang landasan bernegara di tengah dahsyatnya percaturan global di bidang geopolitik, ekonomi, kebudayaan, ilmu pengetahuan, teknologi dan lain-lain.


Saudara-saudara yang berbahagia,


Dalam kesempatan ini, saya ingin mengingatkan tentang semangat Kementerian Agama baru dan semangat baru dalam mengelola Kementerian Agama.


Semangat Kementerian Agama baru itu dapat diterjemahkan dengan beberapa kata kunci.


Pertama, manajemen pelayanan dan tata kelola birokrasi yang harus semakin baik, termasuk di dalamnya pelayanan penyelenggaraan haji dan umrah, pendidikan agama dan keagamaan, serta pusat pelayanan keagamaan.


Kedua, penguatan moderasi beragama. Salah satu penekanan moderasi beragama adalah pada penguatan literasi keagamaan, budaya toleransi, dan nilai-nilai kebangsaan.


Ketiga, persaudaraan, yang meliputi merawat persaudaraan umat seagama, memelihara persaudaraan sebangsa dan setanah air dan mengembangkan persaudaraan kemanusiaan.


Sebelum mengakhiri sambutan ini, saya mengajak kita semua mari mengedepankan akal sehat dan hikmah/kebijaksanaan dalam menyikapi berbagai persoalan keumatan dan kebangsaan saat ini maupun di masa-masa yang akan datang.


Saudara-saudara sekalian,


Demikian amanat saya dalam memperingati hari yang bersejarah ini.

Dirgahayu 75 Tahun Kementerian Agama.

Semoga pandemi Covid-19 sebagai ujian berat bagi bangsa kita dan kemanusiaan, segera berlalu dengan takdir dan pertolongan Allah.

Mari jadikan agama sebagai inspirasi pembangunan bangsa dan negara.

Dan mari kita senantiasa berdoa semoga Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa, melimpahkan rahmat, taufiq dan ampunan-Nya kepada kita semua. Aamiin

Sekian dan terima kasih.


Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq

Wassalamu’alaikum wr. wb.


Jakarta, 3 Januari 2021

Menteri Agama RI

Yaqut Cholil Qoumas

NYALAKAN LENTERA KESEMPURNAAN

 NYALAKAN LENTERA KESEMPURNAAN

Oleh : Faiz Abadi

Kurapal hijb ayat ayatmu

Di dalam keremangan Goa dunia

Di bawah kerdip lilin berpadu sinar bintang menyelinap di lubang lubang harapan

I immerse one life in one solmn unity of the life of God

Setelah hidupku Engkau pindahkan ke alam sana

Masihkah aku hidup dalam keabadian khalifah

Setelah energi jasadku lenyap

Kekal dalam daya kuasamu

Aku telah benar benar menjadi biasmu

Dengan sejujurnya kukatakan itu desahku parau

Sesungguhnya hidupku, matiku, ibadahku karena mu

Harus kusebutkan

Tirakatku ada dalam penderitaan

Setelah Engkau berikan akibat lalaiku

Takjub dalam dunia

Saat Ramadhan tiba

Jangankan puasa lil khusus

Puasa khusus saja tidak bisa

Kau tegur aku dengan isak tangis

Bukannya menjalankan Senin Kamis

Malah terlalu sibuk dengan untung rugi

Dari semua titipan

Ditemani kerdip lilin

Di bawah cahaya bulan mati

Kucoba lagi mendendangkan ayat ayat pada Al kitab

Agar kembali menyatu firman yang tertera di jagad raya

KUPELUK DENGAN PASRAH

 KUPELUK DENGAN PASRAH

Oleh : Faiz Abadi

Akhirnya ku terima apa adanya

Kucumbui bayang bayangmu dalam setiap langkah

Lari kemana?

Hendak kemana?

Berjuta juta tabung oksigen telah terhabiskan

Untuk mereka disana

Sekarat antara ada dan tiada

Bagai timbul tenggelam di tengah samudra

Bukan hanya pahitnya rasa

Bahkan hambar tidak berasa

Kau peluk paksa dalam rindu tak diharapkan

Kau dekap kami dalam peluk ketakutan

Tubuhmu kecil mungil

Dulu membuat semua semburat tanpa arah

Namun melewati sekian kurun waktu

Tahunpun telah baru

Setelah terjerembab tak berdaya

Agenda hidup tidak menentu

Bahkan di atas tahta harus sekarat

Biarlah sekalian saja

Ku kerdipan mata dengan mesra

Kemari kemarilah semuanya

Penderitaan sudah pada puncak kengerian

Dentum bom dan peluru tidak lagi mengerikan

Tubuhmu tiada terlihat sekian mili saja

Kemarilah  kan ku rayu setiap waktu

Dalam gemetar dan gigil tubuhku

NIKMATMU TIADA BATAS

 NIKMATMU TIADA BATAS

Oleh : Faiz Abadi

Entah berapa trilyun oksigen telah kita hirup

Nikmat tiada tara

Engkau pasti tahu

Tetapi terkadang kau lupakan sujud syukurmu

Tetapi mengapa ketika ketika sesak nafas mendera baru satu jam saja

Kau lontarkan kalimat makian dan hujatan

Mengapa diberkan penderitaan?

Keluh kesah, resah, mendesah

Naudzubillah..bagaimana jika wabah ini menimpamu

Tak melihat engkau siapa?

Si miskin ataupun si kaya

Si dholim atau Si korban aniaya

Dunia merengut semua manggut manggut

Setiap detik bahkan menggelengkan kepala

Merasakan kengerian tiada tara

Nikmat mana hendak kita dustakan

Dari ujung kaki hingga ujung kepala

Dari kasat mata hingga sehalus halusnya kegaiban

Sampai ke tempat gaib paling tinggi

Alimul ghoibi wasyahadah

Tetapi sebutan namaMu terkadang belum membuat gentar apalagi gemetar

Aktifitas hidup dijadikan alasan

Beban hidup..beratnya hidup

Lucunya terkadang mereka mengakhiri di tiang gantungan

Seolah penderitaan benar benar tak terperikan

Apakah kita masih belum mendengar

Celoteh Si kecil kita berlarian ke sudut sudut rumah

Apakah kalian belum merasakan betapa indahnya

Ketika pasangan kita tersenyum menyambut dengan uluran tangan

Kecup manis di pipi

Setelah seharian bekerja

Bandingkan disana mereka sendirian

Merenda kesunyian

Karena kehilangan sanak keluarga

Apalagi sendiri dengan kaki tangan teramputasi akibat mortir peperangan di Palestina sana

Intimidasi, provokasi, pembantaian

Rule of law hak asasi manusia

Menjadi pemanis bibir

Tapi sebenarnya tempatnya di keranjang sampah

Beraroma air comberan

Nikmat mana akan kita dustakan

Sel darah putih dan darah merah memadu langkah

Mengikuti nafas kehidupan

Benar benar tak terhitung semua

Nikmat mana hendak kita dustakan 

Anehnya selalu ada saja menukarkan ayat ayat tuhan dengan segenap kesenangan

Bahkan hanya tipu tipu di mulut saja

Takkan habis kita literasikan

Apabila suara hati bersimbiosis dengan mata hati

Merekam detik demi detik

Jejak kesempurnaan  semesta alam

Menur

 “Sebagaimana “Lintang Palihan” bergeser dari titik orbitnya, Sesekali, Waktu yang Mengelilinginya, Berpijaran seperti pintas kejora, Lalu, Dini hari yang sebentar lagi menggelincir dari perbukitan nir-musim, Masih menyimpan lipatan nafas dan kerutan darah dalam aliran nadi,-

Menur

Oleh : Dardiri

Sebagaimana “Kembang Menur” terkesiap dalam tarian “saga” senja, Bukankah sedikit  ruang telah menyisakan sudut di batas tepi, Menjajakan janji demi janji yang belum sepenuhnya tertepati?, Kita terdiam, Di bawah pohon Pule, Selepas ketukan gerimis membangunkan kita dari igauan panjang “Bunga Mimpi”, Kita terhenyak, Dan sedikit menyadari, Bahwa telah berpuluh kali, Hidup mengajarkan kepada kita tentang kematian yang “ditangguhkan”,-“


(“Menur” : 02 Januari 2021)

Padma” : 02 Januari 2021)

 Padma” : 02 Januari 2021

Dardiri

"Seiring jantera. Kurebahkan setiap detak jantungku pada lembar demi lembar bunga padma yang tanggal karena usia. Usia telah menjemputnya dari tangkai dan mengubah wujudnya menjadi perahu kecil tanpa layar. Mengarungi lautan cahaya. Ada tulisan "Kehendak-lah yang memintal harapan untuk memetiknya dan menjadikannya sumping kedaulatan asmara". Ya,  Kedaulatan tanpa mahkota, dan memang tak membutuhkan singgasana. Sekali lagi, genangan selalu tanpa arus. Berpusar. Dan kembali ke titik antara.

Kembang Padma. Mimpiku-pun berlayar. Dan pasti akan kembali jua. Wangi yang ditinggalkannya. Membias kalang embun yang masih buta. Buta karena usia menjemputnya dengan paksa. Dan tak banyak yang tahu. Siapa yang menanam-nya. Di pelataran gembala sepi-ku?,-"


(“Padma” : 02 Januari 2021)

JANGAN PERNAH LEKANG WANGI BELAMBANGAN Faiz Abadi

 JANGAN PERNAH LEKANG WANGI BELAMBANGAN

Faiz Abadi

 Keindahanmu tiada tara

 Pesona dari ujung timur pulau megah

 Dari pucuk gunung ngarai lembah hutan semak belukar sampai laut samudra

Memahat resah, memanggul gelisah- duka lara

Terlemparkan pada keranjang sampah

Mengapa ? Kamu mau jadi apa?

Cukup berdiam di sini bersama syair syair mimpi

Gedung gedung tinggi menjulang lemparkan tembikar tembikar terbakar

Jangan biarkan jiwamu membisu terkapar

Tiada lagi desah gerutu dari cerutu cerutu lugu

Mengeluh tanpa berpeluh tanpa mengayuh

Maukah jadi air comberan sedangkan gaung kota sudah ke negeri Manca

Engkau tahu itu hikayat negeri Tirta Wangi

Terbangun dari kelopak bunga surga

Membuahkan manusia manusia perkasa berjiwa suci

Lenyaplah dendam kesumat menyala nyala, semua tidak berarti

Jiwa terus mengalun tenang terlelap dendang anglung paglak

Tersirat dari parade ider bumi persembahan syukur terbungkus ancak 

Terus terang benderang menjadi lentera sepanjang masa

Semadi Tawang bersama para resi membumi

Sebelum Kharisma para wali datang mengganti

Tapi semuanya bisa menjadi nestapa

Apabila jiwa-jiwa keruh mulai hinggap membaur di tengah deru kejayaan

Siapakah mau jumawa?

Lihatlah sungai, muara, pantai, laut kini penuh lembah polusi

Dari tangan tangan yang sampai hati

Maukah harum bunga serbak mewangi, ternoda ulah siapa saja.

Hentikan...Lenyapkan...jiwamu yang payah

Jangan pernah harum segenap penjuru negeri menjadi sumpah serapah

Benih benih kebaikan seperti tersapu badai

Cepat kembalikan jangan cuma berandai andai

Wangimu tetaplah menyatu dari hilir hulu sungai sampai ke tepian pantai


   



   


    

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger