Pages

Roudhoh Pintu 360

 Roudhoh Pintu 360


Bisa Sholat, berdzikir dan berdoa di Raudhoh merupakan impian muslim sedunia, tempatnya seperti biasa-biasa saja, berdoapun kadang juga tergesa-gesa, hanya diberi kesempatan sebentar saja, itupun antriannya lama. Bisa juga menggunakan aplikasi nusuk, tapi setahun hanya diberikan cukup sekali. Beberapa jamaah mencoba mengakali, dengan masuk Roudhoh mengikuti kloter berbeda.


Setiap Kloter diberikan kesempatan sekali ke Roudhoh, dipisah antara jamaah laki-laki dan perempuan, untuk laki-laki biasanya pada waktu siang hari sedangkan bagi jamaah perempuan pagi mulai setelah sholat subuh.

Ketika jadwal laki-laki, Jamaah perempuan tidak boleh mengikuti, meskipun petugas, begitupun ketika jadwal jamaah perempuan, petugas Kloter hanya diperbolehkan mendampingi di pintu luar, jamaah haji yang mau masuk Roudhoh dihitung berdasarkan manives masing-masing kloter, dan apabila jamaah lalai dengan jadwal tersebut, berarti kesempatan ke Raudhah bersama kloternya hilang.

Kesempatan ini benar benar harus di maksimalkan, karenanya sosialisasi kapan jadwal tersebut harus dipastikan sampai ke seluruh jamaah, tim pun harus disiapkan untuk jamaah laki-laki dan jamaah perempuan.

Beruntung pada Kloter SUB-58 petugas perempuan dapat melaksanakan semua fungsi petugas kloter, dokter kloter SUB-58 Zuwwidatul Husna bukan hanya lihai dibidang kesehatan, pengalaman lama di pesantren membuatnya mampu menjadi pembimbing ibadah, ibu ibu sepertinya lebih nyaman dibimbing ibadahnya oleh dokter berparas cantik ini, begitupun dalam kepemimpinan, ketika Ketua Kloter ada tugas lain, sang dokter tampil memimpin jamaah, seperti ketika jadwal ke Roudhoh, nyaris selesai tanpa campur tangan sang ketua kloter.

Jamaah sebelum berkumpul di pintu 360 yang sudah ada petugas PPIH Madinah, mereka berkumpul di tempat yang sudah ditentukan untuk kemudian bersama sama menuju pintu 360.

Raudhah adalah salah satu tempat yang mustajab untuk berdoa. Itu pula yang menjadi alasan umat Islam yang melaksanakan umrah maupun haji menjadikan Raudhah sebagai tujuan salah satu tempat yang ingin dikunjungi.


Sebuah riwayat mengatakan, “Antara rumahku dan mimbarku terdapat taman (Raudhah) di antara taman-taman surga” . Hal ini menunjukan betapa mulianya Raudhah Jemaah haji dan umrah selalu antusias untuk berziarah dan bermunajat ke Raudhah.

Kuatnya keinginan jamaah ke Raudhah mengakibatkan mereka rela antri, bahkan ada juga yang daftar melalui aplikasi nusuk dan mendapatkan jadwal tengah malam 


Madinah, 03/07/2024


Doa Jamaah Haji Kloter SUB-58 Untuk Syuhada Uhud

Madinah (Warta Blambangan) Jamaah haji Kabupaten Banyuwangi yang tergabung dalam kloter SUB-58 melaksanakan ziarah ke makam Syuhada perang Uhud, Rabu (03/07/2024). Para jamaah selain mendoakan para syuhada Uhud yang dipimpin oleh Binbad SUB-58, juga dijelaskan tentang sejarah Uhud, tempat tempat yang digunakan dalam perang Uhud, termasuk bukit pemanah, tempat prajurit Uhud melakukan serangan atas kaum kafir Quraisy yang menyerang kota Madinah. 


" kita harus mengambil hikmah dari peristiwa Uhud, yakni ketaatan kepada pimpinan" kata Syafaat, Ketua Kloter SUB-58.

Syafaat menjelaskan bahwa ziarah Uhud yang dilakukan sebagai pelengkap terhadap rangkaian perjalanan haji, para jamaah juga mendoakan para sahabat yang gugur, termasuk Sayyidina Hamzah yang juga gugur dalam perang Uhud.

Ziarah ke Uhud ini sangat penting karena banyak hikmah yang dapat kita ambil dalam peristiwa Uhud, terutama untuk memupuk rasa persatuan dan kesatuan umat Islam.

" kloter SUB-58 dibagi dalam 9 Bus untuk, satu rombongan dalam satu bus yang dilengkapi dengan pemandu yang menjelaskan tentang sejarah peristiwa Uhud" kata Syafaat.

Ditempat tersebut juga telah dibangun Masjid Syuhada untuk mengenang sahabat yang gugur dalam perang Uhud.

PPIH Kloter dan PHD Pimpin Jamaah Haji ke Roudhoh

Madinah, (Warta Blambangan) Dengan dibimbing dr. Zuwwidatul Husna, Deny Fitria Agustin PPIH dan Nurwiarsih PHD, Selasa (02/07/2024), Kloter SUB-58 berkesempatan ke Raudhah untuk sholat sunah, dzikir dan berdoa. Para jamaah ini diberikan jadwal pukul 07:00 WAS, namun berkah koordinasi Ning Wida (Panggilan dr. Zuwwidatul Husna) dan semua tim Kloter perempuan, para jamaah dapat memasuki Raudhah lebih cepat dari jadwal, bukan hanya jamaah yang masih sehat saja yang diajak ke Roudhoh, tetapi juga jamaah lansia yang memakai kursi roda. 


"Kesempatan hanya diberikan sekali, sayang jika di sia-siakan" kata Ning Wida.

Ketua kloter SUB-58 Syafaat menyampaikan bahwa untuk masuk ke Roudhoh sudah ditentukan, dan untuk hari ini kesempatan semua jamaah haji Kabupaten Banyuwangi untuk semua kloter.

"Kloter SUB-58 mendapatkan jadwal pukul 07:00 WAS, jamaah langsung ke Roudhoh setelah sholat subuh" kata Syafaat 

Para jamaah ini setelah sholat subuh tidak langsung kembali ke hotel, tetapi mereka berkumpul di depan pintu 318 untuk selanjutnya menuju pintu 360, tempat masuknya jamaah menuju Roudhoh secara bergiliran, pintu 360 tersebut dekat dengan makam Baqi, dan semua jamaah haji yang ingin ke Roudhoh lewat pintu tersebut sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan

Masjid Ali bin Abi Thalib Madinah

 Masjid Ali bin Abi Thalib 



Dari dalam Masjid Nabawi, keluar melalui pintu 315, ada jalan besar (Jalan As Salam) membentang yang dibelah dengan sejalur taman, tidak banyak kendaraan yang melalui jalur menuju masjid ini karena memang tidak diperkenankan kendaraan melintas, kecuali tujuan beberapa hotel yang ada ditempat tersebut.
Disisi kiri sekitar 100 meter dari pintu 315 ada bangunan Masjid dengan satu menara, pintu gerbang besar tanpa pagar nampak ditepi jalan menuju masjid yang tertutup rapat tersebut, di bagian atas pintu masuk terdapat papan nama bertuliskan Masjid Ali Bin Abi Thalib, sejarah berdirinya masjid diabadikan dalam sebuah tulisan berbahasa arab dan Inggris didepan masjid yang dapat dibaca dan difahami.
Saya pertama kali datang hanya mengintip dari jendela kaca kondisi dalam masjid, sementara disisi kanan nampak juga bangunan tua yang kondisi bangunannya nampak bangunan kuno terbuat dari bata. Memang tidak ada anjuran bagi jemaah haji atau umrah untuk salat maupun beribadah di tempat tersebut, karenanya tidak nampak jamaah ditempat tersebut, tidak seperti Masjid Ghamamah dan Masjid Abu Bakar As Sidiq yang ramai dengan pengunjung, terutama pagi hari setelah shalat subuh.
Masjid ini hanya dibuka beberapa waktu saja, kebetulan saya datang kedua kalinya setelah Maghrib, dan dapat memasuki masjid yang nampak asri, beberapa pengunjung nampak melakukan sholat sunah di dalamnya.
Masjid ini dibangun pada masa Umar bin Abdul Aziz memerintah Madinah Kemudian direnovasi oleh Gubernur Dhaigham Al-Manshuri, Gubemur Madinah tahun 881 H. Setelah itu juga direhab oleh Sultan Abdul Majid I, tahun 1269 H.
Masjid ini berbentuk persegi panjang. Dari timur ke barat, panjangnya 35 meter dan lebar sembilan meter. Terdiri dari satu serambi yang berakhir dari dua arah; timur dan barat dengan satu kamar kecil. 

Mihrabnya berada di tengah dinding kiblat. Tingginya mencapai tiga meter. Cekungannya kira-kira 1,25 meter. Menara masjid berdiri tegak di sebelah timur dekat dengan jalan masuk masjid, tidak terlalu tinggi dan memiliki satu balkon. Berakhir dengan bentuk kerucut dari logam.
Masjid Ali bin Abi Thalib dibangun dengan batu basal, dan terlihat bata merah, dicat dengan warna putih. Dinding sebelah timurnya dihias dengan batu hitam.
Meskipun tidak dapat masuk setiap saat kedalamnya mungkin dengan alasan tertentu yang mengakibatkan masjid ini ditutup dan dibuka saat tertentu saja, masjid yang konon didirikan ditempat kediaman sahabat Ali bin Abi Thalib ini untuk mengenang perjuangan sang Khalifah, setidaknya kita tahu bahwa dekat dengan Masjid Nabawi ada monumen berupa Masjid untuk mengenang Sahabat dan menantu Nabi Muhammad Saw, suami dari Fatimah RA.
Masjid Ali bin Abi Thalib tidak jauh jaraknya dengan Masjid Ghamamah dan Masjid Abu Bakar As Sidiq, karenanya tidak salah jika ada yang menyebutkan bahwa pembangunan masjid tersebut sebagai salah satu penanda bahwa tempat tersebut dulunya pernah digunakan untuk sholat Ied, sebagaimana ditulis di papan depan masjid.
Saya memang beberapa kali mengunjungi beberapa tempat disekitar Masjid Nabawi, terutama yang sejalur dengan penginapan kami yang berada di sisi kanan masjid, orang-orang menyebutnya bahwa dari hotel kami menuju masjid harus melewati padang mahsyar, karena diantara hotel kami dan halaman utama masjid terdapat hamparan halaman pengembangan masjid yang yang luasnya melebihi lapangan sepak bola dan belum ada payungnya sebagaimana halaman utama masjid.

Madinah, 02/07/2024


Perempuan Haji Petualang

 Perempuan Haji Petualang 

oleh : Syafaat 


Saya dapat WhatsApp dari nomor tak dikenal, memperkenalkan diri sebagai warga Banyuwangi yang butuh konsultasi masalah haji, saya pikir ini salah satu jamaah saya, atau jamaah Kabupaten Banyuwangi dari kloter yang berbeda, dari photo profil nampak dia seorang perempuan yang membuat saya semakin penasaran karena belum pernah bertemu sebelumnya.

Dia memperkenalkan diri sebagai jamaah petualang, berkali-kali menjadi Top Leader jamaah umrah, dan kali ini mencoba keberuntungan untuk meningkatkan ibadah haji.

Dia benar-benar perempuan Petualang dari satu negara ke negara lainnya, mencoba hal baru, Tantangan besar yang belum dilakukan perempuan ini adalah menaklukkan lelaki diatas ranjang, dia sadar bahwa itu merupakan tantangan takdir yang harus dilakukan dalam petualangan di ujung perawan.


Perjalanan ke tanah suci yang harus dilalui penuh liku, dari Banyuwangi menuju Jakarta melalui Bandara I Gusti Ngurah Rai menuju  Abu Dabi lanjut ke Dammam

hingga kemudian menuju Jeddah, baginya menunaikan ibadah haji bukan tujuan utama, karena hanya takdir yang dapat mengantarkannya menunaikan rukun Islam kelima yang tidak semua muslim dapat melaksanakannya. Baginya ada dua hal yang ingin didapatkan dalam perjalanan petualangan kali ini, pertama ingin menunaikan ibadah haji dan yang kedua adalah berpetualang menikmati indahnya alam ciptaan Tuhan.

Butuh nyali besar untuk melakukan tindakan ini, Bisa multipel yang dimiliki tidak dapat bebas melakukan kegiatan sebagaimana jamaah haji dengan visa haji, perempuan ini tidak ingin orang yang tidak berpengalaman mengikuti jejaknya, apalagi jika terkendala bahasa, karena untuk melakukan hal seperti ini bukan hanya dibutuhkan tekat dan finansial yang cukup, tetapi juga pengalaman berpetualang di negeri orang, karena ini perjalanan sangat beresiko, harus tahu medan dan berfikir cepat ketika situasi gawat.

Panas Arafah harus dapat disiasati oleh orang-orang seperti ini, dapat masuk ke wilayah ini dipuncak wukuf merupakan harapan besar yang akhirnya juga membutuhkan stamina prima, karena melawan sengatan panas tanpa tenda bukan hal yang mudah, apalagi tidak ada konsumsi khusus yang dipersiapkan, ada yang hanya memakai payung maupun perteduh dibawah pohon seadanya, khutbah wukufpun belum tentu dapat mendengar, baginya sudah dapat berada di Arafah pada saat wukuf merupakan anugerah terindah.

Bukan hanya Arafah yang tidak dapat tenda, di Mina juga bernasib serupa, beberapa masjid yang ada di Mina menjadi tempat bagi mereka untuk bermalam sementara hingga menunggu diperbolehkannya melontar jumroh.

Sungguh ketika saya dalam posisi yang seperti itu sangatlah tidak nyaman, meskipun hidup penuh dengan ketidak pastian, namun pilihan berani dengan resiko tinggi sangat membahayakan.

Perempuan itu hanya tersenyum ketika saya menanyakan hal yang mungkin terjadi dalam perjalanan kali ini, senyumnya mengabarkan aroma pesona yang tidak didapatkan dari perempuan lain, dan saya tidak yakin perempuan ini berhenti berpetualang dengan alam, aura wajahnya terpantul rasa keingin tahuan besar terhadap luasnya dunia.

Entah sampai batas mana perempuan ini akan berpetualang, dia hanya menjawab dengan senyuman seperti biasanya.


Madinah, Juni 2024.


Masjid Abu Bakar As Sidiq Madinah

 Masjid Abu Bakar 



Kalau melihat namanya, mungkin kita berprasangka bahwa tempat tersebut dulunya merupakan tempat tinggal Abu Bakar As Sidiq, tempatnya di arah sisi kanan kiblat, barat daya (sebelah timur bagian selatan) Masjid Nabawi berdekatan dengan Masjid Ghamamah, bangunan masjid tersebut tidak terlalu besar, terbuat dari batu dan bata, dari struktur bangunan, merupakan bangunan kuno. Diatas pintu masuk terdapat papan nama yang menempel di dinding tentang nama masjid tersebut.

Saya memasuki masjid tersebut pagi, seusai menjalankan jamaah subuh di Masjid Nabawi, lokasi masjid ini Khalifah Abu Bakar Siddiq semasa hidupnya pernah menyelenggarakan salat Hari Raya bersama Rasululah SAW dan umat muslim pada waktu itu. Itulah yang kemudian melatarbelakangi didirikannya masjid di lokasi tersebut yang kemudian dinamakan Masjid Abu Bakar sebagai bentuk penghormatan. Abu Bakar As Sidiq merupakan Khalifah pertama yang menggantikan Nabi Muhammad Saw sebagai Khalifah, julukan As Sidiq (dapat dipercaya) karena beliau merupakan orang pertama yang mempercayai adanya isra mi'raj, beliau juga merupakan ayah dari Aisyah RA yang merupakan istri Nabi.

Versi lain menyebutkan bahwa lokasi masjid ini dulunya berdiri rumah kediaman Abu Bakar Ash Siddiq RA. Karena latar belakang sejarah tersebut, dibangun masjid di lokasi ini. Hanya terpaut sekitar 335 meter dari Masjid Nabawi.


Dalam sejarahnya dibangun Khalifah Umar Bin Abdul Aziz sekitar tahun ke 50H. Selanjutnya dalam bentuknya sekarang dibangun Sultan Mahmud Khan al-Utsmani (Sultan Mahmud II, wafat tahun 1255H/1839M) dan direnovasi Raja Fahd tahun 1411H tanpa mengubah bentuk aslinya. Luas Masjid Abu Bakar 19.5 x 15 meter. Pada masjid tersebut ada satu daun pintu yang diyakini asli seperti terpasang di kediaman Abu Bakar dahulu.

Didepan pintu masuk masjid ada papan nama tentang sejarah berdirinya masjid dengan versi bahwa tempat tersebut dulunya dipergunakan untuk lokasi sholat Ied oleh Kholifah Abu Bakar As Sidiq karena meneruskan yang pernah dilakukan nabi.

Beberapa jamaah masuk dalam masjid, baik hanya untuk melihat lihat saja maupun melakukan shalat, hanya ada satu pintu masuk, dan tidak ada pintu masuk untuk jamaah perempuan.

Bangunan kuno tersebut layak dikunjungi oleh jamaah haji sebagai tambahan referensi tentang pentingnya menghormati para pendahulu kita yang memberikan banyak kontribusi terhadap perluasan dakwah Islam.

Saya tadinya juga berprasangka bahwa masjid-masjid dengan nama Khulafaur Rasyidin tersebut merupakan tempat dulu para Khalifah bertempat tinggal, dan ini berubah ketika teman kami yang berprofesi sebagai dokter kloter yang fasih berbahasa inggris menjelaskan berdasarkan papan yang ada di depan masjid.

Banyak jamaah duduk-duduk depan masjid yang dilengkapi dengan taman dan beberapa tumbuhan yang terlihat terawat, burung dara khas haramain setiap pagi dan petang banyak terdapat ditempat tersebut, beberapa jamaah juga terlihat senang dengan adanya burung-burung yang nampak bersahabat dengan manusia dan tak pernah ada rasa takut ketika kita mendekatinya dengan cinta.


Madinah, 30-06-2024


Masjid Ghamamah

 Masjid Ghamamah 

Madinah seperti tidak pernah malam, udara masih terasa hangat ketika adzan subuh selesai berkumandang, ribuan jamaah bergegas merapikan shaf untuk bersiap menjalankan ibadah, mereka begitu rapi hanya dengan komando adzan dan Iqamah, hening hanya suara imam dan irama batuk jamaah haji yang terdengar, semua terlelap dalam ritual subuh dan berlanjut dengan dzikir dan doa dalam diri mereka.


Saya juga menenggelamkan diri dalam doa yang saya ingat dari rumah, sebuah keinginan yang saya sampaikan kepada Tuhanku yang aku yakin ditempat ini semua doa akan dikabulkan, tempat yang dulu digunakan Nabi Muhammad Saw untuk menebarkan keseluruh negeri, tempat orang-orang pilihan melangitkan dia, tempat hamba-hamba juga berharap dengan doanya.

Setelah subuh jamaah keluar perlahan dibawah payung besar indah yang menjadi ciri khas Masjid Nabawi, Saya segera menuju pintu 311 menuju Masjid Ghamamah, ada beberapa jamaah haji yang sudah menunggu bersama dokter Wida yang membimbing mereka, karena Masjid Ghumamah dipisahkan jamaah laki-laki dan perempuan, dihalaman Masjid sudah banyak kelompok jamaah dengan satu orang didepan yang menjelaskan tentang sejarah Ghamamah, di depan Masjid juga ada papan berbahasa arab dan Inggris yang menjelaskan sejarah Ghamamah dan pembangunan Masjid yang sebagian jamaah juga menyebut dengan istilah masjid awan, karena dulu ditempat ini merupakan tanah lapang milik Sahabat yang dipergunakan Nabi Muhammad Saw untuk Sholat Istisqa' ketika Madinah dilanda kekeringan.

Saya mendengarkan dokter Wida menjelaskan tentang sejarah Ghamamah, sepertinya dia paham betul dengan sejarah Ghamamah, ditambah dengan pengetahuan bahasa Inggris yang cukup sehingga dapat menterjemahkan papan didepan Masjid yang ditulis dengan bahasa Arab dan bahasa Inggris. Pengetahuan bahasa asing sangat penting terutama Arab dan Inggris, saya sedikit menyesal karena tidak menguasainya, kosakata bahasa inggris saya cuma sekitar yes, no, I Love You dan beberapa kosakata sederhana lainnya.

Saya memasuki Masjid, bangunan tua yang terbuat dari balok batu terlihat kokoh, beberapa jamaah nampak melakukan sholat didalam masjid, ada seorang penjaga di depan pintu masjid dengan satu menara tersebut, untuk Jamaah laki-laki masuk melalui pintu utama, sedangkan jamaah perempuan melalui pintu samping, ada dua pohon kurma disamping kanan masjid yang sedang berbuah, terlihat buahnya kekuningan tanda mulai masak, beberapa jamaah juga memanfaatkan untuk mengambil gambar sebagai kenangan bahwa mereka sudah sampai disini. Begitupun dengan shalat dalam masjid yang mereka lakukan, sebagai tanda bahwa kita yakin dengan ajaran agama Islam yang kita terima, salah satunya adalah meminta hujan kepada penguasa langit dan bumi dengan cara sholat Istisqa' yang diajarkan nabi Muhammad Saw yang saat itu langsung diturunkan hujan, cara yang benar sesuai dengan syariat Islam.

Saya tidak secerdas dokter Wida, dokter Kloter SUB-58 yang biasa dipanggil Ning Wida dalam penguasaan bahasa Arab dan Inggris, saya tidak dapat menterjemahkan papan yang ada di depan masjid, saya menggunakan aplikasi yang memungkinkan memotret papan tersebut menjadi tulisan di layar HP, mengcopy dan memindahkan ke translate menjadi bahasa Indonesia, sehingga saya memahami isi dari papan tentang Sejarah Masjid Ghamamah yang dulu selain dipakai untuk Sholat Id. bangunan masjid yang ada saat ini merupakan hasil peninggalan pembangunan Sultan Abdul Majid al-Utsmani. Kemudian masjid ini juga pernah direnovasi kembali pada masa pemerintahan Raja Fahd di tahun 1411 H.


Makkah, 30/06/2024

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger