BANYUWANGI, (Warta Blambangan) Di tengah arus transformasi digital yang kian menguat, Madrasah Tsanawiyah (MTs) Maulana Ishaq, Kecamatan Kabat, menghadirkan sebuah ikhtiar edukatif melalui Festival Literasi berbasis daring yang melibatkan peserta dari Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) sdi-Kabupaten Banyuwangi. Kegiatan ini tidak sekadar menjadi ajang kompetisi, melainkan ruang dialektika antara teknologi, bahasa, dan ekspresi estetik generasi muda.
Festival yang telah memasuki tahap final ini mengusung metode seleksi berbasis video—sebuah pendekatan yang mencerminkan adaptasi pedagogis terhadap perkembangan zaman. Peserta tidak lagi dipusatkan dalam satu ruang fisik, melainkan berproses dari ruang belajar masing-masing, merekam, lalu mengirimkan performa terbaik mereka dalam cabang pidato, baca puisi, dan mendongeng.
Kepala MTs Maulana Ishaq Kabat, Rustam Effendi, S.Pd.I, memandang inovasi ini sebagai strategi perluasan akses sekaligus upaya demokratisasi ruang literasi. “Metode daring ini membuka peluang yang lebih luas bagi peserta untuk berpartisipasi tanpa dibatasi oleh jarak dan waktu. Ini adalah bentuk adaptasi pendidikan terhadap lanskap digital,” ujarnya.
Proses kurasi karya dilakukan oleh dewan juri lintas disiplin, yakni Syafaat dari Lentera Sastra Banyuwangi, Joko Wiyono dari media ACTANEWS.ID, serta Andi Budi Setiawan, Ketua Komunitas Pecinta Literasi Banyuwangi (Kopiwangi). Kehadiran para juri ini tidak hanya berfungsi sebagai penilai, tetapi juga sebagai representasi ekosistem literasi yang saling berkelindan antara dunia pendidikan, media, dan komunitas.
Menariknya, tahap final pun tetap mempertahankan format berbasis video. Selain alasan efisiensi, pendekatan ini juga dipandang lebih objektif dalam menjaga integritas penilaian. Dalam perspektif evaluatif, rekaman visual memungkinkan pengamatan yang berulang dan mendalam terhadap aspek vokal, gestural, hingga interpretasi teks.
Syafaat, salah satu juri, menggarisbawahi bahwa kualitas peserta pada tahap final menunjukkan gejala positif dalam perkembangan literasi anak. Ia menemukan bahwa sebagian peserta telah melampaui pembelajaran formal dengan menjalin interaksi dengan praktisi sastra. “Ada proses belajar yang melampaui ruang kelas. Ini menunjukkan bahwa literasi telah menjadi kebutuhan batin, bukan sekadar tuntutan akademik,” tuturnya.
Festival ini pada akhirnya tidak hanya memproduksi pemenang, melainkan juga memantik kesadaran kolektif akan pentingnya literasi sebagai fondasi kebudayaan. Bahasa, dalam konteks ini, tidak lagi sekadar alat komunikasi, tetapi juga medium ekspresi, refleksi, dan penciptaan makna.
Dengan demikian, Festival Literasi Daring MTs Maulana Ishaq Kabat dapat dibaca sebagai sebuah praksis pendidikan yang mengawinkan rasionalitas teknologi dengan sensibilitas sastra. Sebuah upaya merawat kata di tengah dunia yang kian cepat, sekaligus menegaskan bahwa di balik layar digital, imajinasi tetap menemukan ruangnya untuk tumbuh dan bersuara.






















