Pages

9/28/2021

Uji Vakidasi Naskah Kuno di Bali

 Bali Sudah, Kapan Banyuwangi 



Tidak bisa disangkal. Bali identik dengan Hindu. Karena umat Hindu menjadi mayoritas di Pulau Dewata. 

Sama juga dengan Makkah-Madinah. Haramain (dua kota suci) itu bukan hanya penduduknya mayoritas muslim. Melainkan menjadi tempat lahir-tumbuh-berkembangnya Islam.

Kembali ke Bali. Dalam hal literasi, orang mengenal tradisi naskah di sana hanyalah tradisi lontar bernuansa Hindu. 

Itu tidak salah. Memang begitu faktanya. Namun, belakangan, para peneliti ternyata juga menemukan sejumlah naskah keislaman di Bali. Itu menjadi keunikan sendiri bagi pulau surga wisatawan itu. Sebab, tradisi naskah Hindu dan tradisi naskah Islam bisa saling berdampingan. Hidup bersama. Sama-sama menjadi bagian dari sejarah masyarakat Bali. Sejak lama. 

Sekitar seabad lalu, para sarjana telah menyinggung keberadaan naskah-naskah keislaman di Bali. Theodore G. Pigeaud (1967) mengatakan, naskah keislaman di Bali muncul berbarengan kemunculan komunitas masyarakat muslim di tetangga Banyuwangi tersebut. Terutama di bagian utara dan barat Bali. Komunitas itu terbentuk dari relasi dagang dan politik. 

Komunitas muslim aktif menerjemahkan teks-teks keislaman. Ketika itu. Sejarah tradisional Islam termasuk yang mereka terjemahkan ke dalam teks-teks kesastraan dalam bahasa Jawa dan Bali. Maka ada sejumlah teks berbahasa Jawa dan Bali yang dipengaruhi ajaran Islam. Seperti Krama Selam. Prosa Jawa-Bali. Mengandung ajaran teologi dan mistisisme Islam. Lalu, ada juga Tuwan Smeru. Puisi-puisi spekluatif dan didaktis Jawa-Bali tentang Islam. 

Informasi itu saya peroleh dalam forum ilmiah. Di salah satu aula Hotel Aston Banyuwangi. Pada 21 September 2021. Dalam uji validasi Penyusunan Katalog Naskah Keislaman di Bali. Katalog itu disusun oleh tim peneliti Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Semarang. Tidak tanggung-tanggung. Timnya ada delapan peneliti. 

Tentu saja saya senang menjadi bagian dari kegiatan fullday itu. Selain bertemu langsung dengan para peneliti, juga bisa mendengarkan pembahasan dari sejumlah narasumber. Juga para pemilik/ahli waris pemilik naskah. Baik dari Bali maupun Banyuwangi. Hadir juga kalangan kampus dan mereka yang peduli pada naskah kuno. Seperti Drs Suhalik dari Lembaga Masyasrakat Adat Osing dan Barurrohim (Ayung NN) dari Komunitas Pegon Banyuwangi.

Penyusunan Katalog Naskah Keislaman di Bali (KNKB) merupakan pengembangan kegiatan sebelumnya. Pada 2019, peneliti Balai Litbang Agama Semarang telah menginventarisasi dan melakukan digitalisasi naskah-naskah keislaman di Bali. Datanya diambil di kampung-kampung Islam dan sejumlah lembaga. Yang tersebar  Kota Denpasar, Kabupaten Karangasem, Kabupaten Tabanan, Kabupaten Buleleng, dan Kabupaten Jembrana.

Sejak menerima materi (empat buku), saya langsung tertarik pada foto naskah yang menjadi cover buku KNKB. Berupa halaman kitab yang dibuka. Tulisan Arab pegonnya warna hitam. Dalam bingkai warna-warni: hijau-merah-kuning-cokelat-putih. Warna kertas daluangnya sudah mangkak, sudut-sudutnya sudah bores. Dimakan usia.

Secara umum, naskah berkode digitalisasi AQD-17/BALAR-BALI/05/2019 itu cukup baik. Sampul naskah dari kertas daluang agak tebal. Dijilid menggunakan jahitan benang. Naskahnya terdiri dari 15 kuras. Ditulis menggunakan tinta lokal warna hitam dan merah. Dari kolofon (lihat KBBI), tidak diperoleh informasi judul naskah, nama pengarang dan penyalin/penulis, dan juga tahun penulisan/penyalinan naskah.

Tapi, itu naskah sangat penting. Merupakan satu dari 17 naskah kuno aset bangsa. Yang berhasil diselamatkan pihak Bea Cukai Indonesia. Ditengarai naskah itu akan dijual ke luar Indonesia. Kini, naskah tersebut disimpan di Balai Arkeologi Bali.

Peneliti juga menemukan data mengejutkan. Ternyata naskah keislaman di Bali ada yang berbentuk lontar. Ada beberapa yang disebutkan di dalam buku KNKB. Seperti yang tersimpan di Masjid An Nur, Sanglah, Denpasar. Bukan hanya satu. Tapi 11 naskah lontar. Ditulis dengan tinta warna hitam. Oleh orang Bali I Nyoman Degeng. Menggunakan aksara Bali. 

Subjek teman naskah dalam buku KNKB cukup lengkap. Meliputi Alquran dan ilmu terkait, hadis dan ilmu terkait, aqaid dan ilmu kalam, fikih, akhlak dan tasawuf, sosial dan budaya, filsafat dan perkembangannya, aliran dan sekte, sejarah, Islam, modernisasi, dan Islam umum.

Menarik yang disampaikan Moch. Ali. Narasumber dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga. Dia mengatakan, naskah Islam bisa diklasifikasi menjadi dua genre utama: genre kitabi dan genre non-kitabi.

Genre kitabi disebut juga sastra kitab. Merepresentasikan berbagai bidang ilmu keislaman. Misal, tasawuf, fikih, tafsir, dlsb. sedangkan genre non-kitabi merepresentasikan sirah dan tarikh lokal. ”Misal, kitab Hikayat Sri Rama dan kitab Hikayat Muhammad Hanafiyah,” kata Ali. Jelas sekali, naskah-naskah keislaman yang ditembukan di Bali bergenre kitabi dan non-kitabi. 

Wa badu. Balai Litbang Agama Semarang begitu intens melakukan penelitian naskah keislaman di Bali. Pertanyaanya besarnya, kenapa Banyuwangi hanya dilewati (bahkan dilompati menggunakan pesawat). Kapan mereka akan meneliti naskah keislaman di Bumi Blambangan. Yang, sebenarnya, tidak kalah banyak jumlahnya. Dibanding Bali. 

Harus diakui, Bali memang lebih seksi. Dalam konteks basis keagamaan. Sebab, selama ini orang tahunya Bali ya Hindu. Ketika di Bali ditemukan manuskrip keislaman, itu sesuatu banget. Seperti jurnalis yang menemukan rudal dalam perut kian hiu. Hahaha....

Tapi, nilai naskah keislaman di kota the Sunrise of Java tidak kalah tinggi. Sejumlah sumber menyebut, Kerajaan Blambangan sebagai kerajaan Hindu terakhir di Pulau Jawa. Pasti, di masa-masa menjelang runtuhnya kejaraan Hindu di Jawa itu banyak berserakan naskah-naskah keislaman. Sebagaimana halnya di beberapa tempat lain. 

Ketika membumbungkan harapan agar Balai Litbang Agama Semarang melirik Banyuwangi, Kang Syafaat (Bimas Islam) Kemenag Banyuwangi mengatakan kepada saya—di sela-sela acara. Dia dan tim Kemenag akan menyusun dan menerbitkan buku berisi para kiai hebat di Banyuwangi. Kelak, bila buku tersebut sudah terbit, akan memperkaya literasi di Kota Gandrung. Terutama literasi tentang keislaman. Yang saat ini terasa masih belum bergeliat. Melengkapi gerakan Komunitas Pegon Banyuwangi. (Budayawan, Penulis Banyuwangi)  


9/21/2021

Uji Validasi Pengembangan Bidang Lektur dan Khazanah Keagamaan.

 Uji Validasi Pengembangan Bidang Lektur dan Khazanah Keagamaan.


Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi Drs. H.Slamet, M.H.I. membuka kegiatan Penyusunan katalog naskah keagamaan di Bali oleh Balai Litbang Agama Semarang, Selasa (21/9/2021) di Hotel  Aston Banyuwangi.

Panitia Pelaksana kegiatan Agus Iswanto menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan kelanjutan dari penelitian yang telah dilakukan, baik di Bali, Madura maupun di Banyuwangi. 

Dalam uji Validasi tersebut  menghadirkan berbagai peserta, baik dari akademisi, penggiat budaya hingga jurnalis terkemuka. Baik dari Bali, Jember maupun Banyuwangi.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi berterima kasih terhadap Balitbang Semarang yang telah melaksanakan kegiatan di Banyuwangi. "Di Banyuwangi masih banyak naskah kuno yang layak untuk diteili" ungkapnya.

Lebih lanjut H.Slamet menyampaikan bahwa di Banyuwangi pernah berdiri Kerajaan besar bernama Blambangan.

Yang lebih membanggakan bahwa Penggubah Shalawat Badar adalah KH. Ali Mansur yang merupakan Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi pada tahun sekitar tahun enam puluhan.

"Sebuah kebanggaan bagi insan Kementerian Agama  dalam bidang sastra yang perlu dilanjutkan' ungkapnya.

Sebagai Narasumber dalam kegiatan tersebut, Jumari, S.Pd., M.Pd, Ketua STAI Denpasar, Moh. Ali, MA., Min dari Unair, Prof. Dr. I Nengah  Duija dari Manasaa serta Dr. Eko Suwargono, M.Hum dari Unej.

Buku yang telah diterbitkan Litbang Semarang terkait Naskah kuno, dikupas tuntas oleh Narasumber dan dikritisi oleh peserta.

9/17/2021

Shalawat Badar Gubahan Kepala kankemenag Kab. Banyuwangi

 

Shalawat Badar Gubahan Kepala kankemenag Kab. Banyuwangi

Oleh : Syafaat

Menggunakan seni dan budaya untuk mempengaruhi masyarakat merupakan hal yang lazim digunakan, dengan mengingat seni dan budaya tersebut mengakar kuat di masyarakat, terlebih sebelum berkembangnya alat tehnologi seperti saat ini, seni budaya dan pertunjukan lebih sering dilakukan ditengah masyarakat. Dengan pertunjukan seni budaya tersebut di masyarakat menjadi daya tarik massa untuk berkumpul, tidak jarang seni dan budaya mengandung beberapa satire, baik lirik maupun gerakan yang dilakukannya. Sindiran dalam seni sering dilakukan dan kadangkala yang disindir tidak merasa, namun dapat menimbulkan dampat yang luar biasa.


Dalam konsep Ilmu Sosiologi dalam perubahan, bahwa tidak ada sesuatu yang abadi di dunia ini kecuali perubahan itu sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa dalam sosial bermasyarakat selalu ada perubahan yang disesuaikan dengan pola pikir dan budaya yang berkembang di masyarakat, terlebih pada masyarakat majemuk yang terdiri dari banyak suku dan agama yang hidup pada satu tempat yang sama. Akulturasi budaya akan lebih cepat terjadi pada kondisi masyarakat yang demikian.

Kabupaten Banyuwangi yang berda di ujung timur Pulau Jawa, dihuni oleh banyak etnis dan memeluk berbagai macam agama yang berbeda, kedekatannya dengan masyarakat Bali dengan berbagai perbedaan seni dan budaya melahirkan berbagai seni dan budaya yang khas yang berbeda dengan seni dan budaya yang ada di Pulau Jawa pada umumnya dan juga di Pulau Bali, serta beberapa budaya dari etnis lain yang hidup disini, meskipun seni dan budaya yang sama yang hidup di pulau Jawa maupun Bali dan beberapa seni dari tanah leluhur beberapa etnis ini juga masih dibawa dan berkembang di bekas kerajaan Blambangan ini.

Banyak lagu karya seniman Banyuwangi yang dikenal hingga ke manca negara sejak dulu kala, sebut saja lagu Genjer-genjer karya Muhammad Arif yang digubah sekitar tahun 1942 ketika penjajahan Jepang, lagu ini juga sempat dinyanyikan beberapa penyanyi terkenalo pada zamannya seperti Bing Slamet maupun Lilis Suryani. Lagu dari gubahan lagu anak anak “Tong Alak Gentak”. Lagu Gubahan Panabuh Angklung asal Banyuwangi ini tadinya merupakan kritik sosial kondisi masyarakat pada saat itu yang serba kekurangan pada masa penjajahan Jepang.

Lagu sederhana sarat makna ini pada akhirnya dilarang oleh pemerintah karena, setiap mengumpulkan massa, Partai komunis Indonesia (PKI) yang melakukan pemberontakan kedua pada tahun 1965 menggunakan lagu tersebut untuk menarik masa, meskipun dalam syair lagu genjer-genjer yang ditulis tahun 1965 tidak ada kaitan dengan PKI, maka lagu inipun terkena dampak pelarangan dinyanyikan sejak orde baru. Beruntung hanya lagu genjer-genjer yang dilarang, bisa dibayangkan jika penggunaan Palu dan Arit juga dilarang dengan alasan lambang “palu arit” digunakan oleh PKI.

Dalam pertarungan politik untuk saling mempengaruhi masyarakat, Umat Islam terutama warga Nahdlatul Ulama juga menggunakan seni dan budaya, salah satu seni yang digunakan adalah tari kuntulan yang menggunakan alat musik utama berupa rebana dengan nyanyian bernuansa Islam dan lantunan Shalawat. Karena Partai Komunis menggunakan lagu genjer-genjer, warga Nahdhiyin saat itu belum mempunyai syair yang khas hingga KH Ali Mansur menggubah sebuah syair yang dikenal dengan Shalawat Badar.

Raden Muchamad (RM) Ali Mansur, Kelahiran Jember 23 Maret 1921 yang sejak tahun 1960 menjabat sebagai Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, terinspirasi dari sebuah kitab yang berjudul mandzumah Ahl al-Badar al-Musamma Jaliyyat al-Kadar fi Fahail Ahl al-Badar karya al-Imam as-Sayyid Ja’far al-Barzanji, sehingga beliau menulis Sebuah karya sastra yang dikenall dengan Shalawat badar.

Kabupaten Banyuwangi yang dulu merupakan wilayah Kerajaan Blambangan dikenal dengan berbagai seni dan budaya yang berkembang dengan baik, akulturasi budaya dari berbagai macam etnis dan agama tersebut melahirkan berbagai macam tradisi dan budaya yang khas yang tidak ditemukan di daerah lain. Hal inilah yang menjadi salah satu pemantik bagi KH Ali Mansur yang memanggemar akan seni dan sastra menuliskan sebuah syair dalam bahasa arab. Dalam pertarungan politik, ketika lawan politik menggunakan media, maka harus dilawan dengan media, begitupun ketika lawan politik menggunakan seni dan budaya untuk mempengaruhi massa, maka dengan lantunan seni dan budayalah seharusnya untuk melawannya.

Shalawat badar merupakan salah satu gubahan sastra terbaik dari Kementerian Agama, karenanya tidak mengherankan jika beberapa Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi juga bergelut didunia sastra. Raden Muchamad (RM) Ali Mansur (nama sebagaimana tercantum dalam data anggota konstutuante) tidak dapat dilepaskan dari peran beliau sebagai salah satu Pegawai Negeri dilingkungan kementerian Agama, Karier beliau pada kementerian Agama, dari mulai jadi Guru Madrasah di Tuban, menjadi Kepala KUA diwilayah Kabupaten Sumba, Kepala Bahagian Politik dan aliran agama pada Kantor Agama Propinsi Nusa Tenggara hingga menjabat sebagai Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi ketika menggubah Shalawat badar pada tahun 1962.

Perang Badar merupakan perang besar yang terjadi di zaman nabi, dalam perang ini Rasulullah memimpin langsung aksi penyerangan yang hanya melibatkan sekitar 313 orang muslim, 8 pedang, 6 baju perang, 70 ekor unta, dan 2 ekor kuda. Sedangkan kaum Quraisy memiliki 1.000 orang, 600 persenjataan lengkap, 700 unta, dan 300 kuda. Namun, semangat jihad dan ketaatan kepada para pemimpin yang memberikan semangat juang bagi mereka sehingga Allah meridloi bagi kemenangan prajurid badar.

Semangat dalam perang inilah yang digambarkan dari syair Shalawat Badar yang mempu menggugah semangat jihat umat Islam melawan faham komunis yang saat itu ingin menjadikan Indonesia sebagai Negara komunis dibawah kekuasaan mereka

 

Penulis adalah ASN kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi.

9/14/2021

Gali Potensi Siswa, Kemenag Banyuwangi Gelar Pentas PAI

 

Gali Potensi Siswa, Kemenag Banyuwangi Gelar Pentas PAI


Untuk mempersiapkan duta terbaiknya pada even Pentas PAI se Jawa Timur, Kemenag Banyuwangi Mulai Senin, 13-14 Spetember 2021 menyelenggarakan Pekan Keterampilan dan Seni Pendidikan Agama Islam ke 5 Tingkat Kabupaten Banyuwangi. Dalam kesempatan tersebut.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi H.Slamet berharap dengan kegiatan yang dilaksanakan secara berjenjang baik secara online maupun offline dapat menjadi motivasi bagi siswa untuk terus mengembangkan diri dalam pendidikan agama.

 Kepala Seksi PAIS Kemenag Banyuwangi Dimyati menyampaikan, bahwa acara ini merupakan seleksi tingkat Kabupaten untuk mewakili lomba serupa di tingkat provinsi.

“Kita menyeleksi calon peserta yang sebelumnya sudah diseleksi di tingkat Kecamatan untuk mewakili Kabupaten Banyuwangi di tingkat Provinsi,” ungkapnya

Lebih lanjut Kasi PAIS menyampaikan bahwa untuk Tingkat Provinsi akan dilaksanakan secara virtual. Cabang yang diseleksi hingga hari Selasa adalah MTQ, MHQ, LPP, jenjang SD/SMP Adzan dan Iqomah, menyanyi jenjang TK, LC2P, Kaligrafi serta Karya Tulis Cerita Islam. Dalam Karya Tulis Ceris yang diikuti peserta dari SMA dan SMK tersebut setiap peserta harus membuat Ceris minimal 80 halaman.

Sementara Kepala Kemenag Banyuwangi Slamet dalam arahannya, mengatakan, bahwa Pentas PAI ini penting dilaksanakan sebagai wahana bagi anak didik untuk mewujudkan bakat dan potensi yang dimiliki, terutama dalam bidang seni.

“Ajang ini juga untuk memberi ruang kepada siswa siswi sesuai dengan kemampuan yang dimiliki,” jelasnya.

Dalam kesempatan itu dirinya juga mengklarifikasi adanya informasi liar yang dihembuskan oleh orang yang tidak bertanggungjawab, mengenai adanya ajaran radikalisme di kalangan pelajar. “Tidak benar agama mengajarkan radikalisme,” tegasnya.

Dirinya berharap, duta Pentas PAI Kemenag Banyuwangi bisa berbicara di tingkat provinsi, bahkan di tingkat nasional. (syaf/yasin)

9/05/2021

Plengsengan*

 Fatah Yasin Nor

*Plengsengan*


Tak ada puisi hari ini

Yang menyentuh hati

Padahal telah kucari sampai

Ke ceruk hati


Melesat ke langit biru

Untuk menghapus dahagaku

Pada cinta yang lahir dari 

Secercah sunyi yang membatu


Kesunyian berdendang hari ini

Diantara hiruk orang-orang buta

Berebut remah roti

Meraba bara hanguskan wajah


05/09/2021

9/04/2021

MAN 1 Banyuwangi memperoleh penghargaan dalam kompetisi IYRC (Indonesian Youth Robot Competition) Korea 2021

 


MAN 1 Banyuwangi kembali memperoleh penghargaan dalam kompetisi IYRC (Indonesian Youth Robot Competition) Korea 2021 yang diadakan bulan Juli-Agustus 2021. Ajang ini di ikuti oleh beberapa Negara. Diantaranya  Indonesia, India, Mongol, Rusia, Thailand dan masih banyak negara lagi


Kompetisi yang diadakan di Korea ini termasuk ke dalam ajang kreasi robot yang dilaksanakan secara daring dengan mengirim video presentasi mengenai sistem robot yang sudah dikembangkan atau yang sudah dilakukan sebelumnya.


Video presentasi yang dikirimkan kemudian dievaluasi dan dinilai oleh  dewan juri. 


Tim dari MAN 1 BANYUWANGI memperoleh award medali perunggu /bronze untuk karyanya dalam membuat robot aquaponik prototipe yang berfungsi untuk menabur benih tanaman,  terdapat juga sensor suhu untuk mengecek suhu yang akan bunyi apabila suhu mencapai lebih dari 37°c, bunyi di hasilkan oleh buzzer. Terdapat juga sensor hujan untuk menutup dan membuka atap kolam aquaponik


Siswa-siswi yang mengikuti kompetisi ini adalah:

- Amelia cahyawati 

- Iftitah ahdani

 Dengan didampingi Teguh Prasetio, S. Si selaku pembina ekskul Robotika dan pembina ekakul Kelompok ilmiah Remaja (KIR).

Selain medali Bronze, MAN 1 Banyuwangi juga memperoleh penghargaan Excelent Award dalam pembinaan robotika yang dilakukan oleh Bapak Teguh Prasetio, S.Si di Mansawangi selama mengikuti kompetisi di Korea ini.

Keberhasilan ini juga berkat dukungan kepala madrasah Drs, Saeroji, M.Ag.

"Alhamdulillah Sabtu ini (4/9)2021) telah diumumkan dan MAN 1 Banyuwangi mendapatkan juara" ungkap Saeroji.

Mantan Kepala MAN 4 Banyuwangi ini berharap prestasi yang diperoleh dapat memantik semangat untuk terus berkarya. (Syaf)

Kapolresta Tinjau Vaksinasi di MAN 1 Banyuwangi.

 Kapolresta Tinjau Vaksinasi di MAN 1 Banyuwangi.



Didampingi Kapolsekta Banyuwangi AKP Kusmin, Kapolresta Banyuwangi AKBP Nasrun Pasaribu meninjau pelaksanaan Vaksinasi bagi siswa, Sabtu (4 September 2021) di aula MAN 1 Banyuwangi, yang diikuti seluruh siswa. Vaksinasi dibagi menjadi 2 shift, yakni shift 1 yang dimulai pukul 07.30, dan shift 2 dimulai pukul 08.00-selesai. Vaksinasi ini dilakukan secara bergiliran, yang dimulai dari kelas 10 sampai12. Tidak hanya siswa siswi dari MAN 1 Banyuwangi saja yang melakukan vaksinasi, tetapi ada juga siswa siswi dari sekolah SMK GAJAH MADA dan SMK SRITANJUNG


Dalam Kegiatan vaksinasi ini Siswa juga diwajibkan memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak, agar dapat mengurangi penyebaran virus. Vaksinasi ini bertujuan untuk memberi perlindungan agar tidak tertular atau sakit berat akibat COVID-19 dengan cara menimbulkan atau menstimulasi kekebalan spesifik dalam tubuh dengan pemberian vaksin.


Jenis vaksin yang disuntikkan  kepada siswa siswi adalah Vaksin Sinovac. Vaksin Sinovac adalah vaksin yang diproduksi oleh Sinovac/China National Pharmaceutical Group. Vaksin Sinovac merupakan vaksin yang dibuat menggunakan virus yang telah dilemahkan atau inactivated virus. Vaksin ini dibuat menggunakan virus SARS-CoV-2 yang telah dilemahkan atau dibuat tidak aktif. Cara tersebut bertujuan agar vaksin tidak dapat menyebabkan penyakit tetapi tetap mampu memicu sistem kekebalan tubuh untuk membentuk antibodi terhadap virus tersebut.

Kepala MAN 1 Banyuwangi H. Saeroji mengucapkan terima kasih atas kepercayaan semua pihak yang menjadikan MAN 1 Banyuwangi sebagai tempat vaksin dari beberapa sekolah. hal ini dengan mengingat aula yang representatif untuk kegiatan dimaksud. "aula ini kita siapkan untuk semua kegiatan, baik kegiatan madrasah maupun kegiatan sosial lainnya" ungkapnya.

Kapolresta Banyuwangi memberikan motivasi kepada para siswa agar tidak takut untuk di vaksin, dan berpesan agar siswa selalu mentaati protokol Kesehatan. "Kerjasama yang baik dengan Madrasah akan terus kita lakukan" ungkapnya.

Sementara itu Kapolsekta Banyuwangi Kusmin menyampaikan bahwa MAN 1 Banyuwangi sangat representatif untuk kegiatan, terlebih dengan aula yang luas dan bersih, serta terjaribgverat hubungan emosional pihak madrasah dan komite sekolah dengan instansi terkait. (Staf)

Klik videonya di

Video

https://youtu.be/94hrWSfwkEQ